Lelaki Cantik dan Secangkir Kopi

Oleh: Dhedhe Lotus

 

Ada kala, sebuah tempat terasa begitu nikmat karena orang-orangnya. Tempat yang mampu memberikan kehadiran di mana orang-orang merelakan waktunya. Sebagaimana aku dan orang-orang lakukan hampir tiap hari. Di sini, di warung kopi.

Sebuah tempat dengan dinding bambu berwarna cokelat, bahkan lantainya masih berupa tanah yang diberi banyak batu-batu kecil. Jika siang hari, suasana terasa begitu adem, sebab angin sepoi bertiup lembut dari sawah buritan. Tempat ini tidak terlalu luas memang, tapi tak pernah ada meja dan kursi yang menganggur. Aku sendiri tidak pernah ngopi di tempat lain seandainya tidak terpaksa. Alasannya, karena ngopi tidak hanya masalah cita rasa, tapi juga bagaimana kita bisa menyatu dan dihadirkan di sebuah tempat. Seperti kali ini, di warung kopi.

***

Sudah aku katakan, di warung kopi ini tidak pernah ada meja dan kursi yang menganggur, selalu ramai dan penuh, tapi sebenarnya ada satu tempat yang alpa untuk disebut tempat. Sebuah meja dan dua buah kursi usang di belakang dapur menghadap sawah dikelilingi semak belukar. Tak ada yang istimewa selain sosok lelaki cantik menyeruput cappucino di sana, semacam ada memori lain yang ingin ia kabarkan.

Kulitnya bersih, berwajah oval dengan muka yang selalu murung. Ia suka mengenakan kemeja, memakai jam tangan dan bercelana panjang, juga sebuah tas jinjing yang tak pernah luput ia kenakan. Tapi cara ia berjalan sedikit gemulai, terasa ada sesuatu yang berbeda. Ia selalu datang pukul tiga sore dan pulang sebelum gelap. Seminggu sekali, kadang Sabtu, kadang Minggu.

Entah sudah berapa lama lelaki itu duduk di sana. Diam. Seperti menikmati kesunyian yang telah lama ia cari. Sesekali ia melirik jam tangan, mungkin sekedar memastikan berapa lama sebenarnya ia telah menghabiskan waktu di sana. Biasanya, tak lama setelah itu ia akan bergegas memberesi barang-barangnya lalu pergi. Hal yang sama dengan yang ia lakukan minggu kemarin dan kemarinnya lagi.

Berawal dari ketidaksengajaan ketika aku ke kamar mandi yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempatnya berdiam. Lama aku melihat dan mengawasi gerak-geriknya yang ganjil. Namun lama-lama aku menikmati pemandangan itu dan mulai ketagihan dengan kehadirannya. Pernah satu minggu ia tak datang, aku cemas, merasa kehilangan. Sabtu tak datang, aku fikir ia akan datang Minggu, namun Minggu yang kutunggu berlalu begitu saja. Nampaknya ia lupa.

Ia hanya memesan satu cangkir capucino panas. Tak ada cemilan atau makanan lain yang ia pesan, sepertinya tak ada menu yang menggoda. Pernah aku memergokinya memesan kopi hitam manis. Setelah dihidangkan, ia melihat kopi itu dengan tatapan aneh, tangannya menyentuh dan mendekatkan ke mulut, “cuihh” ia tersedak dan kemudian ia muntahkan apa yang barusan ia telan. Mungkin rasanya seperti minum kopi dengan rasa garam. Aneh dan memuakkan. Dan ia pulang, meninggalkan secangkir kopi kekecewaan.

Baca juga  Bila Kopi Berbicara

Penasaranku kian mengkristal hingga aku mencoba melakukan apa yang ia lakukan. Menyepi, menikmati sore yang hangat dengan secangkir kopi kesukaan. Tentu, di tempat tak layak yang selalu ia singgahi.

Ada perasaan lain. Biasanya aku ngopi di depan bersama para maniak kopi dengan  selingan nyete atau gaple, tapi kemudian pelan-pelan aku kurangi. Dan seolah dunia mengamini tempat itu sebagai tempat kita berdua, tak ada lagi manusia lain yang sudi nongkrong di situ apalagi untuk berdiam sendiri berlama-lama -tak ada yang istimewa, seperti yang aku fikirkan sebelumnya. Tempat yang aku sebut-sebut tak layak itu akhirnya menjadi tempat istimewa untukku.

***

Sabtu sore, aku fikir ia memang tak datang. Sebab hingga pukul empat wajahnya tak kunjung nampak. Dan aku lancang menduduki tempatnya. Namun 20 menit berlalu, siapa sangka ia hadir di depan mata. Masih dengan style yang sama; kemeja putih, celana panjang cream dan tas jinjing yang selalu ia kenakan. Sejenak setelah mata kita saling memandang, ia tetap membisu, tanpa sapa dan permisi untuk kemudian duduk di sebelahku.

Aku biarkan saja hal itu terjadi. Atau barangkali ia sudah mengetahui ihwalku yang sering mencuri intip. Ia duduk tenang di sampingku, menunggu pesanan datang dan kemudian memutar sebuah instrument lembut dari Chopin.

