Riwayat Mata Hati

Dayu,

Pelangiku satu warna. Ia kuning. Seperti warna cempaka yang selalu kau kenakan di kupingmu. Atau selendang yang menghiasi tubuhmu dalam tiap tarimu. Dan aku di sini menikmati. Kau yang pelangi.

Langitku bukan biru, dayu. Apalagi ungu. Ia hitam, meski tak kelam. Tapi hitamku adalah terang. Seperti terangnya ketiadaan. Terangnya arti kehilangan. Dan hilang adalah indah yang terbang.

Noktahku seribu, dayu. Seperti semestaku yang beribu. Dan kesemuanya penuh namamu. Coba kau bolak-balik, kau hanya akan menemukanmu. Tapi, aku menggigil di sini. Menikmati sepinya mimpi. Dan bulan yang mati.

Kau tahu, wangiku adalah lelehan darahmu. Darah yang menghitam sebab rinduku berubah jelaga. Dan matiku adalah rohmu. Riwayat lautan yang kau rajut dalam lukismu.

Lagu-lagu, warna-warna, nada-nada, terlanjur melebur bersama lumpur berabad silam. Lalu di dadamu, aku pergi. Menungguimu yang kini jadi abadi.

Kuta, 20/6/14

 

Oleh: A Taufiq

Penulis sedang terkubur oleh lubang tanah yang digalinya sendiri. Menunggu waktu bersemi untuk jadi pohon. Sesuai cita-citanya masa kanak-kanak. Ia lupa cara jadi manusia.

Baca juga  Puisi- Puisi Azhi: Anomali

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of

Send this to a friend