Setumpuk Masalah Untuk Rezim Baru

Gus Sholah ketika diskusi Publik, Sabtu (30/08).
Gus Sholah ketika diskusi Publik, Sabtu (30/08).

lpmarena.com,Pemilu 2014 telah usai, penguasa baru akan datang dengan semua kelebihan dan kekurangan. Dalam rangka menyambut semangat pembaruan kekuasaan baru, Social Movement Institute (SMI) bekerja sama dengan Senat Mahasiswa UIN Suka (Sema-U) dan Tribun Forum mengadakan diskusi publik dengan tema Menatap Masa Depan Sebuah Rezim, Sabtu pagi (30/8). Acara dilaksanakan di Gedung Teatrikal Perpustakaan UIN Suka dan menghadirkan pembicara Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) selaku tokoh nasional dan Eko Prasetyo dari SMI.

Untuk rezim ke depan, Gus Sholah menginginkan adanya kepastian hukum di Indonesia. “Kalau masalah hukum diselesaikan, otomatis ekonomi tumbuh. Jika ekonomi tumbuh maka akan tumbuh masyarakat produktif. Dari itu kepastian hukum diperlukan,” kata Gus Sholah. Ia mencontohkan tentang kasus anak Hatta Rajasa yang memberi indikasi tumpulnya hukum. Hukum kalah oleh uang, kekuasaan, dan tekanan massa.

Mengenai masalah budaya hukum sendiri.Gus Sholah mencontohkan, saat Anda naik motor jam dua belas malam dan rambu lalu lintas berwarna merah, apa yang Anda lakukan? Berhenti atau melaju? “Ada yang lebih tinggi daripada hukum, yaitu etika,” tambahnya.

Lalu tentang masalah pendidikan yang dikritik dari pendidikan di Indonesia menurut Gus Sholah adalah tentang banyaknya sekolah swasta yang terabaikan, kesejahteraan guru, mutu guru, dan kurangnya pemerataan pendidikan. Ia juga menyinggung tentang dualisme pendidikan di Indonesia. “Lembaga pendidikan tertua di Indonesia adalah pesantren. Terjadi dualisme, pesantren yang ikut kementerian agama dan pendidikan umum yang masuk Kemendikbud. Seolah salah satu dianaktirikan. Kita harus memahami dualisme tersebut dan mempertemukannya,” ucap Gus Sholah yang juga pengasuh di Ponpes Tebuireng ini.

Sementara, Eko Prsetyo berujar, Indonesia membutuhkan rezim yang banyak kerja. “Tindakan sederhana membuat orang percaya. Jadilah pemerintah yang bekerja, bukan berjanji,” ucapnya.

Baca juga  Berguru dari Seorang Gelandangan

“Pergantian rezim baru memakan energi dan tenaga. Jokowi-JK telah ditetapkan KPU sebagai yang terpilih. Bagimana rezim baru ini memberi tanggapan?” ungkap Romel Masykuri, ketua Sema-U saat memberi sambutan. (Isma Swastiningrum)

 

Editor : Ulfatul Fikriyah

Komentar

komentar

Related posts

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of