Seorang yang Menghilang di Hari Pernikahan

Seorang yang Menghilang di Hari Pernikahan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh Bayu Saktiono*)

Kebahagiaan itu sederhana katamu. “Duduk berdua denganmu menghabiskan kopi saat matahari merayap tenggelam, sambil bercerita tentang terumbu karang dan tentang ikan laut yang menjelma menjadi putri cantik.”Disini. Di tempat ini.

Dilantai tiga rumah itu Arumi menemui kekasihnya. Seseorang yang akan menjadi suaminya satu minggu lagi. Di tempat itu mereka seakan ingin mengakhiri kebahagiaan semasa pacaran. Kebahagiaan barangkali dapat diperoleh dalam penggalan-penggalan status, lingkaran peristiwa, ataupun semacamnya, yang semuanya terpotong-potong. Tetapi, mengapa harus yang terakhir, kalau toh satu minggu lagi mereka akan menikah. Nampaknya ia memahami bahwa waktu tak akan dapat diputar kembali. Waktu hanya akan mengajak untuk mengingat sesuatu yang telah lewat. Seperti saat ia teringat kekasihnya melamarnya dengan iring-iringan Orkes gambus.

Ketika itu, Arumi mengenakan gaun biru. Rambut terurai menghiasi anting-anting emasnya. Pipinya memerah saat kekasihnya muncul dan melambaikan tangan padanya. Dalam gumamnya ia hanya mampu berkata,“Aku mencintaimu, kekasihku.”Sangat sederhana.

Benarkah sesederhana itu kebahagiaan Arumi? Bukankah hal itu pula yang kita rasakan ketika kebahagiaan datang menghampiri dan kita tidak bisa berbuat banyak selain berkata sekenanya. Kita menutupi kebahagiaan karena tak mampu lagi menjelaskan kebahagiaan yang asli.

Potongan-potongan peristiwa akan banyak kita temui, namun kebahagiaan akan jarang kita dapatkan. Hanya kebahagiaan yang membuatnya ingin bertemu kekasihnya dilantai tiga rumah itu. Tempat dimana ia bisa mengabadikan kebahagiaan dalam hidupnya. Ya, Seperti waktu itu, ketika kekasihnya berbisik kepadanya disaat sore mulai temaram, saat bunga matahari mulai terkulai lemas.

“Minggu ini aku akan datang melamarmu.”

Ia tersenyum girang. Akhirnya waktu yang telah ia tunggu, datang.

“Apa kamu siap, menyambut lamaranku.”

Tanpa basa-basi berlebihan, ia mengangguk cepat-cepat dan memeluk kekasihnya. Akhirnya doa yang selama ini ia panjatkan pada Tuhan, terkabulkan. Ia merasa kalau perjalanannya selama pacaran tidak sia-sia.

Arumi melekatkan pelukan pada tubuh kekasihnya sebagai ucapan terima kasihnya. Lalu, senyum yang penuh arti ia berikan kepada Tuhan karena telah mengabulkan doa-doanya, dan anggukan kepala itu adalah sebuah jawaban. Sederhana bukan! Serupa kebahagiaan yang tidak butuh banyak kata untuk mengungkapkanya.

Ah, kata-kata itu hanya bisa ia dapatkan dari kekasihnya. Kekasih yang banyak memberinya cerita-cerita, dalam kisah yang puitis untuk hari depan.

“Setelah kita menikah nanti, aku ingin mempunyai anak perempuan.”

Ia tersipu dan mengusap pipi kekasihnya dengan berkata, “Justru aku ingin anak-laki-laki”

“Kenapa begitu?”

“Agar dia seperti Bapaknya”

“Bagaimana kalau kembar saja. Laki-laki dan perempuan?”

“Mana mungkin bisa seperti itu?”

“Bagi Tuhan segalanya akan mungkin. Kita hanya tinggal berdoa saja.”

Baca juga  Anda Manusia? Menulislah!

Lalu diraihlah tangan kekasihnya untuk memegang perutnya. Perut yang akan melahirkan si jabang bayi kelak. Perut yang akan mengandung harapan mereka. Dan pengharapan mereka telah mereka tanam seketika itu, melalui lentik jari-jari. Melalui bahasa-bahasa tubuh. Disaksikan senja yang temaram, ditemani angin yang mendesir pelan di ujung-ujung rambut mereka.

Arumi selalu teringat hal itu. Tak ada seorang pun yang kuasa menghalanginya. Ingatan yang terus membuat ia kuat menahan rindu, mempertahankan cinta hanya untuk seorang, kekasihnya. Sedikitpun ia nampak tak pernah bosan melakukanya.

Saat ini ia ingin sekali pergi kemasa itu. Memeluk kekasihnya sekali lagi. Tapi apa daya, ia hanya bisa mengingat. Belaian mesra serta senyum manis kekasihnya itu, kini hanya dalam ingatan. Ah, kebahagiaan itu.

Ditempat itu ia sadar kekasihnya tak akan datang. Sementara hari pernikahanya tinggal menunggu hitungan jari. Disana ia hanya bertemu pot bunga matahari, serta kursi kayu yang biasa mereka duduki berdua. Arumi memandang lesu pada kursi itu. Pada bunga itu, juga pada senja itu.

