Biarkan Mahasiswa Berfikir Tanpa Sebuah Doktrin

Oleh: Miftahur Rahman*

Universitas adalah tempat di mana segala macam ilmu pengetahuan berkembang dan saling berdialektika. Untuk itu kebebasan dalam berpikir dan berpendapat haruslah mutlak ada di dalamnya. Namun kenyataanya sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota pelajar ini banyak sekali pendoktrinan-pendoktrinan yang saya temukan di ranah pendidikan.

Contoh saja saat pertama kali menjadi mahasiswa baru (maba) kita dipaksa untuk mengikuti acara Opak (Orientasi Pengenalan Akademik) yang tak lebih merupakan ajang kaderisasi dan pendoktrinan dari beberapa organisasi ekstra kampus. Lanjut lagi ketika maba mulai mengenal dan berkecimpung di ranah organisasi lagi-lagi nuansa pendoktrinan itu kental terasa. Baik itu organisasi intra maupun ekstra kampus, dampak pendoktrinan dari ruang lingkup organisasi ini adalah skeptisme terhadap perkuliahan yang mahasiswa lakukan. Jadi wajar jika produk dari pendoktrinan dalam ruang lingkup organisasi ini mengakibatkan lamanya proses perkuliahan.

Selanjutnya, selain datang dari ruang lingkup organisasi pendoktrinan juga datang di bangku perkuliahan yang dilakukan oleh beberapa dosen sewaktu mereka menyampaikan materinya. Ketika seorang dosen menyampaikan materi dengan cara berceramah dan menuliskanya di papan tulis tanpa membiarkan mahasiswanya untuk bertanya atau mempertanyakan materi yang ia sampaikan. Gaya pendidikan seperti inilah yang saya maksud sebagai salah satu bentuk pendoktrinan, atau pula Frank menyebutnya sebagai pendidikan gaya bank yang biasanya diparaktekkan di bangku sekolah, namun untuk kasus ini terjadi di bangku perkuliahan. Pendidikan yang seperti ini mengakibatkan mahasiswa tidak jauh beda dari anak SD.

Dahulu di Eropa pendoktrinan yang sama juga pernah dilakukan oleh gereja yang mengakibatkan Eropa mengalami zaman kegelapan. Lalu kemudian muncullah renaisance salah satu gagasan humanisme dari zaman ini adalah “Kuda itu dilahirkan – tapi manusia tidak dilahirkan mereka dibentuk karena itu manusia dididik untuk menjadi manusia”. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang secara empiris bukan hanya semata kebenaran yang diyakini oleh sebagian orang dan kemudian dipaksakan untuk diyakini oleh orang lain. Maka dari itu sekali lagi saya tekankan stop pembodohan mahasiswa. Biarkan mereka berpikir, memilih, dan memutuskan tanpa sebuah doktrin.

Baca juga  Aksi Menyadarkan Mahasiswa Melawan Kapitalisme

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Ekonomi Syariah, FEBI, UIN Sunan Kalijaga.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of