Akar Pendidikan (Menggagas Revolusi Pendidikan – Bagian II)

Oleh Ahmad Taufiq*

 

Berhematlah dalam hal apapun, kecuali dalam pendidikan.

(VI Lenin)

I

Dalam tulisan sebelumnya (Baca “Menggagas Revolusi Pendidikan [bagian 1]”) kita sudah membahas fenomena-fenomena dalam dunia pendidikan di Indonesia khususnya. Mulai dari komodifikasi pendidikan, ketidakmerataan dalam dunia pendidikan, stratifikasi pendidikan berdasarkan biaya, pendidikan yang memisahkan peserta didik dari realitas objektif dan seterusnya, sampai pada sebuah andaian tentang revolusi sosial yang menjadikan gagasan revolusi pendidikan sebagai pintu masuk.

Sesungguhnya, banyak sekali kritik kawan-kawan mengenai pendidikan yang ada saat ini. Tapi bagi saya, kebanyakan kritik yang ada hanya sebatas kritik berbasis idealisme. Seperti halnya kawan saya yang mengkritik bahwa pendidikan yang seharusnya dijadikan wahana untuk memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan, malah dijadikan pendidikan bertujuan kerja. Ini menyalahi khittoh dari pendidikan itu sendiri. Itu menyalahi moral, menyalahi kemanusiaan. Karenanya harus dibongkar, direvolusi!

Pertanyaan saya, sejak kapan pendidikan mempunyai khittoh? Siapa yang menggulirkan khittoh? Seperti apa kemanusiaan dan moral itu? Mengapa gagasan kemanusiaan ada? Dari mana datangnya moral? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang antri untuk dijawab. Sehingga, bisa saya katakan bahwa kritik atas dunia pendidikan yang berbasis pada idealisme akan dengan sendirinya menemui kegagalan. Dari hal tersebutlah catatan ini saya tulis, yaitu tentang menelisik akar pendidikan itu sendiri.

II

Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makan-minum. Tidak bakal ada manusia bisa bertahan sampai saat ini tanpa berkembang biak. Ya, itulah persyaratan keberadaan manusia hingga saat ini.Proses mendapatkan makan dan minum bisa diperoleh dari alam. Tapi manusia tidak seperti hewan yang bisa langsung menyatu dengan alam. Manusia tidak bisa langsung makan rumput seperti sapi, atau makan lumut seperti keong. Intinya, tubuh manusia tidak bisa seperti hewan yang siap memangsa. Tapi manusia punya kemampuan untuk memanfaatkan alam yang tujuannya untuk menangkap mangsa atau mengolah alam untuk memenuhi kebutuhannya. Itulah yang disebut alat kerja. Sementara kerjanya disebut kerja produksi, yaitu kerja manusia mengolah alam untuk memenuhi kebutuhannya.

Sadar atas keterbatasan individu dalam pemenuhan kebutuhannya itu kemudian manusia melakukan kerjasama. Apakah bentuk kerjasamanya seperti ramai-ramai menangkap binatang atau dengan bagi-bagi tugas. Misal, harus ada yang berburu cempe, ada yang meramu tumbuhan, ada yang penunjuk jalan. Itulah yang dikenal dengan pembagian kerja (division of labour). Sementara pengaturan pembagian kerja itulah yang menjadi syarat mutlak adanya masyarakat. Ya, dalam proses kerja itulah manusia berdialektika dengan alam. Juga dalam kerja manusia bersosialisasi. Alat-alat kerja adalah hasil dari dialektika manusia dengan alam, juga dengan manusia lain.

Baca juga  Pelajar Indonesia di Tengah Derivasi Pendidikan Formalistik

Dari dialektika itu, alat-alat kerja manusia dari tahun ke tahun selalu saja mengalami perkembangan dari generasi ke generasi. Begitu pula perkembangan pengetahuannya. Perkembangan teknologi menopang perkembangan kebudayaan masyarakat.

