Budiman Sudjatmiko: DBR Sebagai Senjata Perlawanan Politik

Budiman Sudjatmiko: DBR Sebagai Senjata Perlawanan Politik

Budiman ketika berbicara tentang Di Bawah Bendera Revolusi (DBR).
Budiman ketika berbicara tentang Di Bawah Bendera Revolusi (DBR).

“Belajarlah dari barat, jangan menjadi peniru barat, melainkan menjadi murid timur yang cerdas” ucapan Tan Malaka ini  menjadi statment terakhir dari Budiman Sudjatmiko pada acara bedah buku DBR.

Lpmarena.com, Di Bawah Bendera Revolusi (DBR) merupakan buku yang ditulis oleh Soekarno kini kembali dibedah pada kesempatan bazar buku yang diadakan oleh Plenet bookstore, Senin, (02/03), di Identitas Kafe, Jl. Langgensari No. 41, Pengok, Yogyakrta. Datang sebagai pembedah adalah Budiman Sudjatmiko selaku anggotaDPR RI.

Acara yang berlangsung dari pukul 19:30 WIB tersebut diwarnai dengan kenangan indah Budiman Sudjatmiko di masa ia kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kampung halamnya Cilacap. Dimana ketika ia pertama kalinya membaca buku DBR kepunyaan kakeknya yang disimpan dalam karung yang sulit dijangkau oleh panca indra. “Butuh perjuangan yang sangat dramatis, walaupun buku ini tidak dilarang dibaca pada masa ORBA,” ujaranya. “Tapi kehilangan rohnya, karena disortir oleh rezim saat itu,” lanjut budiman.

Setelah membaca buku DBR, semangat baru dalam dirinya muncul untuk menjadi orang yang selalu empati pada keadaan sosial pada saat itu, dan bercita-cita untuk menjadi orang selalu mengabdi pada negara. Ia mengaku telah tercerahkan ketika selesai membaca DBR jilid 1 dan 2.

Ia mengulas kembali pembahasan di buku DBR, bahwasanya Soekarno dalam DBR jilid 1 menjelaskan dengan detil fase-fase perkembangan Hindia-Belanda, baik dalam tataran perkembangan ekonomi politik nasional maupun internasional, feodalisme, dan kekuatan elemen-elemen masyarakat tanpa golongan tertentu (islamisme, sosialisme, dan nasionalisme) yang tetap bersatu dalam mengusir penjajah.

Adapun jilid kedua, situasinya berbeda dengan jilid pertama. Dimana Soekarno cenderung pada neoklasik yang memberikan gambaran terkait situasi dunia yang terpecah menjadi dua, bagian timur dengan barat (perang pertama dan kedua). Sekaligus gambaran negara berkembang yang baru merdeka yang bisa dipastikan penuh dengan ketergantungan terhadap investasi asing untuk menghidupi negaranya walau pun sudah merdeka. Tapi dalam buku DBR Soekarno bersikap tegas secara politik menolak investasi asing dan membentuk blok baru dan mengajak negara berkembang untuk bersatu. “Penolakan disini kita harus kembali direnungkan, betapa hebatnya kemandirian Soeekarno tidak memasukkan investasi asing,” harapnya.

Baca juga  Menilik Bina Anggita, Sekolah Inklusi Khusus Autisme

Maka dari itu, buku DBR tidak hanya berhenti pada sejaranya sendiri sesuai dengan fase perkembangan pada saat itu. Menurut lelaki berkelahiran 10 Maret 1970 tersebut harus ada DBR jilid tiga, dan kita selaku pelaku sejarah didalamya. Harapanya untuk mengubah sistem tatanan negara yang masuk ke fase perkembangan yang disebut dengan nekolim. Yang mana semua elemen kehidupan telah terhegemonisasi di dalam perut kapitalisme yang tidak hanya meliberalkan ekonomi tapi juga politik. “Itu bisa kita lihat dari kita berperikaku sehari-hari, contoh kecilnya cara kita sisir rambut, berpakian, dan seluruhnya kita telah di atur oleh mereka para kapitalisme,” ungkapnya.

Pengarang buku Anak-anak Revolusi tersebut memberikan ketegasanya sebelum kita melangkah ke fase ketiga, maka buku di DBR jilid 1 dan 2 wajib untuk dibaca terlebih dahulu sebagai geonologi perkembangan peradaban. Menurut Sasno selaku penyusun DBR, “Karena sejarah akan berulang.” Maka dari sebab itu Budiman mengharapkan agar supaya DBR sebagi teks kembali diinterpretasi menjadi kekuatan baru dan semangat baru di era yang baru.  “DBR ini membawa aku bersikap untuk masuk partai politik untuk mengubah sistem, karena Soekarno mengajarkan kita untuk berpolitik,” tegasnya.

Yang paling menarik dari artikel DBR menurut budiman adalah “Kuasa Kerongkongan” dimana Soekarno mengajarkan pada kita “banyak ngomong dan banyak kerja” tidak hanya banyak kerja dan kerja-kerja! Dan Indra (dari penerbit Pressindo) juga menambahkan kehebatan dan hal yang menarik dari Soekarno sebagai presiden dibandingkan dengan presiden sesudahnya, dia membaca buku. “Tapi presiden sesudanya yang membaca buku cuma Gusdur yang mendekati,” tambahnya indra. (M Faksi Fahlevi)

Editor: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of