Mukjizat yang Turun untuk Maria

Dari kiri, Sungging Raga dan Royyan Julian didampingi moderator membedah cerpen Asef (foto: Dwi Rahariyoso).
Dari kiri, Sungging Raga dan Royyan Julian didampingi moderator membedah cerpen Asef (foto: Dwi Rahariyoso).

95Terbakarlah amarah sebagian besar orang-orang di kaumnya ketika sebagian lain mulai menuhankan Anak Lelaki Maria. 96Amarah adalah sesaat yang menyesatkan. 97Dan mereka menjadikan yang sesaat itu terus-menerus hingga menyalakan api di tangan mereka.
(Kutipan cerpen Wahyu Kesebelas yang Diturunkan Kepada Tatimmah karyaAsef Saeful Anwar)

Lpmarena.com, Senin (25/5) malam Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri mengadakan diskusi cerita pendek (cerpen) karya Asef Saeful Anwar berjudul Wahyu Kesebelas yang Diturunkan Kepada Tatimmah. Acara yang diadakan di salah satu ruang di PKKH UGM ini menghadirkan penulisnya langsung dan juga dua pembedah, yaitu Sungging Raga (sastrawan) dan Royyan Julian (mahasiswa S2 Ilmu Sastra Fakulitas Ilmu Budaya/FIB UGM).

Mirip seperti kanon dalam agama-agama samawi, cerpen ini berkisah tentang Maria yang hamil karena wahyu dari Tuhan. Maria memiliki tunangan bernama Sef yang sangat setia pada Maria dan menemani Maria hingga bayi tersebut lahir. Pada fragmen “Berguru pada Binatang” setelah bayi ajaib itu lahir, ia berbicara tentang kisah-kisah yang ada dalam kitab suci. Seperti kisah lelaki yang mengubur saudaranya setelah melihat gagak menggali dan memasukkan jasad sesamanya ke tanah; lelaki yang ditegur semut karena tak berperilaku santun; lelaki yang diajari bertaubat oleh seekor paus; lelaki yang mengikuti ikan berenang untuk belajar bersabar; lelaki yang disuapi remah-remah roti oleh seekor burung untuk tetap hidup; lelaki yang dipayungi seekor ular saat bersemadi, juga tentang kisah Namas dan orang-orang di bahtera. Kisah berlanjut hingga anak laki-laki Maria ini besar, hingga kisah terbakarnya Maria seperti pada kisah Nabi Ibrahim.

“Merujuk pada konteks iman, persoalan besar adalah iman. Ini transformasi dari Al Kitab dan Al Quran. Narasi banyak terinspirasi dari Al Quran,” kata Royyan. Hal ini diamini oleh Asef yang bercerita konvensi penulisan cerpen ini terilhami dari kisah-kisah Al Quran. “Sederhana, cuma bayangin Sef yang bersaing dengan Tuhan. Tiba-tiba saya hidup di jaman nabi dan saya berubah jadi perempuan. Saya wujudkan perasaan itu pada masa itu,” kata Asef.

Baca juga  Pada Cermin, Aku Melihat Mereka dalam Dirimu

Meski begitu dalam cerpen ini ada perbedaan-perbedaan tersendiri jika dibandingkan dengan kitab suci, misalnya bayi laki-laki Maria yang lahir di bawah pohon kurma diganti di bawah pohon pisang. Lalu Isa membuat benda mati menjadi hidup dalam rangka menujukkan risalah kerasulannya, tetapi di cerpen ini untuk menjelaskan tentang asal-usul. Juga ketika Sef (Royyan menyebutnya Yosef) tahu Maria hamil, dalam cerpen ini Sef menikahi Maria, tetapi dalam injil Maria hamil dan Yosef memutuskan pertunangan.

“Maria perantara Yosef beriman pada Tuhan. Di sini unsur cinta sangat penting sebagai perantara manusia dan Tuhan. Beriman tanpa perantara tidak bisa. Ada perantaranya misalnya nabi, kitab suci, dan lain-lain,” ucap Royyan.

Namun, pendapat ini disanggah oleh peserta diskusi yang juga dosen sastra FIB UGM, Faruk Tripoli. Menurut Faruk Tuhan tak bisa dimediasi, karena mediator itu tidak independen. Ketidaknetralan tersebut seperti pada kasus paman Nabi Muhammad yang meskipun merawat Nabi, tetapi apakah Muhammad yang juga seorang mediator itu bisa membuat pamannya beriman pada Allah?

“Orang Islam lebih tersinggung ketika ada orang mengkritik Muhammad daripada mengkritik Tuhan. Ternyata Nabi dikultuskan. Tidak mungkin Tuhan dimediasi, mediasi tidak netral. Tuhan dirampok oleh Muhammad,” kata Faruk.

Sungging Raga sendiri berkomentar penulis cerpen ini banyak bereksperimen dalam bait, tema, gaya bahasa, sampai pada teknik. “Cerpen ini bereksperimen pada yang sudah ada, seperti wahyu. Wahyu itu sesuatu yang serius, bukan fiksi,” kata Sungging. Ia menambahkan cerpen ini bisa dibaca dalam dua bentuk, wahyu dan fiksi. Bentuk wahyu karena penulisannya mirip terjemahan Al Quran, tetapi sedikit dimodifikasi. Sebagai fiksi bisa dilihat dari tokoh Sef yang percaya saja pada Maria, tokoh lelaki setia, meski penulis tidak menerangkan Sef beriman pada siapa.

Baca juga  Riwayat Kematian

“Ia lupa bahwa beriman ia punya konsekuensi. Yang ada cuma pamer mukjizat, definisi beriman masih kurang, kayak nyaksiin akrobat,” kritik Sungging. Yang menarik bagi Sungging, penulisnya pandai mengambil konflik-konflik yang berhubungan meskipun banyak bagian yang tidak berfungsi juga, misalnya dalam fragmen tentang selibat. “Padahal cerpen itu puzzle, gambarnya satu dan setiap bagian ada fungsinya. Kalau seperti ini kita bisa berhenti di mana saja,” kata pria yang pernah duduk di jurusan matematika UGM ini. Bagi Sungging juga cerpen lebih ke “bagaimana” kita menceritakannya, bukan “apa” yang diceritakannya.

Kritik untuk cerpen ini juga datang dari salah satu peserta diskusi bernama Vera Naga. Menurutnya cerpen ini membuat rumit sejarah. “Kalau dia (penulis) ortodoks, dia tak mempermainkan ayat. Pembaca pasif hanya menerima. Dari segi bahasa enak, mirip puisi, unik. Kalau sejarah akan menghancurkan, terlebih sejarah agama,” katanya. Vega sendiri prihatin dengan kondisi prosa dan sastrawan Indonesia yang takut dengan kontroversi. Katanya, hampir tidak ada yang baru di prosa.

Pesan cerpen sendiri, sebagaimana Royyan kutip dari Ben Okri bilang bahwa agama yang tidak menyapa yang lain adalah agama bekas. Islam misalnya, menurut Royyan ia tidak menjadi bekas dan bisa dikatakan Islam sejati jika ia memberi makan pada yang lapar dan membuat damai orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Dalam agama Yesus sekalipun, hukum tertinggi ada dua: pertama mencintai Tuhan, kedua mencintai manusia. (Isma Swastiningrum)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of