Home - Budiman Sudjatmiko : Indonesia Butuh Manusia Politik, Bukan Politikus

Budiman Sudjatmiko : Indonesia Butuh Manusia Politik, Bukan Politikus

by lpm_arena
Print Friendly, PDF & Email

Manusia politik akan membawa Indonesia kearah yang lebih baik

lpmarena.com, Sabtu (15/03), bertempat di Teatrikal Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suka acara bedah buku Anak-anak Revolusi digelar. Hadir dalam acara tersebut Budiman Sudjatmiko (Penulis buku Anak-anak Revolusi), Eko Prasetyo (Social Movement Institut) dan Abdur Rozaki (selaku peneliti IRE/aktivis 98) sebagai pembicara.

Dalam acara yang dimulai jam 13.00 WIB ini, Budiman mengatakan, dirinya benci terhadap politikus. Menurutnya, banyak politikus yang hanya memiliki kekuasaan namun miskin ide untuk menjadikan Indonesia lebih baik. “Banyak politikus yang hanya berkuasa, rencana ke depannya gak ada. Saya benci politikus.”

Ia menjelaskan bahwa untuk mengubah Indonesia, seseorang tidak harus menjadi politikus, namun bisa menjadi manusia politik. “Kalo ingin rubah Indonesia jangan jadi politikus tapi jadi manusia politik,” lanjut Budiman.

Dalam bukunya, Budiman mengatakan ada lima syarat untuk menjadi manusia politik. Pertama, punya ide. Manusia politik harus punya ide 100 tahun lagi Indonesia mau jadi apa? Kedua, Punya empati. Manusia politik sering berinteraksi dengan publik (masyarakat). Ketiga, Punya tradisi berorganisasi/berpartai. Kalau Anda mahasiswa, berorganisasilah. Kalau Anda buruh, berserikat buruhlah. Keempat, Punya hasrat berkuasa. Karena berkuasa itu penting, manusia politik harus berani bersikap. Kelima, Punya kemampuan retorika, baik tulisan mau pun tulisan, yang baik dari segi substansi, indah dalam segi bentuk.

Di sisi lain, Eko Prasetyo menilai buku ini adalah kristalisasi dari masa kecil penulis yang luar biasa dan pengalaman-pengalaman organisasi penulis saat mahasiswa yang tumbuh subur. Bagaimana suasana ideologi saat itu membentuk Budiman di lingkungan yang dinamikanya tinggi dengan pertaruhan intelektual yang kaya. “Buku ini memberikan peta bagaimana membangun perlawanan, Sekarang dinamika nggak muncul, gerakan saat ini sunyi. Agendanya, diskusi, pelantikan, diskusi lagi, pelantikan lagi. Persoalannya sekarang akan kemanakah menjawab kegelisahan itu?” ujar Eko.

Berbeda dengan Eko, Abdur Rozaki mengkritisi tentang sekat-sekat yang dibentuk oleh kampus dan aktivis sendiri. “IAIN, UII, UGM, dulu tidak ada tembok pemisah. Siapa mahasiswa IAIN, UII, UGM. Mereka disatukan kegelisahan yang sama. Tapi sekarang, sekat tidak hanya dari rezim kampus tetapi juga aktivis mahasiswanya sendiri. Ini bahaya.” ucapnya. Ia menambahkan jika aktivis adalah orang-orang yang bisa mengorganisasi rakyat, “Jangan mengaku aktivis kalau belum bisa mengorganisasi rakyat”.

Kemudian acara berakhir pada jam 15.30 WIB dengan dibacakannya puisi W.S Rendra, Sajak Sebatang Lisong oleh Selendang Sulaiman. (Isma Swastiningrum dan Rifa’i Asyhari)

 

Editor : Ulfatul Fikriyah