Home - Untuk Arena : “Kesadaran Jagad”

Untuk Arena : “Kesadaran Jagad”

by lpm_arena
Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Chusnul Chotimah

Jika ada yang mempertanyakan siapa kita, saya yakin kita akan dengan mudahnya menjawab “Ya kita Arena,” tanpa disertai dengan pikir panjang melelahkan. Meski begitu, kita pun patut untuk kembali bertanya kepada diri kita masing-masing, “benarkah saya Arena?” Lalu Arena yang bagaimana yang benar-benar Arena? Atau kalau saya menganggap saya Arena, dasar apa yang bisa menjustifikasi pernyataan saya Arena? Apakah hanya sekedar kepemilikan kartu pers semata, yang untuk mendapatkannya harus melampaui semacam ritual ke-Arena-an plus syahadat-syahadatnya kala up-grading? Ataukah ada hal lain yang lebih mampu menjustifikasi keber-Arena-an kita, tendensi berideologi misalnya, atau seperti apa?

Banyak kata-kata yang belingsatan ingin segera merangkai jawab sebenarnya. Namun biarlah jawaban itu saya kantongi sendiri. Biarlah kawan-kawan menemukan jawaban dengan caranya. Berbeda sudah barang tentu sebab masing-masing otak memiliki latar belakang historis yang berbeda. Namun satu hal, bahwa kita terikat oleh benang merah yang sama bernama Arena dengan segala hal yang menyerupanya.

Barangkali telinga kita sudah terlalu bosan diperdengarkan kata sejarah. Sejarah Arena dari berdirinya hingga sekarang, yang ini itu dan sebagainya. Lalu kita cemas, seolah terjebak di antara romantisme masa lalu dan realitas saat ini. “Bahwa Arena saat ini sudah tak seperti Arena yang dahulu”, kata orang-orang di luar sana. Kemudian kita merasa terkalahkan oleh sejarah itu sendiri yang hadir berupa momok menakutkan. Tapi kenapa pula kita harus takut dengan bayangan sendiri jika kita telah berupaya untuk menyejajarinya?

Jika kita berbeda maka bukanlah salah kita kawan, sebab tiap generasi adalah milik zamannya masing-masing. Bahwa kita terkondisikan untuk menjadi seperti apa kita saat ini tanpa berkhianat terhadap swadharma pers mahasiswa dan kesejatian diri. Kita telah melangkah kawan, jadi mari kita beriring jalan sembari bergandeng tangan. Karena dengan itu, kita tak akan lagi bertengkar dengan bayang-bayang untuk menentukan siapa yang berada di depan. Salam.

 

Kamar Kost, 02.54 dini hari.