Entrepreneur (isn’t) Siip

Oleh Jamaludin A.

Ini kebijakan lama. Karena dalam perkembangannya semakin meresahkan jadi agak lambat disadari, bahwa Entepreneurship adalah persoalan besar di kampus UIN sekarang. Bukan sebab merugikan, justru malah karena ia dianggap “menguntungkan” maka menjadi soal.

Sementara saya di kampus ini, sejak awal kuliah telah gencar sosialisasi Entrepreneurship. Hingga kawan-kawan dekat resah. Kenapa mesti jadi Entrepreneur? Berdasar beberapa remah keterangan yang saya pungut, kurang lebih motifnya begini; UIN ingin memberi “menu” spesial untuk mahasiswanya. Entrepreneurship menjadi pilihan, sebab dapat menunjang mahasiswa untuk mandiri.

Tujuan itu mulia. Amat sangat mulia sekali. Terlebih melihat latar belakang ekonomi mahasiswa UIN yang kebanyakan dari kalangan bawah -pembacaan yang cerdas dari birokrasi. Terobosan ini sekaligus menjawab masalah biaya pendidikan yang kian melambung. Sekali dayung tiga pulau lewat!

Sebagai wacana baru untuk mahasiswa, sejauh ini Entrepreneurship bisa dikatakan sukses. Melihat banyaknya teman di sekitar yang melirik Entrepreneurship –bahasa mudahnya wirausaha- sebagai kegiatan mereka selain kuliah. Wirausaha telah menjadi obrolan seantero mahasiswa, juga dalam seminar. Hal ini mudah saja dibuktikan, lihatlah medsos mahasiswa itu. Di sana terpampang berbagai macam gambar barang jualan.

Beberapa waktu ini saya dengar selentingan, bahwa wirausaha telah menjadi mata kuliah. Terutama di angkatan bawah. Dulu, meskipun hal ini gencar diwacanakan, belum sampai menyentuh ranah formal dalam kelas. Saya tak tahu apakah ini merupakan pengembangan dari paradigma keilmuan UIN yang kemudian mengintegrasi dan menginterkoneksikan pengetahuan dengan jualan.

Semoga saja asumsi di atas tidak benar. Sebab menurut saya ini persoalan. Contoh riil, seorang teman jurusan filsafat mengeluh karena mendapat mata kuliah ini. Dalam hati saya tertawa. Apa hubungan filsafat dengan jualan coba? Bukankah filsafat adalah ranah yang mendalam dan radikal dengan bermacam referensi berat nun memanjang semenjak peradaban manusia hingga kini. Lalu wirausaha adalah ranah praktis (pragmatis) yang dianjurkan jeli melihat peluang (oportunis) dengan tujuan akhirnya keuntungan pribadi (individual).

Sulit membayangkan bagaimana cara mengintegrasikan dua hal tersebut secara keilmuan dan filosofis. Ranah mendalam dan ideal seketika termentahkan dengan pandangan pragmatis yang berorientasi keuntungan. Ibarat seorang pemikir yang tugasnya menulis dan memeriksa keadaan diberi ladang dan cangkul. Nggak nyambung.

Baca juga  Mempertanyakan Ulang Ideologi

Benar bahwa tak semua mahasiswa filsafat (juga jurusan yang lain) akan tertarik. Tapi bukankah menyelipkan mata kuliah ini dalam kurikulum adalah sebuah kesia-siaan? Untuk apa juga mereka ditarik masuk ke dalam kelas yang materinya tak menunjang studi filsafat. Beserta dengan segala konsekuensinya; absensi, tugas, nilai, dan lain. Justru ini menjadi masalah tambahan di samping persoalan laten pendidikan di kampus kita.

Soal laten itu adalah fasilitas penunjang pendidikan dan pengembangan keilmuan di UIN. Seperti ketersediaan buku referensi, dosen, dan pusat kajian. Ketika menelusuri tiga hal itu saja kita sudah pening karena sangat tidak mendukung. Lihat saja perpustakaan di fakultas, mana ada buku yang bisa menjadikan mahasiswa maju. Jumlah buku sedikit dan mayoritas keluaran lama dengan kondisi perpustakaan yang menyedihkan.

