Gotong Royong Di Era Digitalisasi dan Privatisasi

Lpmarena.com, Gotong royong merupakan salah satu tradisi Indonesia. Memaknai ‘gotong royong’ dalam konteks saat ini khususnya bagi pemuda telah terjadi perubahan makna. Seperti yang diungkapkan budayawan, Ons Untoro dalam Sarasehan Peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-86, Minggu (9/10), di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara Yogyakarta.

“Yang menjadi persoalan kita di konteks gotong royong yang dilakukan oleh pemuda yang terbiasa dengan alat digital, bentuk gotong royongnya lain,” ucap Ons.

Sarasehan yang diselenggarakan oleh Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) ini mengusung tema “Semangat Gotong Royong Dalam Rangka Kebhinekaan”. Selain untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober lalu, juga untuk menyambut Hari Pahlawan.

Selain Ons Untoro, sarasehan ini mendatangkan dua pembicara lain, yakni, Widihasto Wasana Putra (ketua Sekber Keistimewaan Yogyakarta) juga Irvan Tengku Harja (ketua FPPI).

Gorong royong zaman dahulu berbeda dengan sekarang. Jika dahulu semangat perjuangan gotong royong itu terbuka, tetapi sekarang cenderung jika tujuan tidak terpenuhi akan marah. Ons mempertanyakan ketika melakukan gotong royong itu berangkat dari ketulusan atau motif? “Ketika memaknai gotong royong, satu hal yang penting bagi saya adalah ketulusan,” tuturnya.

Yogyakarta sendiri juga dibangun atas gotong royong yang dilakukan oleh pendatang. Banyak tokoh-tokoh, seniman, penulis yang membangun kota kebudayaan ini. “Jogja sendiri dibesarkan oleh pendatang yang namanya identik dengan Jogja. Seperti Umar Kayam dari Ngawi, Sindhunata dari Malang, atau Cak Nun dari Jombang,” kata Hasto.

Manusia Privat        

Pemuda dari masa ke masa membawa kontribusinya masing-masing. Pada tahun 1928 misalnya, jong-jong (pemuda-pemuda) nusantara memunculkan visi dan imajinasi yang luar biasa dalam sumpah pemuda. Di era digital ini, semangat jaman dahulu mulai terganti dengan era globalisasi–digitalisasi.

Baca juga  Mahasiswa Kawal Sidang Gugatan Buruh Jogja

Menurut Tengku, pasca runtuhnya Orde Baru, masyarakat mulai kebablasan. “Saya memakai gagasan Hannah Arendt. Dia bilang, tidak ada masyarakat ideal, tapi adanya masyarakat massa,” ucap aktivis yang juga duduk di Fisipol UMY ini.

Di masyarakat terjadi eksklusifisme dan pengkotak-kotakan. “Pengkotakan sekarang bukan lagi pengkotakan etnis, tapi pengkotakan makanan. Grupis dalam bentuk simbol, seperti motormu apa? Gadget-mu apa? Nongkrongmu dimana?” ujar Tengku.

Masyarakat individual membentuk orang-orang di dalamnya menjadi “manusia privat”. Yang dibangun atas dasar keakuan, bukan kekitaan. Orang lain hanya instrumen, zat mekanik yang tidak memiliki ruh. “Kita mengalami hyper realitas. Dalam interaksi langsung, kita digantikan oleh mesin digital,” kata Tengku.

Melihat realitas itu, Tengku mengatakan akan pentingnya sebuah ruang publik. Ruang yang digunakan untuk berkumpul, bergotong-royong, berkesadaran, berkarya, dan menghasilkan nilai baru. “Gotong royong bisa dimulai dari kesadaran melampaui ruang privatnya dengan membentuk ruang publik,” tambah Tengku.

Sikap Pemuda

Cara berpikir reflektif merupakan salah satu sikap yang menurut Ons harus dimiliki pemuda. Dan juga rasa tersinggungan yang ada di pemuda dan masyarakat harus dikelola. Misalkan saja saat marah-marah.

Ngamuk boleh, asal untuk dirinya sendiri dan tidak menganggu orang lain. Ngamuk-nya diekspresikan utnuk kegiatan positif,” kata Ons.

Ia mencontohkan kalau suka melukis, saat marah melukislah. Kalau suka puisi, jika marah menulislah puisi sebanyak-banyaknya.

Hasto juga membagi pemikirannya tentang apa-apa yang harus pemuda miliki di era sekarang ini. Ada lima poin penting yang ditawarkan Hasto:

  1. Pemuda harus melek sejarah, minimal sejarah bangsanya sendiri.
  2. Up to date terhadap perkembangan informasi/kebijakan terbaru. Implementasinya bagaimana? Karena dalam praktiknya akan berdampak pada kehidupan masyarakat sendiri.
  3. Semangat kerakyatan dan semangat republikan. Jika pemuda tidak memiliki semangat ini, pemuda akan menjadi borjuasi kecil yang suka menindas.
  4. Anak muda harus bisa membaur dengan semua kalangan masyarakat. Istilah Jawanya ajur ajer, pemuda bisa membaur, berelasi, bahkan bersenyawa dalam konteks apapun terhadap masyarakat tanpa harus kehilangan jati dirinya.
  5. Mengasah kemampuan leadership untuk menjadi pemimpin.
Baca juga  Wisanggeni

Pendeknya, Hasto berpesan agar pemuda mempunyai sifat entengan (ringan tangan). “Jadilah anak muda yang entengan dan punya pola pikir inklusif, terbuka, untuk bersama-sama membangun kebersamaan,” kata Hasto.

Sebagai penutup sarasehan, Hasto membacakan puisi Sutardji Calzoum Bachri berjudul Wahai Pemuda Mana Telurmu, yang bait pembukanya berbunyi: Apa gunanya merdeka/Kalau tak bertelur/Apa guna bebas/Kalau tak menetas?/ (Isma Swastiningrum)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of