Kritik Dunia yang Semakin Terlipat

“Life Like a Game #2 (Abandoned Smile)” karya Siam C. Artista.
“Life Like a Game #2 (Abandoned Smile)” karya Siam C. Artista.

 

Lpmarena.com, Di abad 21 ini teknologi semakin maju dan banyak hal rumit yang dicoba untuk disederhanakan. Melalui karyanya, Kucing Hitam (komunitas mahasiswa Seni Rupa ISI 2013) mengadakan pameran lukisan bertajuk “Dunia yang Dilipat” sebagai kritik atas modernisasi. Bertempat di Taman Budaya Yogyakarta, acara ini akan diselenggarakan selama tiga hari, 7-10 Februari 2015.

Ketua panitia Siam Candra Artista menjelaskan tujuan diadakan pameran ini untuk menggugah masyarakat tentang apa yang terjadi di dunia. Tidak semua aspek modernisasi melahirkan kemajuan, ada yang bertolak belakang.

“Kita rencanakan ini udah lama. Kita mengkritisi tentang pelipatan dunia, dunia sekarang yang serba cepat, tepat. Kita itu kayak nggak bisa menikmati dunia, kita nggak ngrasa tiap hari itu ada matahari terbit, yang ada kerja, kerja, kerja lagi,” tutur Siam.

Pencetus tajuk pameran Dunia yang Dilipat sendiri adalah teman Siam, Rama Dian Putri. Berangkat dari buku Yasraf Amir Piliang yang judulnya sama (Dunia yang Dilipat) Dian memakai buku Yasraf ini sebagai analogi yang tepat pada garis besar masalah. Dimensi yang ingin diangkat adalah konsep “melipat” dunia yang menjadi instan. Jika diibratkan dunia itu kertas, kertas itu dilipat terus. Konsekuensinya kertas akan menjadi kecil dan ada unsur pemaksaan disana.

Ada sekitar 50-an karya ditampilkan. Karya Siam sendiri yang berjudul “Life Like a Game #2 (Abandoned Smile)” mengisahkan tentang kehidupan joker. Bermula dari cerita tentang kartu remi, pada jaman dulu joker bekerja sebagai penghibur yang dia cacat secara fisik. Dia selalu diasingkan dari yang sempurna. Lalu joker ini dilatih menjadi pelawak. Meski begitu, dalam permainan kartu remi sendiri, joker tidak digunakan. “Dalam kehidupan juga begitu, meski sudah melawak tapi ditinggalkan. Itu kehidupan joker, ia kayak dimusuhi,” ujar Siam.

Baca juga  Semangat Perdamaian dari John Lennon

Eny Susilowati selaku pengunjung berpendapat jika pameran ini menarik dan kreatif, serta menceritakan tentang orang-orang yang lupa dengan proses. “Kreatif, cuma kalau aku kasi komentar, relevansi tema dan karya sudah nyambung. Tapi aku agak kecewa dengan judul lukisan yang kurang predictable, harusnya judul lukisan lebih sesuai,” kata mahasiswa jurusan Filsafat UGM ini. (Isma Swastiningrum)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of