Kembangkan Film Indie, Wolez Cafe Putar Lima Film

Suasana pemutaran lima film di Wolez Cafe.
Suasana pemutaran lima film di Wolez Cafe.

Lpmarena.com, Wolez Cafe bekerjasama dengan Pronusa Creative Agency menyelenggarakan pemutaran lima film, Kamis (14/5) . Acara yang bertajuk festival film “Waktunya Sinema Indie Jogja Bicara” merupakan rangkaian dari acara Yogyakarta Community Party yang dihelat pada 11-17 Mei 2015. Acara yang bertempat di Wolez Café ini merupakan ajang bertemunya seluruh komunitas film indie Yogyakarta dan sebagai ajang diskusi seluruh sineas muda Yogyakarta.

“Acara Yogyakarta Community Party ini diselenggarakan untuk ajang temu dan diskusi seluruh komunitas di Yogyakarta,” kata Gita, panitia acara. Ia menambahkan, lewat acara ini juga diharapkan film indie di Yogyakarta dapat lebih diterima dan berkembang disemua kalangan.

Film  berjudul “Bayangan dan Mata Binder” garapan Chiko UMY menjadi film pembuka. Menceritakan tentang kisah cinta sepasang kekasih yang harus kandas akibat memiliki hobi yang bertolak belakang. Film kedua adalah “Tembak Mati Sayang” karya Koma Amikom yang menceritakan tentang kisah cinta segitiga antara Nila, Irfan, dan Erna.

Film semi action berjudul “Human Traficking dan Sisi Kiri Kembang” karya KamISInema merupakan film ketiga yang diputar. Film “Human Traficking” ini mengambil gagasan yang berbeda dengan pola pikir yang berkembang di masyarakat. Film ini mengisahkan tentang oknum aparat yang bekerjasama dengan bos perdagangan manusia dalam penggagalan upaya kaburnya seorang korban human traficking. Adul, sutradara film mengatakan lewat film Human Traficking ingin mengubah mindset masyarakat tentang human traficking yang kini berkembang. “Masyarakat mengenal human traficking sebagai perdagangan manusia, tetapi di sini kami mengangkat tentang cara-cara kaum berkepentingan untuk mencapai tujuan mereka salah satunya dengan menyuap oknum aparat,” ujarnya.

Film “Sisi Kiri Kembang” yang mengambil setting waktu zaman 90’an menceritakan sosok Giman, lelaki yang menentang keras atas janji kampanye yang dilakukan penguasa (pemerintah). Atas tindakannya tersebut, akhirnya ia menjadi buronan yang kemudian dibunuh dan dibuang ke sungai. Film ini juga diceritakan tentang diskriminasi terhadap warga bertato kala itu. Para warga bertato dianggap buronan dan kemudian dibunuh tanpa hukum yang jelas.

Baca juga  Siti: Persoalan-Persoalan Hidup yang Asu

Film dokumenter berjudul “Penonton-Penonton” karya Forum Film Dokumenter (FDF) menjadi film penutup. Film ini menceritakan tentang kisah dibalik layar para pentonton bayaran. Juga menceritakan suka duka menjadi penonton bayaran di stasiun televisi.

Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB ini diakhiri dengan diskusi tentang perkembangan dan langkah apa yang harus dibuat untuk memajukan film indie di Yogyakarta. (Kartika)

Editor: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of