Anehnya, hal seperti itu tak hanya sekali dua kali terjadi, tapi terus berlanjut berulang kali. Kita sama-sama duduk berdiam di tempat yang sama dengan ditemani secangkir kopi dan music instrument yang ia putar dari Hp-nya, kadang terdengar alunan lembut Chopin, kadang Mozart, Keni, atau Beathoven. Jangan Tanya bagaimana perasaanku waktu itu, sebab akupun tak mampu menjelaskan. Yang terjadi kemudian kita selalu berada dalam kondisi dan tempat yang sama untuk kesekian kali. Seperti sebuah pertemuan yang sudah terjadwalkan.

Aku lupa minggu ke berapa setelah pertemuan yang seolah terjadwalkan itu, ia menghadap wajahku dan menatapku lekat. Aku benar-benar cemas, takut seandainya ia marah akan kehadiranku meski sebenarnya ia tiada berhak. Tapi nyatanya tidak ia lakukan. Ia tersenyum dan mengajakku berbincang banyak hal, tanpa sebuah perkenalan ataupun basa-basi sebagai orang yang tak pernah saling kenal.

Perbincangan yang sangat menarik untuk orang yang sebelumnya aku fikir tak normal. Tapi meski begitu, ia tetap konsisten dan mematuhi jadwal kunjungnya, ia tak segan-segan memotong pembicaraan kita di waktu obrolan sedang di puncak keasyikan, tapi terkadang ia berlalu begitu saja tanpa seucap kata pamit. Aku datang selalu lebih awal darinya dan aku juga yang selalu ia tinggalkan, sebab ia harus pulang sebelum hari benar-benar petang. Seperti Cinderella di negeri dongeng yang harus pulang tepat lonceng menunjukan angka nol-nol sedang aku menjadi pangerannya. Tapi tentu saja tidak.

Berkali-kali setelah percakapan itu, kita semakin karib dan intim dalam berkomunikasi. Pada saat itulah ia tak mampu lagi untuk tidak bercerita. Kisah hidupnya mengalir begitu saja, berparalel dengan bulir air mata yang pelan-pelan membasahi kemeja putih yang ia kenakan. Lelaki itu menangis hingga tersedu. Aku menatap matanya dalam, ada perbedaan yang tak bisa ia sembunyikan. Kekosongan yang selama ini nampak tak lagi terlihat. Entah apa yang membuatku terhanyut hingga benar-benar tak rela membiarkannya menangis. Tanganku tak terkendali untuk tidak menghapus air mata yang kian menderas, untuk tidak menyandarkan kepalanya di bahuku. Samar-samar, aku melihat ada kehangatan di wajahnya.

Baca juga  Secangkir Kopi dan Masa Kecil

***

Aku kembali ke rutinitasku. Ngopi, nyete dan gaple. Aku kembali, tapi tak benar-benar kembali. Ada bagian tubuhku yang hilang. Setelah percakapan paling mesra itu terjadi, ia tak pernah kembali. Tiap sabtu dan minggu aku tunggu, ia tak hadir. Berminggu-minggu hingga bulan, ia tetap alfa. Akhirnya rasa kehilangan itu menyublim seiring berjalannya waktu hingga tak terasa lagi.

Setelah sekian lama mengkeramatkan tempat itu, aku kembali memberanikan diri untuk duduk diatas kursi usang yang semakin dipenuhi ilalang, mencari sebersit kenangan yang masih tertinggal. Aku merasa masih ada yang belum terselesaikan.

Tempat ini memang selalu membuatku berkaca. Aku kembali diingatkan dengan kejadian setengah tahun yang lalu. Bagaimana aku tertarik dengan seorang lelaki yang bahkan hingga saat ini tak kuketahui nama dan asal-usulnya. Lelaki cantik nan gemulai yang selalu menampakkan wajah murung dan tatap mata kosong. Lelaki yang dengan tersedu mengisahkan ketidaknormalannya sebagai seorang gay yang baru ditinggal pasangannya bunuh diri. Dan banyak hal tentangnya benar-benar menghantui, memunculkan rasa kehilangan yang pernah kumiliki.

Di kursi ini, sesuatu pernah terjadi antara aku dan dia. Saat ia menangis dan aku menghapus air matanya, merangkul tubuh dan menyandarkan kepalanya pada bahuku. Lalu ketika mata kita saling beradu begitu mesra hingga kian mendekat, semakin mendekat, lalu akhirnya kita saling mengecup, saling mengulum begitu lembut.

Malam itu, untuk pertama kalinya ia tak pulang sebelum gelap dan setelah ciuman terlarang kita tunaikan, akulah yang kemudian mengakhiri semuanya. Seperti terjaga dari mimpi buruk, batinku menceracau tak menentu, benar-benar tak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi, satu hal terkonyol dalam hidup. Saat itu, ia masih bersandar di bahuku, tapi kemudian aku melepaskannya dengan paksa, ia terkejut dan hampir terjengkang dari kursi. Lalu dengan penuh amarah dan tanpa terucap satu katapun, aku meninggalkannya. Benar-benar merasa tolol dengan apa yang terjadi.

Tetapi kini, aku menyadari dan mengakui sepenuhnya. Sesuatu yang membuatnya pergi; ketaksanggupanku mengingkari semua. Sebelum senja benar-benar memuncak, aku putuskan untuk bergegas, membiarkan meja dan kursi-kursi kosong tak terisi, selain secangkir kopi.

 

Catatan:

Nyete, menggambar puntung rokok dengan ampas kopi

Gaple, semacam permainan kartu

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of