Ita Sembiring: Kreatif Itu Menjadi Beda Di Antara Orang-orang Lugu

Ita Sembiring sedang foto bersama dalam acara kelas "Creative Thinking".
Ita Sembiring sedang foto bersama dalam acara kelas “Creative Thinking” (foto dari akun @akberjogja).

Lpmarena.com, Akademi Berbagi (Akber) Yogyakarta sebuah komunitas kelas belajar gratis tentang berbagai hal: menulis, fotografi, jurnalistik, advertising, komunikasi dan seterusnya, Senin (25/5) mengadakan kelas Creative Thinking di Grapari Telkomsel Lantai 4, Jl. Jend. Soedirman No. 60 Yogyakarta. Kelas ini dihadiri oleh pembicara tunggal, Ita Sembiring, seorang penulis novel, dosen ilmu komunikasi Universitas Tarumanegara, dan public relation manager di sebuah multi nasional company.

Menurut Ita, komponen terpenting dari hal kreatif adalah ide. Orang kreatif tidak meragukan idenya. “Ide tak muncul begitu saja dari dalam otak, melainkan hasil interaksi dengan lingkungan fisik dan sosial. Perbanyaklah bergaul di kalangan orang-orang yang punya minta beda dengan Anda,” kata Ita.

Bagi Ita, berpikir kreatif itu sederhana: berpikir beda di antara orang-orang lugu. Orang kreatif tidak boleh meremehkan hal apapun, sesepele apapun. “Pintar saja tidak cukup dan bodoh saja tidak berdosa. Banyak jalan menuju Roma, yang penting kamu tahu jalan,” tuturnya.

Menurut Ita yang menjadikan kita tidak menjadi kreatif adalah karena sudah puas dengan apa yang telah didapatkan. Faktor lainnya yaitu tidak pernah keluar dari rutinitas, kemalasan mental, terpaku pada masalah, dan birokrasi.

Penulis belasan novel ini juga mengingatkan ide kreatif itu sebaiknya ditulis. “Jangan percaya diri kita bisa mengingat semua ide. Aku masih punya catatan-catatan kecil,” ungkapnya. Ia bahkan mengaku beberapa novel yang Ita tulis idenya bersumber dari catatan kecil tentang mantan, hidup, dan lain-lain.

Ita juga mengkritik bahwa Indonesia orangnya paling takut dibilang bodoh dan paling ingin kelihatan pintar. Berani menunjukkan kekurangan bagi Ita juga berarti kemilauan. “Jangan biarkan kritik menghalangi, apalagi menjadikannya larangan dalam mengumpulkan dan menangkap ide. Crticism should make you creative not less,” ucapnya sambil melucu. (Isma Swastiningrum)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of