Penggunaan alat-alat kerja atau teknologi untuk mengolah alam, sekaligus bagaimana manusia mampu bersosialisasi, inilah wilayah pendidikan. Maka bisa dikatakan bahwa akar pendidikan adalah pembekalan manusia untuk kerja-kerja mempertahankan hidupnya. Karena manusia hanya bisa bertahan dalam bentuk masyarakat, maka pendidikan sangat terkait dengan hubungan kerja manusia sebagai masyarakat. Sehingga keberadaan pendidikan bertopang pada bagaimana alat-alat produksi dan hubungan produksi yang ada di masyarakat. Pendidikan dalam masyarakat dengan corak produksi agraris, akan bersifat agraris. Begitu pula bagi masyarakat yang hidup dari laut, pendidikannya akan bernuansa kelautan. Maka, dari sini bisa kita katakan bahwa pendidikan selalu bertopang pada sistem ekonomi politik yang ada.

Alat-alat produksi masyarakat sifatnya sangat dinamis. Inovasi dalam ranah teknologi terus saja berlangsung, bahkan perkembangannya sangat pesat.  Hal tersebut tentu berpengaruh dalam hal pendidikan. Tidak ada sekolah tentang perkeretaapian sebelum ditemukan kereta api. Perkembangan sekolah tentang teknologi informasi atau IT, tentu akan mengikuti perkembangan IT itu sendiri.

Hal ini berbeda dengan hubungan produksi masyarakat yang sifatnya statis atau konservatif. Hal ini disebabkan orang-orang yang sudah terlanjur menikmati sistem yang ada, tentu adalah orang yang diuntungkan oleh sistem, akan dengan keras mempertahankan status quo. Merekalah yang disebut kelas elit dominan, sebab merekalah yang menguasai alat produksi, dan akan mempertahankan kepemilikan alat produksi itu dengan berbagai cara, dalam berbagai sektor. Salah satunya adalah sektor pendidikan.

Maka, pendidikan menjadi tidak netral, sebab selalu saja ada kepentingan kelas elit agar pendidikan menjadi protagonis terhadap sistem sosial yang sudah berjalan dan menguntungkan mereka. Kita bisa melihat pendidikan yang ada saat ini, yang tujuannya adalah mereproduksi kondisi produksi yang ada dalam masyarakat. Ya, singkatnya, ada penindasan dalam pendidikan, dan melalui pendidikan penindasan itu dilanggengkan.

III

Baca juga  Literasi dan Radikalisme

Hari ini, pelanggengan penindasan dalam dunia pendidikan kita dapati bahwa pendidikan yang ada bertujuan mereproduksi kondisi produksi kapitalisme. Kaum kapitalis mengiginkan tenaga kerja untuk pabriknya, pendidikan menyediakan hal itu. Kapitalis menghendaki adanya legitimasi atas kepemilikan pribadi, pendidikan menyediakan calon-calon ahli hukum yang bakal melegalkan hukum kepemilikan dan mempertahankannya. Kaum kapitalis menghendaki norma-norma sosial yang mendudung kepentingannya, pendidikan mengajarkan norma-norma dan juga tradisi-tradisi yang harus dijaga yang mendukung kepentingannya. Dan begitu seterusnya. Intinya, meminjam Althusser, bahwa pendidikan adalah institusi yang berfungsi sebagai State Ideological Apparatus (SIA). SIA bergerak di ranah kesadaran masyarakat agar dominasi kelas kapitalis tidak goyah. Agar kesadaran kelas bawah tetap pada kesadaran parsial, bukan kesadaran yang berlandaskan kenyataan bahwa mereka kelas bawah. Inilah yang oleh Marx disebut a false consiousness.

Saya menganggap bahwa kritikan kawan-kawan dalam ranah pendidikan menjadi buntu akibat tidak memahami akar pendidikan itu sendiri. Kritik yang dibangun berdasarkan idealisme, masuk dalam kategori kritik yang sifatnya ideologis. Dan itu tidak bakal merombak apa-apa selain mengumpati kenyataan belaka.[]

Kamar Merah, 27 April 2014

 

Referensi:

Marx, Karl. 2004. Kapital: Buku I. Jakarta: Hasta Mitra dan Ultimus.

Althusser, Louis. 2005. Tentang Ideologi: Marxisme, Strukturalisme, Psikoanalisis, Cultural Studies. Yogyakarta: Jalasutra.

Illich, Ivan. 1971. Deschooling Society. Minneapolis-St Paul: Consortium Book Sales & Dist.

Freire, Paulo. 2008. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta: LP3ES.

Jacques Ranciere, 1991. The Ignorant Schoolmaster. St. Redwood City: Stanford University Press.

 

doc.pribadi
doc.pribadi

 

*Penulis saat ini masih Koordinator PSDM LPM ARENA

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of

Send this to a friend