Il Principe: Sebuah Risalah Politik

83349il-principe-sang-pangeran

Judul: Il Principe (Sang Pangeran)

Penulis: Niccolo Machiavelli

Penerbit: Narasi, 2008 (cetakan kedua)

ISBN: 978-979-168-079-0

Peresensi: Maman Suratman*

 

“Orang-orang besar tidak mencapai kebesaran mereka karena keuntungan,

namun karena kesempatan yang diberikan kepada mereka

dan yang mereka bentuk seuai dengan keinginan mereka.”

— Niccolo Machiavelli —

Sudah pada prinsipnya, manusia yang hendak meraih sesuatu harus dengan cara-cara tertentu. Cara-cara tersebut adalah alat baginya untuk bisa mencapai apa yang dikehendaki. Tanpanya, sebagaimana sejarah umat manusia memperlihatkan, semua tujuan manusia yang hendak diraih serasa mustahil dan sia-sia.

Sepanjang sejarah manusia, cara-cara yang dulu ditentukan dan taruhlah terbukti berhasil, terus berkembang sesuai perkembangan zaman yang ada; menyesuaikan ruang dan waktu. Sebagaimana orang meyakini, tak ada yang abadi selain tentang perubahan. Tak heran ketika cara-cara yang lahir untuk meraih satu tujuan yang sama, beragam bentuk dan coraknya. Dan satu-satunya yang dapat membantu seseorang untuk menentukan caranya sendiri-sendiri adalah dengan kemampuan membaca realitasnya secara menyeluruh.

Satu kisah dari Niccolo Machiavelli, seorang filsuf realistis, yang memberi cara-cara meraih tujuan sesuai konteks zaman yang ada. Dalam hal meraih tujuan sebuah Negara sebagai tujuan hidup bersama yang paling tinggi, Machiavelli menekankan seluruhnya kepada seorang pemimpin. Bahwa pemimpin yang baik, baginya, adalah pemimpin yang mampu membawa Negara yang dipimpinnya meraih tujuan-tujuan finalnya, yakni terselenggaranya ketertiban, keamanan, ketentraman, dan semua yang berhilir pada kesejahteraan warga Negara.

 

***

Lahir di Florence, Italia Utara, tahun 1469, Machiavelli tampil sebagai kontributor handal di bidang politik. Ajaran-ajarannya tentang bagaimana merebut, membangun, serta mempertahankan Negara dan kekuasaan—karyanya yang tersohor, yakni Il Principe (The Prince; Sang Pangeran atau Pemimpin)—begitu dikagumi sekaligus dikecam. Dikagumi karena kejujuran dan sikap-tindakannya yang realistis; dikecam karena jargonnya yang terkenal, yakni het doel heiling de middelen (menghalalkan segala cara dalam meraih suatu tujuan).

Dalam meraih tujuan Negara dengan penghalalan segala cara, Machiavelli sekaligus menekankan pada pentingnya mempertahankan kekuasaan seorang pemimpin. Hal ini yang kemudian semakin menjadikan dirinya dikenal sebagi penganjur sebuah kediktatoran dalam mengurus Negara. Tak heran ketika Michael H. Hart, penulis The 100 a Ranking of The Most Influential Persons in History, memasukkan Machiavelli sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh seantero jagat raya. Tak tanggung-tanggung ia mengklaim Il Principe sebagai “Buku Pedoman untuk Para Diktator”; di samping karena banyak para pemimpin besar dunia yang terbukti “meniru” gaya politik Machiavelli dalam Il Principe—konon, Napoleon enggan nyenyak tanpa Il Principe terselip di bantalnya; Hitler, Mussolini, Lenin, dan Stalin, juga dikabarkan berjaya berkat karya monumental ini

Terlepas dari pro-kontra atas pandangan Machiavelli dalam Il Principe, pada kesempatan ini, penulis hanya hendak menyuguhkan kembali ajaran-ajaran Machiavelli sebagai doktrin politik untuk para pemimpin. Di samping memberi pengetahuan tentang bagaimana Machiavelli menghendaki pengelolaan sebuah Negara, alasan lain yang tak kalah pentingnya untuk direspon adalah penyalahartian akan doktrin Machiavelli tersebut.