Lantas dengan referensi seperti itu, mahasiswa seperti apakah yang diharap lahir oleh UIN. Berharap kajian baru dari referensi yang usang adalah mustahil secara rasional. Oke, pengetahuan bisa ditemukan di kelas. Dengan kata lain kelas menjadi ruang keilmuan utama di kampus dan dosen berposisi sebagai referensi utama mahasiswa. Tapi dengan kondisi dosen pendidik di UIN, saya rasa mahasiswa tak bisa berharap banyak.

Saya pernah diajar oleh kawan semester atas, tapi ya begitu, miskin referensi, pengetahuan, dan tentu saja pengalaman mengajar. Sedang kawan seangkatan malah sudah ada yang mengampu mata kuliah di fakultas sebelah. Standar pengajar di UIN sepertinya memang belum bisa diharapkan.

Lantas, bagaimana dengan pusat kajian untuk mahasiswa? Ah sudahlah. Kajian di UIN sekedar papan nama saja. Mati segan, hidup tak mau.

Melihat situasi yang seperti ini wacana Entrepreneurship yang digelontorkan kampus ke dalam ruang-ruang kelas menjadi semacam tawaran obat yang takkan menyembuhkan penyakit. Dengan biaya (anggaran, waktu dan tenaga) yang dikeluarkan untuk menunjang Entrepreneurship, saya kira kampus telah melenceng jauh dan semakin menambah kronis panyakit pendidikan di tubuh UIN.

Baca juga  LP2M dinilai Terlambat Menjalin Kerja Sama untuk KKN

Kiranya cukuplah CENDI (Centre for Entrepreneurship Studies) yang mengakomodir wilayah ini. Tak perlu ke ranah kurikulum yang juga akan menelan biaya besar. Itu, rasanya lebih “bijak” sebagai sebuah kebijakan yang dikeluarkan oleh institusi pendidikan. Tentu saja ruang untuk wirausaha diperlukan. Asal jangan sampai melampaui batas seperti sekarang.

Pengalihan wacana keilmuan ini akan semakin membuat kampus UIN tidak mutu. Dalam artian, lulusan yang ke luar tidak kompeten di bidangnya. Umpama sebuah pabrik (meski saya tak sepakat dengan pandangan itu) kampus ini mengeluarkan produk yang cacat. Karena cacat, ia tak layak digunakan. Entah bagaimana peradaban Indonesia dibangun dengan sumber daya manusia yang seperti ini.

UIN sebagai pengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi, saya kira tiga pensoalan di atas kudu ditangani lebih dulu dan lebih serius. Kecacatan berpikir ini mesti segera dibenahi oleh birokrasi kampus. Mungkin bapak-ibu yang duduk di kursi birokrasi itu perlu melihat ke bawah. Banyak mahasiswa UIN yang lebih serius ngobrol wirausaha dan gaya hidup dibanding ilmu pengetahuan.

Sebagai sebuah kebijakan yang dikeluarkan oleh institusi pendidikan, saya rasa hal ini menjadi soal. Yah, persoalan yang akan menenggelamkan keilmuan dalam kedangkalan dan pasar. Dengan masa kuliah yang semakin pendek dan biaya yang kian mahal, kampus malah tak menunjang mahasiswa untuk sadar dan menguasai ilmu pengetahuan. Justru membantu meminggirkannya. Saya harap bapak-ibu birokrat masih ingat pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan.

Harus diakui, Entrepreneurship telah mendorong wacana yang bergulir di tataran mahasiswa berpaling dari ranah keilmuannya –kecuali yang bidang ekonomi tentunya. Pola pikir mahasiswa menjadi kian pragmatis-individual. Sebagai sebuah kebijakan, hal ini melenceng dan mubadzir. Alih-alih alternatif. Juga tak menjawab persoalan di kampus kita tercinta ini.

Terakhir. Kawan-kawan mahasiswa ini, bu-pak, masih dalam usia “emas” belajar, untuk mendulang sebanyak mungkin ilmu pengetahuan. Dan kebijakan yang Anda keluarkan itu, adalah pembodohan secara sistemik.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of