Ketersediaan lahan parkiran yang memadai merupakan bagian dari upaya mendukung pemenuhan fasilitas pendidikan.
Lpmarena.com—Kapasitas lahan parkir di UIN Sunan Kalijaga masih menjadi problem yang belum diselesaikan oleh pihak kampus. Jumlah mahasiswa yang meningkat tiap tahunnya tidak dibarengi dengan penambahan fasilitas parkir. Kondisi ini membuat mahasiswa kesulitan mencari tempat untuk memarkirkan kendaraannya.
Dalam pantauan ARENA, tempat parkir tiap fakultas mencapai puncak kepadatan pada pukul 09.00–12.00 WIB. Bahkan, beberapa mahasiswa terpaksa memarkirkan kendaraannya sembarangan hingga memakan badan jalan. Hal itu juga berimbas pada tertutupnya guiding block.
Kondisi tersebut dirasakan Yusuf Diffatama Pramudya, salah satu mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH). Ia menuturkan sering kesulitan mendapatkan tempat parkir, bahkan harus mengitari area parkir fakultas lain untuk mencari lahan parkir yang kosong. Tak jarang, pencarian itu memakan waktu yang cukup lama sampai membuatnya terlambat masuk kelas.
“Pernah ditanyain sama dosen, ‘kenapa telat terus?’ lalu saya jawab, ‘macet dan harus muter-muter karena cari lahan parkir,’ ya memang udah sepadat itu,” jelasnya saat diwawancarai ARENA, Rabu (12/11/2025).
Terkadang, untuk mengantisipasi kejadian tersebut, Yusuf memarkirkan motornya di tempat parkir Gedung Kuliah Terpadu (GKT) yang kini telah disulap menjadi gedung Fakultas Kedokteran (FK). Namun, jarak dari parkiran FK ke gedung FSH cukup jauh. Meski demikian, pilihan itu terpaksa dilakukan lantaran parkiran FSH sudah penuh.
Alih-alih berbenah, kampus justru menutup akses parkir Gedung FK dan mengalihkan parkir ke tempat lain yang tidak dijelaskan secara rinci. Penutupan tersebut tertuang dalam surat pemberitahuan No: B—6085/Un.02/BU/HM.09/11/2025. Akibat dari ditutupnya parkiran tersebut adalah, Yusuf dan mahasiswa lain makin kesulitan mendapatkan tempat parkir.
“Sebelum parkiran FK ditutup, saya biasanya parkir di sana. Meski kalau sudah mepet jam masuk kelas harus buru-buru karena cukup memakan waktu untuk jalan ke fakultas. Tapi ya dipaksain soalnya sudah sangat genting,” tuturnya.
Hal serupa dialami Muhammad Hanif Faizudin, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Ia mengeluhkan minimnya lahan parkir di fakultasnya. Hal tersebut membuatnya terpaksa harus mencari tempat parkir alternatif, salah satunya di depan gedung Multipurpose (MP).
Selain jarak, musim penghujan menjadi permasalahan tersendiri bagi Hanif. Jika hujan turun, ia harus bersusah payah untuk menyalakan motornya lantaran beberapa lahan parkir yang tersedia tidak dilengkapi kanopi, sehingga motor dan helmnya basah kuyup.
“Motor saya kalau kehujanan sulit dinyalain. Harus diengkol sampai 10 kali. Bikin capek juga,” tuturnya saat diwawancarai ARENA pada Senin (27/10/2025).
Parkir Penuh, Petugas kekurangan Sumber Daya
Keluhan juga datang dari petugas parkir FDK, Poniman. Ia menuturkan bertambahnya kuota mahasiswa dan volume kendaraan berimbas pada bertambahnya beban kerja petugas parkir.
Pasalnya, saat menata sekitar 500 kendaraan, Poniman hanya dibantu satu orang satpam. Hal itu membuatnya harus berangkat setengah jam lebih awal dari jam kerjanya untuk mengatasi kesulitan mengelola lahan parkiran.
“Kalau Standar Operasional Prosedur (SOP) nya, itu setengah delapan sampai jam empat. Mengikuti dengan mahasiswa, masuknya jam tujuh untuk kuliah pertama. Tapi kalau lebih dari jam tujuh, ini (parkiran, Red.) sudah berantakan,” ujarnya, Jumat (03/10/2025).
Selain itu, ia mengaku kesulitan saat badan jalan dimanfaatkan sebagai lahan parkir. Poniman harus bekerja lebih ekstra ketika terdapat kendaraan roda empat yang hendak melintas.
Sehingga, menurut Poniman, pihak kampus diharap dapat menambah jumlah personel petugas parkir. Hal itu guna mempermudah dan meringankan beban kerja petugas parkir.
“Yang ribet itu ketika ada mobil lewat berbarengan dengan masuknya mahasiswa ke kelas. Motornya pada ditaruh di pinggir jalan dan itu menutupi. Kan kita harus memberi jalan mobil, jadi kita harus memingirkan satu-satu motornya,” ujarnya.

Poniman juga bercerita, dirinya sering mengalami kewalahan saat jam pergantian mata kuliah. Pada jam tersebut, ia dan salah satu satpam yang bertugas harus menata kendaraan yang masuk dan mengatur kendaraan mahasiswa yang hendak keluar.
Dengan kondisi parkiran seperti itu, menurutnya, kampus harus segera menyelesaikan masalah tersebut. Pasalnya, kapasitas parkiran saat ini sudah tidak memadai untuk menampung semua kendaraan mahasiswa.