Sepasang bola matanya siap meluncurkan bintik-bintik air. Tetapi ia berusaha keras menahanya. Digigitnya bibir itu dalam-dalam agar air dimatanya tidak tumpah. Ia buncah, dan tidak tahu bagaimana lagi akan berbuat. Tak lama kemudian ia memandang sayu pada pelataran rumahnya dari tepi kursi. Tetapi orang-orang dibawah mondar-mandir keluar masuk, bergotong royong membereskan serba-serbi peralatan untuk resepsi pernikahanya. Hal konyol tak akan mungkin ia lakukan.

Lagi-lagi Arumi teringat dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya. Masih di tempat yang sama. disuatu sore yang ranum, dengan cahaya keemasan muncrat diujung barat.

“Kelak, kalau aku pergi meninggalkanmu lebih dulu, jangan pernah kau menangis.” Dahinya mengernyit. Kekasihnya tahu kalau ia limbung. “Hanya kepada tuhan kita akan kembali, dan waktu tak akan pernah memberi tahun kabar itu.”

“Aku akan memohon kepada Tuhan agar tak terlalu cepat memanggilmu,” kata Arumi

“Seperti yang telah digariskan. Jodoh, mati dan rizki tak pernah ada yang tahu persis.”

Sejak hari itu ia memahami. Setiap detak akan retak. Segala yang hidup akan mati. Segala yang berputar akan berhenti. Segala yang bersuara akan diam. Begitupun dengan kebahagiaan mereka. Tetapi Arumi berharap, kalau kebahagiaan mereka akan berumur lebih panjang. Bukankah kebahagiaan tak pernah dapat diukur dengan pasti?

“Setidaknya aku telah benar-benar bahagia dengan semua ini, dan hanya perasaanku yang tahu,” ujar kekasihnya.

“Berjanjilah untuk tidak melakukan hal bodoh dalam hidupmu. Karena hanya akan mendatangkan penyesalan.”

“Tapi…….”

Kata-kata itu masih ia ingat sampai hari ini. Kursi ini mungkin akan tinggal kenangan. Kenangan yang akan mengabadi sampai anak cucu mereka. Tak lama, ia duduk di kursi milik kekasihnya itu. berharap ia merasakan apa yang dirasakan oleh kekasihnya. mungkinkah ia juga bahagia?.

Baca juga  Penjelasan atas Diselenggarakannya Seminar Politik Oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

***

Pagi tadi semua orang dirumah riuh penuh bahagia. Begitu juga para tetangga yang datang membantu membuat masak-masakan. Tiap-tiap orang memancarkan raut wajah yang sahdu. Ketika itu, adiknya yang masih bungsu menyalakan televisi, karena memang itu kebiasaanya setiap pagi. Tidak peduli akan hal yang ada disekitarnya, si bungsu selalu menyukai film kartun.

Disela iklan, sebuah laporan berita mengabarkan, kecelakaan maut antara bus dengan truk pengangkut semen di Jalan Tol Pantura. Kecelakaan terjadi setelah badan Bus terhantam oleh Truk. Supir truk pengangkut semen kehilangan kendali kemudi, karena kelelahan dan kantuk. Dalam rombongan itu, hanya ada 3 orang yang selamat. Seorang kenek, dan dua lainya adalah anak-anak. Menurut saksi mata, bus itu adalah rombongan pengantin dari semarang menuju bogor.

Ibu Arumi yang saat itu melihat berita itu merasa tak enak fikiran. Ia kemudian memanggil anaknya yang saat itu bersantai di kamar. Bagi ibu arumi, berita itu mengingatkanya kepada calon menantunya. Tak lama kemudian orang-orang berkumpul di depan televisi dengan satu alasan : kabar itu benar atau tidak. Mendengar panggilan ibunya yang setengah berteriak, Arumi segera menyusulnya. Takut akan hal yang tidak dinginkan, ia cepat-cepat menghubungi kekasihnya itu melalui Telphone genggamnya. Ia mulai gelisah saat dua kali panggilan tidak terjawab. Padahal jauh-jauh hari ia sudah mengingatkan untuk menggunakan handphone yang bisa di akses. Panggilan keempat ia mulai panik. Kemudian ia menjerit sejadi-jadinya. Sontak hal itu membuat seisi rumah terkejut.

Televisi masih mengabarkan dari lokasi kejadian. Tetapi, Arumi cepat-cepat mengganti chanel televisi. Namun semuanya sama saja. Tiga stasiun televisi mengabarkan hal serupa. Ia pun kembali menjerit setelah kamera televisi mengambil gambar dari anak yang selamat. Tidak salah lagi, itu adalah keponakan dari kekasihnya.

Tiba-tiba saja rumah itu hening. Senyap. Menepi. Sunyi. Semua orang kini berkumpul di ruang tengah, tempat biasa si bungsu menonton Televisi. Arumi menangis sejadi-jadinya. Di susul oleh ibunya yang tak kuasa melihat anaknya menjerit histeris. Orang-orang yang mencoba simpatik, menepuk-nepuk Arumi untuk tetap tenang.

Para tamu yang datang untuk menghadiri resepsi pernikahan ikut bersimpatik. Mereka hanya duduk di tempat semula. Sementara musik gamelan yang sedari tadi di bunyikan masih terdengar sayup-sayup.

Arumi berlari menuju lantai tiga rumahnya, sambil membawa sisa perasaan untuk calon suaminya.

*) Penulis adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of