Lpmarena.com– Program Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) pada masa orde baru merupakan alat kontrol negara hingga ke ruang privat masyarakat. Hal tersebut disampaikan dalam diskusi buku dengan tajuk “Melihat kembali peran Keluarga Sebagai Entitas Perjuangan Sosial, Politik, dan Ekonomi lewat buku: Anda Sopan Bapak Segan” yang diadakan oleh Multitude Book Store, Sleman, Sabtu (18/04).
Penulis buku Anda Sopan Bapak Segan, M. Ichsanudin Adnan, menjelaskan bahwa keluarga dijadikan titik masuk negara untuk mengelola populasi sekaligus upaya meredam potensi ketidakpuasan sosial terhadap penyelenggara negara. Tidak hanya itu, keluarga juga dianggap penting sebagai sarana untuk memasukkan ideologi yang dikehendaki negara.
“Ruang privat menjadi situs politik, di mana ideologi negara masuk melalui keluarga,” ujarnya pria yang akrab disapa Suden.
Ia juga menyampaikan, untuk mengontrol ruang privat tersebut, negara, dalam hal ini rezim Orde Baru (Orba) mengirim kader-kader PKK untuk mendistribusikan berbagai pedoman mengenai tata cara bermasyarakat hingga ke tingkat desa untuk diimplementasikan di dalam keluarga. Pedoman tersebut mengatur berbagai aspek kehidupan, mulai dari cara berpakaian dan berperilaku.
Melalui mekanisme seperti itu, menurut Suden, negara tidak lagi hanya mengatur kehidupan publik, melainkan sudah membentuk standar moral dalam keluarga. Hal tersebut berimplikasi pada kepatuhan semu yang membatasi daya kritis sebuah keluarga.
“Ini semacam rekayasa sosial, di mana persoalan politik, ketimpangan, ketidakpuasan sosial itu bisa jadi masalah pribadi. Kita dibuat semakin reflektif. Kita lupa bahwa ini adalah masalah struktural,” tegasnya.
Erica Rizqi, dari kolektif Radio Buku, menuturkan bahwa kehadiran PKK tidak lepas dari pengaruh Siti Hartinah atau Ibu Tien, istri dari mantan Presiden Soeharto. Ibu Tien merupakan sosok yang bergerak di balik layar sebagai aktor ideologis guna mengontrol masyarakat melalui cara-cara yang lebih halus.
Hal itu tercermin dari upaya PPK dalam menjangkau kelompok rentan, seperti ibu hamil, anak-anak, dan lansia. Melalui peran ini, ia menilai bahwa nilai dan norma yang diinginkan negara dapat dibentuk dan ditanamkan sejak dini dalam kehidupan keluarga.
“Melalui PKK, negara menjangkau unit terkecil masyarakat dan membentuk cara pandang keluarga terhadap anak, kesehatan, dan peran sosial,” paparnya.
Selain itu, Erica juga menyoroti adanya konsep mekanisme kontrol sosial berupa pelabelan negatif kepada masyarakat yang tidak mengikuti norma yang ditetapkan negara. Dengan adanya pelabelan tersebut, rezim Orba hanya menginginkan ideologi tunggal di masyarakat.
Lebih jauh, dilansir dari Balairungpress, reduksionisme biologis terhadap segelintir ibu merupakan akibat dari adanya PKK. Perempuan hanya diposisikan sebagai pendamping suami dan pencetak penerus bangsa. Pada akhirnya, hal itu mempersempit ruang gerak perempuan di ranah publik serta melemahkan gerakan perempuan pada masa itu.
“PKK atau program-program lainnya itu bukan pemaksaan semata. Negara itu memanfaatkan suprastruktur untuk melakukan penekanan sosial supaya program-program PKK itu dijalankan secara masif di tingkat masyarakat,” katanya.
Selain itu, Biko Nabih Fikri Zufar, perwakilan Penerbit Semut Api Media, menuturkan nilai dan norma yang dibentuk PKK di masa Orba masih bertahan sampai hari ini. Ia mencontohkan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari yang dianggap sebagai bentuk kesopanan tetapi sebenarnya adalah hasil proses panjang pendisiplinan oleh negara.
Menurutnya, nilai tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan logika pembangunan pada masa Orba yang menempatkan keluarga sebagai unit yang harus disiplin dan produktif. Melalui program seperti PKK, nilai-nilai itu ditanamkan sebagai kebiasaan sebelum kemudian menjadi norma yang dianggap wajar.
“Nilai-nilai yang sudah terbentuk tidak hanya menjadi perilaku, melainkan sudah sampai pada cara berpikir di otak. Proses pendisiplinan itu bekerja secara terus-menerus, baik secara sadar maupun tidak. Bahkan hingga merasuk ke alam bawah sadar masyarakat,” pungkasnya.
Reporter M. Afzaal Ali | Redaktur Ridwan Maulana