 

Negara dan Kekuasaan

Negara dan kekuasaan, dua elemen ini tidak boleh terpisahkan satu di antara yang lainnya. Ia bak sekeping mata uang yang sisi-sisinya saling mengisi dan melengkapi. Tanpa kekuasaan, sebuah Negara mustahil bisa diarahkan. Tanpa Negara, sebuah kekuasaan pun sulit untuk diterapkan. Karenanya, seseorang di mana ia hendak menjalankan kewajibannya sebagai seorang pemimpin, Negara dan kekuasaan harus dijalankan secara beriringan. Sembari merealisasikan tujuan Negara, seorang pemimpin diniscayakan untuk mempertahankan kekuasaannya sekaligus.

Dalam meraih tujuan Negara dan mempertahankan kekuasaan, seperti telah disebutkan di awal, segala cara bisa dimungkinkan, termasuk cara-cara licik dan tipu daya sekalipun. Sebagai contoh, Machiavelli menulis:

 

“…Membunuh sahabat seperjuangan, menghianati teman-teman sendiri, tidak memiliki iman, tidak memiliki rasa kasihan dan tidak memiliki agama; kesemua hal ini tidak dapat digolongkan tindakan yang bermoral, namun metode-metode ini dapat memberikan kekuatan, namun bukan kemuliaan…” (hlm. 67)

 

Ya, cara-cara licik dan tipu daya memang dimungkinkan dalam hal ini. Tetapi bukan berarti bahwa Machiavelli selamanya menghendaki cara-cara yang demikian. Dalam Il Principe, Machiavelli juga menuliskan bahwa hal yang paling mulia yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah kemampuan yang besar. Meskipun juga ada faktor-faktor lain seperti keberuntungan, entah keturunan raja, ningrat, atau warga sipil, yang bisa membuat seseorang menjadikan dirinya sebagai seorang pemimpin, seperti dalam kasus Francesco Sforza—Francesco awalnya adalah penduduk sipil sebelum diangkat menjadi Duke diMilan. Namun lagi-lagi, sejarah telah membuktikan bahwa faktor keberuntungan kurang terbukti dapat mempertahankan kekuasaan dengan baik dibanding faktor kemampuan yang dimiliki seorang pemimpin.

Baca juga  Nawacita dalam Diskursus Masyarakat Inklusi

Mereka yang menjadi penguasa tidak karena keberuntungan melainkan usaha keras (kemampuan) adalah mereka yang agung. Machiavelli mengambil contoh orang-orang besar karena kemampuan besarnya, seperti Musa, Cyrus, Romulus, Theseus, dan orang-orang besar lainnya:

 

“…Dan dalam menganalisa hidup dan perbuatan mereka, maka kita akan melihat bahwa orang-orang besar ini tidak mencapai kebesaran mereka karena keberuntungan, namun karena kesempatan yang diberikan kepada mereka dan yang mereka bentuk sesuai dengan keinginan mereka; tanpa kesempatan, kekuatan akan sia-sia, dan tanpa kekuatan, kesempatan hanya akan berakhir tanpa hasil.” (hlm. 47)

 

Sistem Wajib Militer dan Infanteri

Menjadi seorang pemimpin tentu meniscayakan suatu fondasi yang kuat. Bagi Machiavelli, fondasi paling utama yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah undang-undang yang bagus dan pasukan (tentara) yang kuat. Karena undang-undang yang bagus tidak akan terbentuk tanpa pasukan yang kuat, di mana pasukan yang kuat menentukan undang-undang yang bagus, maka Machiavelli cukup hanya menekankan pada aspek pasukannya tanpa membicarakan lebih lanjut soal undang-undang.

Sejatinya, pasukan dibentuk dengan tujuan melindungi Negara sekaligus kekuasaan seorang pemimpin. Karenanya, seorang pemimpin yang memiliki kemampuan besar harus bisa memilih pasukannya sendiri yang dianggap mampu menunaikan apa yang menjadi kewajibannya sebagai pasukan.

