Mencontoh Gaya Hidup Sehat Rasulullah

Lpmarena.com, Rangkaian kegiatan seminar bertema “Kesehatan ala Rasulullah” digelar di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Sabtu (8/2) dari pukul 09.00-15.30 WIB. Seminar ini menghadirkan empat pemateri,  Fadhlan Adham Hasyim (Ketua Umum Asosiasi Ruqyah Syar’iyah Indonesia), Sagiran (Dokter, Penulis dan Dosen), Khamidinal (Dosen) dan Zaidul Akbar (direktur Institut Thibbun Nabawi (INTI) dan dokter herbal).

Fadhlan Adham Hasyim menyampaikan materi tentang sehat dan hebat dengan ruqyah syar’iyyah. “Al Qur’an adalah obat semua penyalit psikis dan fisik, di dunia dan akhirat. Rasulullah saja dahulu pernah di-ruqyah oleh malaikat Jibril dan istrinya Aisyah RA. Namun, banyak orang yang tidak percaya dengan terapi Al Qur’an ini karena tidak berdasar pada penelitian ilmiah,” ungkap Zaidul Akbar.

Lebih lanjut ia menjelaskan  bahwa suara manusia membawa irama rohani yang khas dan dijadikan sebagai penyembuh. Selain melalui ayat Al Qur’an yang dibacakan kepada orang yang sakit, metode terapi ruqyah sendiri bisa lewat air, sentuhan, dan metode holistik yang modern.

Sangiran dalam seminar tersebut menyampaikan materi diet dan langsing secara Islami. “Dari empat orang Indonesia sekarang ini, satu diantaranya menderita obesitas,” tutur Sangiran. Kemudian ia menceritakan kisah pribadinya yang dahulu memiliki berat badan 97 kg dalam lima bulan berubah menjadi 72 kg.

Sementara Khamidinal yang memiliki latar belakang dosen kimia UIN Suka lebih banyak membahas tentang bahan kimia pada makanan. “Bahan kimia itu muncul pada produk-produk berupa pemanis, pengawet, penyedap, pupuk, dan polusi. Tempat akumulasinya ada di darah, ginjal, bawah kulit, lambung, dan hati. Dan akan dikeluarkan melalui keringat, buang air besar, buang air kecil, muntah, ingusan, bekam, dan metode detoksifikasi lainnya,” jelasnya pada peserta seminar.

Zaidul Akbar, menyampaikan materi di sesi terakhir. “Seumur hidup, Rasulullah hanya sakit dua kali, karena beliau sangat memperhatikan apa yang ia makan. Manusia diciptakan Allah dari tanah yang sifatnya menyerap, beda dengan air yang melarutan. Kondisi ini memberikan beberapa keuntungan, jika manusia teracun, ia tidak tiba-tiba mati, atau saat tubuh manusia terkontaminasi dengan makanan-makanan sampah dampak yang ditimbulkan tidak serta merta, tetapi akan terakumulasi di kemudian hari,” tukasnya. (Isma swastiningrum)

 

Editor : Ulfatul F.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of