“Efektifnya kan perlu ditambah (lahan parkir, Red.) untuk kita mengerjakan itu tidak terlalu sulit,” ujarnya.
Kapasitas Parkiran dan Jumlah Mahasiswa Tidak Sepadan
Jumlah mahasiswa UIN Suka meningkat signifikan tiap tahun. Berdasarkan data PDDikti, pada tahun 2025 terdapat 28.895 mahasiswa, meningkat dari 22.081 mahasiswa pada 2021. Artinya, terjadi peningkatan sekitar 30,8% dalam jangka waktu empat tahun.
Sementara itu, kapasitas parkir hanya mampu menampung 7.600 kendaraan roda dua dan 285 kendaraan roda empat. Artinya, jika seluruh mahasiswa membawa kendaraan, maka sekitar 72,7% mahasiswa tidak akan mendapat tempat parkir. Padahal, fasilitas parkir yang layak merupakan kebutuhan dasar mahasiswa.
Menanggapi hal tersebut, Radiman, Kepala Bagian Umum Biro Administrasi Umum dan Keuangan, mengakui kapasitas parkir sudah tidak mencukupi. Ia beralasan, hal ini terjadi karena meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada UIN Suka yang berimbas pada meningkatnya jumlah mahasiswa.
Ia juga memahami, dengan meningkatnya jumlah mahasiswa harus diimbangi oleh fasilitas yang mendukung. Namun, pada faktanya, masih terdapat fasilitas yang kurang memadai, salah satunya parkiran.
“Terkait dengan area parkir yang ada, memang untuk saat ini kondisinya sangat terbatas dan memang harus kita tingkatkan,” katanya saat diwawancarai ARENA pada selasa (04/11/2025).
Untuk mengatasi kesemrawutan yang terjadi, Radiman menyampaikan bahwa pada tahun 2026 ini, kampus berencana membangun setidaknya empat titik parkiran baru. Lokasi parkir tersebut akan tersebar di kampus barat dan kampus timur.
Namun, wacana pembangunan parkiran bertingkat di UIN Suka terhambat kebijakan efisiensi anggaran oleh Presiden Prabowo. Ia berdalih, kampus harus menunggu kebijakan pemerintah pusat untuk menambah lahan parkir.
“Usulannya sudah ada, mudah-mudahan tidak ada efisiensi lagi. Ini kan tergantung dari regulasi pemerintah pusat juga,” jelasnya.
Padahal, ketersediaan lahan parkiran yang memadai merupakan bagian dari upaya mendukung pemenuhan fasilitas pendidikan. Pasal 48 Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Permendikti Saintek) No. 39 Tahun 2025, menyebutkan bahwa perguruan tinggi harus mengakomodasi kebutuhan mahasiswa.
Maka, Radiman berharap, pembangunan parkiran bisa direalisasikan pada tahun 2026 ini. Pasalnya, kebutuhan lahan parkir saat ini dianggap sudah sangat krusial.
“Harapannya ke depan itu lebih efektif dan efisien dari sisi tempatnya,” ungkapnya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Mochamad Sodik, Wakil Rektor II Bidang Administrasi Perencanaan dan Keuangan. Ia menilai penuhnya parkiran bukan semata-mata akibat bertambahnya jumlah mahasiswa, melainkan banyaknya mahasiswa yang berdomisili di dekat kampus tetapi memilih menggunakan kendaraan pribadi.
Guna mengantisipasi hal tersebut, Sodik berencana menerapkan jadwal kampus tanpa kendaraan bermotor. Hal itu, menurutnya, agar sejalan dengan komitmen UIN Suka dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).
“Saya pernah ke Jerman, di luar negeri itu pakai sepeda. Di sini tidak, yang kosnya dekat pun naik sepeda motor. Kan jadi pening. Kita juga gak bisa ngelarang,” ujar Sodik.
Namun, minimnya lahan parkir justru tidak menghentikan kampus untuk terus menambah jumlah mahasiswa. ARENA mencatat bahwa jumlah mahasiswa UIN Suka telah melebihi kapasitas karena terus mengalami penambahan jumlah kuota setiap tahunnya. Sayangnya hal itu tidak diimbangi dengan penambahan maupun perbaikan fasilitas.
Menurut Sodik, bertambahnya jumlah kuota mahasiswa setiap tahunnya merupakan hasil pertimbangan berbagai pihak kampus. Sehingga, kuota mahasiswa yang telah ditentukan dianggap jumlah yang paling sesuai.
“Kita bisa juga menerima 2.500 (mahasiswa, Red.). Tapi yang lain gimana? Mereka juga pengen kuliah di sini. Pokoknya yang kita ambil itu jalan moderat,” pungkasnya.
Di sisi lain, menurut Yusuf, alih-alih menyalahkan mahasiswa dan mencari pembenaran, pihak kampus seharusnya segera berbenah dan mengakomodasi kebutuhan dasar mahasiswanya. Ia berharap, kampus bisa membuat mahasiswanya nyaman.
“Ruang parkirnya diperbanyak. Fasilitas parkirnya juga dibenahi, minimal ada atap agar helm dan motor mahasiswa tidak basah kalau hujan,” pungkas Yusuf.
Reporter Ilham Khairun & Affan Patria | Redaktur Ridwan Maulana | Foto Affan Patria & Aqeela Jangkar