Tentang pasukan ini, Machiavelli membagi pasukan dalam beberapa jenis, berikut keunggulan dan kelemahan di masing-masingnya. Di antaranya jenis-jenis pasukan tersebut, yakni pasukan milik sendiri (berasal dari bawahan dan warga sipil), pasukan bantuan dan pasukan bayaran.

Dalam menjelaskan hal ini, Machiavelli banyak mengambil contoh dari kebijakan pemimpin-pemimpin sebelumnya. Dia mengamati dan berusaha menjelaskan bahwa faktor keberhasilan atau tidaknya seorang pemimpin bergantung sepenuhnya kepada bagaimana seorang pemimpin mengambil kebijakan tentang memilih pasukan.

Walupun sejarah kuno memberikan banyak contoh tentang kegagalan seorang pemimpin karena kesalahannya dalam memilih pasukan, Machiavelli mengambil contoh yang diberikan oleh Paus Julius II saat berusaha mempertahankan kekuasaannya di Ferrara. Baginya, tidak ada tindakan yang paling tidak bijaksana daripada tindakan Julius—karena dia berharap untuk menguasai Ferrara, awalnya gagal menggunakan pasukan bayaran, dia menyerahkan semua kekuasaannya di tangan bangsa asing melalui penambahan pasukan yang dibantu oleh Ferando, Raja Spanyol. Tentang ini Machiavelli menulis:

 

“…Pasukan ini baik di antara mereka sendiri, namun mereka berbahaya bagi mereka yang meminjam bantuan mereka karena apabila mereka kalah maka Anda yang akan menanggung akibatnya, dan apabila mereka berhasil menguasai suatu daerah maka Anda akan tetap menjadi tawanan mereka…” (hlm. 98)

 

Karena pasukan bantuan sama tidak bergunanya dengan pasukan bayaran—pasukan bantuan jauh lebih berbahaya dari pasukan bayaran; bahaya terbesar dari pasukan bayaran ada pada kepengecutan dan keseganan mereka untuk bertempur; pasukan bantuan ada pada keberanian mereka—maka seorang pemimpin yang bijaksana niscaya harus menghindari menggunakan pasukan-pasukan jenis ini dan mendirikan pasukannya sendiri. Tentang ini, Machiavelli tak ragu-ragu menggunakan contoh dari Cesare Borgia, yang awalnya menggunakan pasukan bantuan, kemudian beralih ke pasukan bayaran, dan pada akhirnya menekan mereka dan bergantung sepenuhnya kepada orang-orang sendiri.

 

“…perbedaan di antara pasukan-pasukan ini dapat dilihat dari reputasi sang Duke (Cesare Borgia) ketika dia hanya memiliki pasukan yang terdiri dari orang-orang Perancis, ketika dia memiliki Orsini dan Vitelli, dan ketika dia bergantung pada dirinya sendiri dan pasukan yang terdiri dari orang-orangnya sendiri. Reputasinya dapat dilihat terus meningkat dan dia tidak pernah dipandang dengan sangat tinggi sebelum semua orang belum melihat bahwa dia adalah pemimpin tunggal dari pasukannya.” (hlm. 101)

 

Baca juga  Demokrasi atau Aristokrasi di Indonesia

Contoh lain yang bisa memperlihatkan keunggulan pasukan sendiri daripada pasukan bayaran dan bantuan bisa dilihat dari kebijakan Hiero dari Syracuse. Segera setelah diangkat menjadi kepala pasukan oleh bangsa Syracuse, dia menyadari bahwa sebagian besar milisi ini tidak berguna lantaran diorganisir seperti pasukan bayaran dari Goth yang menjadi sebab pertama keruntuhan kerajaan Roma. Dia pun menyadari bahwa untuk mempertahankan atau memberhentikan mereka akan sangat berbahaya. Sejak saat itulah dia lebih memilih berperang dengan menggunakan pasukannya yang merupakan orang-orangnya sendiri dan tidak dari orang-orang asing.

