Tiga Pertanyaan untuk Bangsa Indonesia

Suasana diskusi dan bedah buku “Jalan Kemandirian Bngsa untuk Indonesia Berdaulat, Berdikari dan Berbudaya,” Rabu (8/10)
Suasana diskusi dan bedah buku “Jalan Kemandirian Bngsa untuk Indonesia Berdaulat, Berdikari dan Berbudaya,” Rabu (8/10)

Lpmarena.com, “Setiap jawaban harus mengabdi pada pertanyaan. Oleh karena itu, sebelum kita mengajukan jawaban, harus jelas dulu pertanyaannya.” Inilah kalimat yang diungkapkan Dadang Juliantara (Steering Committe Seknas Jokowi-JK) dalam diskusi dan bedah buku “JALAN KEMANDIRIAN BANGSA untuk Indonesia Berdaulat, Berdikari dan Berbudaya.” Acara ini berlangsung pukul 08.30 di Ruang Interaktif fakultas Ilmu sosial dan Humaniora, Rabu (8/10). Hadir sebagai moderator, Resar Anias Putra.

Dadang, pembicara pertama berujar ada tiga soal untuk bangsa Indonesia yang sangat serius untuk dibicarakan. “Kekuasaan negara tidak diselenggarakan sesuai dengan maksud diadakannya,” ungkapnya membuka soal pertama.

“Contohnya korupsi. Tapi korupsi sebenarnya bukan masalah hukum tapi masalah kekuasaan. Ia mendapatkan lebih dari apa yang dia hasilkan,” tambahnya.

Ia melanjutkan pada soal kedua. Indonesia dengan jumlah penduduk dipandang oleh Bangsa lain memiliki potensi besar untuk pasar. Barang apa saja dijual di Indonesia pasti laku. Namun yang terjadi di Indonesia jumlah penduduk yang banyak palah menjadi masalah. “Sehingga manusia yang jumlah besar tidak menjadi kekuatan, palah menjadi beban,” terangnya.

Indonesia juga dikenal dengan kekayaan alam yang sangat banyak. Soal ketiga yang dilontarkan Dadang kemudian, “kita punya kekayaan alam yang demikian banyak, tetapi kita mendapat terlalu sedikit dari yang kita punya.”

Lebih lanjut ia menilai bahwa ini terjadi karena kendali untuk mengolah alam di Indonesia tidak dipegang oleh bangsa Indonesia sendiri, melainkan oleh Bangsa lain. “Kendali tidak di tangan kita. Bangsa yang tidak mandiri, ketergantungan pada orang lain”

Setelah pemaparan Dadang selaku penulis selesai, dilanjutkan dengan pembicara kedua, Ahmad Anfasul Maram (Cendekiawan muda Yogyakarta). Ia mempertanyakan dampak buku tersebut terhadap soal-soal yang dipaparkan oleh penulis. “Tetapi kita perlu melihat bahwa buku ini memiliki efek apa dengan pertanyaan kemandirian itu? Ini tidak bisa dilihat sekarang. Lima tahun itu terlalu cepat. Lima tahun jokowi memimpin, emm enggak juga. Saya rasa lebih. Saya katakan 2020. Kalau efek dari buku ini tidak kemudian memberikan jawaban atas kegelisahan kemandirian ini, lah ini persoalan,” pungkasnya.

Baca juga  Menyoal Nasib Kesejahteraan Indonesia

Acara diskusi dan bedah buku yang diadakan oleh BEM PS Sosiologi ini dibarengi dengan bazar buku yang berlangsung hingga Kamis, (9/10). (Ulfatul Fikriyah)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of