Corong Bernyanyi Gramophone

Beberapa mode Gramophone yang ditampilakan dalam pameran "Corong Bernyanyi". (Foto: Nawank)
Beberapa mode Gramophone yang ditampilakan dalam pameran “Corong Bernyanyi”. (Foto: Nawank)

 

Lpmarena.com, Tahun 1877 Thomas Alfa Edison meneliti tentang alat musik box yang sekarang dikenal sebagai gramophone. Alat ini digerakkan oleh silinder begerigi yang ketika bersentuhan dengan sisir baja akan berdenting menghasilkan suara. Dari sini lahirlah juga yang dinamakan piringan. Namun, seiring perkembangan zaman, alat musik ini sudah langka, diganti dengan USB, CD, atau pun CD.

Sebagai wujud dari mengenang alat musik gramophone, Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) yang bekerja sama dengan komunitas Patmaditya (Pelestari Audio Lama dan Radio Tabung Yogyakarta) mengadakan pameran gramophone “Corong Bernyanyi”, berlangsung dari 17-26 Maret di BBY.

“Tujuan acara ini untuk mengenalkan gramophone, dan ajang para kolektornya untuk saling tukar pikiran,” kata Age selaku panitia acara, Minggu (22/3). Age menambahkan ada sekitar 15 kolektor yang ikut serta dalam pameran ini.

Salah satu kolektor yang hadir dalam pemeran itu adalah Endro Nugroho. Pria paruh baya ini mengawali kecintaanya pada gramophone sejak tahun 90-an juga ditambah orangtuanya dulu juga memiliki alat itu. “Orangtua punya, kita hunting sampai Wonosobo demi mencari. Meski dapat mesin rusak, capeknya hilang,” kata pria yang memiliki koleksi piringan hitam lagu Indonesia dan barat berjumlah ratusan ini.

Gramophone bagi Endro memiliki filosofinya sendiri. Baginya sangat susah untuk mengungkapkan tentang arti gramophone, menurutnya gramophone unik dan tetap sangat indah dan bagus. “Tidak ada lagu yang indah selain lagu dari piringan hitam,” ujarnya.

Selain gramophone juga ditampilkan berbagai musik box yang lain seperti graphophone, grammofono, phonograph, sampai turntable. (Isma Swastiningrum)

Komentar

komentar

Baca juga  Menggurat “Seri” dalam Kebersamaan Holopis Kuntul Baris

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of