Home - Mahasiswa Minta Gerbang Fakultas Ushuluddin Dibuka

Mahasiswa Minta Gerbang Fakultas Ushuluddin Dibuka

by lpm_arena
Print Friendly, PDF & Email
Pintu gerbang depan fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam yang ditutup.

Pintu gerbang depan fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam yang ditutup.

Mahasisiwa yang berjalan kaki ingin pintu itu dibuka sedikit untuk menghemat waktu.

lpmarena.com, Mahasiswa pejalan kaki yang tinggal di daerah Papringan, Gowok, dan sekitar jalan Solo mengeluhkan keberadaan pintu gerbang depan fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUSPI) yang selalu tertutup. Beberapa mahasiswa yang mengeluh adalah mahasiswa fakultas Dakwah dan Komunikasi serta mahasiswa FUSPI.

Hasryani Mahmud, mahasiswa Aqidah dan Filsafat yang mengeluhkan tentang hal itu. “Waktu yang efektif jadi terbuang cuma untuk muter. Kalau ini dibuka, lebih mempersingkat waktu,“ tutur mahasiswa semester  8 yang kos di sekitar Jalan Solo ini. “Pengguna motor pun sebenarnya ingin gerbang ini dibuka,” tambahnya.

Hal senada diungkapakan oleh Toyibahtul Mar’ah. “Waktu jadi terbuang-buang, apalagi pas buru-buru,” ungkap mahasiswa jurusan Manajemen Dakwah (MD) semester VI yang kos di daerah Papringan ini.

Lebih lanjut ia mengungkapkan keinginannya untuk gerbang tersebut dibuka. “Dibuka sedikit biar bisa dilewati pejalan kaki. Seperti di depan Pascasarjana.”

Naim Abror, mahasiswa Perbandingan Agama (PA) semester II juga mengeluhkan hal itu. “Kalau lewat gerbang sana itu (gerbang depan Multy purpose, red) kejauhan. Emang sih kalau untuk kendaraan memacetkan. Tapi, untuk apa gerbang sebesar ini kalau nggak dibuka? Lagipula anak ushuludiin kosnya ada yang jauh,” ungkapnya menyayangkan.

Saat dikonfirmasi ke Kepala Sub Bagian (kasubag) Keamanan dan Ketertiban, Heri Siswanto menjelaskan jika pintu gerbang itu sudah berpuluh tahun ditutup. Bahkan sejak gedung  universitas yang baru dibangun. Pintu itu digunakan hanya untuk keadaan darurat seperti kebakaran. Alasan lain tidak dibukanya gerbang itu karena maraknya kemacetan lalu lintas serta kasus pencurian.

“Kalau pintu itu dibuka, jalur lalu lintas yang dari kiri itu pasti mengganggu, belum lagi kalau ada pencurian. Orang bisa lebih cepat lewat gerbang itu, soalnya di gerbang itu tidak ada pos keamanannya, beda dengan pascasarjana yang dekat dengan pos keamanan,” terangnya.

Heri Siswanto kemudian berpesan kepada mahasiswa, “Mahasiswa maunya tidak ada aturan. Maunya kalau ke kampus naik motor, parkir se-enaknya, terus langsung duduk kuliah. Diisilah kantong-kantong parkir di UIN ini”. (Isma Swastiningrum)

 

Editor : Ulfatul F