Selain itu, Machiavelli juga mengambil contoh dari kisah dalam Perjanjian Lama yang dengan jelas menggambarkan poin tentang keunggulan pasukan sendiri. Machiavelli menulis:

 

“…Ketika Daud mengajak Saul untuk pergi dan melawan Goliath, pemenang dari bangsa Palestina, Saul menyemangatinya, mempersenjatainya dengan senjatanya. Namun ketika Daud mencobanya, dia menolak dengan mengatakan bahwa dia memilih untuk menghadapi musuh dengan ketapel dan pisaunya sendiri. Singkatnya, pasukan bantuan dari bangsa-bangsa lain hanya akan menyebabkan kekalahan, membebani dan merintangi jalan…” (hlm. 102)

 

Hematnya, kewajiban utama seorang pemimpin adalah kewajibannya terhadap milisi. Tak boleh ada tujuan dan pikiran lain dari seorang pemimpin selain perang dan pengorganisasian dan disiplin perang. Hal ini adalah satu-satunya seni yang harus dimiliki dan dipahami. Di samping sebagai pertahanan, seni ini juga sebagai alat merebut kekuasaan. Bahwa penyebab terbesar dari keruntuhan sebuah Negara adalah ketidakpatuhan pada seni ini, dan cara untuk memperoleh kekuasaan adalah dengan melakukan hal yang sebaliknya.

 

***

Sebagai sebuah risalah politik, tujuan ditulisnya Il Principe terutama agar bagaimana seorang pemimpin mampu memahami masyarakatnya secara menyeluruh sembari masyarakat juga memahami semua hal mengenai pemimpin-pemimpin mereka. Akan sangat ironis jika keduanya, pemimpin dan rakyat, tidak saling mengenal satu sama lainnya. Bukankah rasa cinta tumbuh pertama kali atas dasar sebuah perkenalan? Paling tidak begitu kata pepatah kuno: tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.

Ngomong-ngomong tentang cinta, Machiavelli juga menyoal tentang apakah seorang pemimpin itu lebih baik dicintai atau ditakuti, ataukah harus ditakuti lebih daripada dicintai. Dalam hal ini, Machiavelli memang memberi jawaban bahwa seorang pemimpin harus dicintai sekaligus ditakuti. Namun karena kedua hal ini sukar berjalan beriringan, atau harus memilih salah satu di antaranya, maka yang aman bagi Machiavelli adalah bahwa seorang pemimpin harus lebih ditakuti daripada dicintai:

 

“…Manusia tidak segan-segan membela orang yang mereka takuti daripada yang dicintai; rasa cinta diikat dengan rantai kewajiban, karena manusia pada dasarnya egois, maka pada saat mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, rantai tersebut akan putus; namun rasa takut dipertahankan oleh hukuman-hukuman yang menakutkan yang tidak pernah gagal.” (hlm. 119)

 

Meskipun demikian, seorang pemimpin di mana ia harus ditakuti daripada dicintai, tetap tidak boleh dibenci oleh masyarakatnya. Hal ini dimungkinkan karena rasa takut dan kebencian itu sendiri bisa berjalan bersamaan. Beda halnya dengan rasa takut dan cinta sebagaimana penulis sebutkan di awal.

 

***

Terakhir untuk kita perhatikan dari doktrin Machiavelli ini adalah bahwa kejahatan-kejahatan apapun yang ditekankan dalam merebut, mengelolah, atau mempertahankan sebuah Negara, tujuannya bukan untuk kejahatan itu sendiri, melainkan demi kebaikan bersama. Sebagaimana sejatinya, tujuan Negara adalah mengupayakan terselenggaranya ketertiban, keamanan serta ketentraman bagi warga Negaranya. Dan untuk mencapai tujuan ini, seorang pemimpin harus memiliki kekuasaan absolut, sekali lagi, menggunakan cara-cara licik bila perlu.

Karena persatuan dan ketertiban adalah keharusan, maka mau tidak mau harus diperjuangkan dengan cara apapun; cara kekerasan dan pembantaian termasuk cara yang paling diperbolehkan. Jika kondisi sudah tertib dan bersatu, maka cara kekerasan dan pembantaian disarankan untuk dihindari oleh seorang pemimpin.

 

*) Penulis adalah mahasiswa jurusan Filsafat Universitas Islam Negeri Yogyakarta

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of