Flowers of War: Perlawanan dari Rumah Bordil

Sutradara         : Zhang Yimou

Aktor                : Christian Bale, Ni ni, Xinyi Zhang

Negara             : Cina

Release            : 2011

Peresensi         : Lugas Subarkah

AL6P1670 ????.jpg

“Para pelacur tidak pernah peduli pada negara yang jatuh

Mereka bernyanyi dan menari selagi yang lain sekarat…”

-Penggalan puisi kuno Cina-

Cina, 1937. Jepang melakukan invasi besar-besaran. Nanking berhasil diduduki tentara Jepang setelah bombardir yang meluluhlantakkan. Puing-puing bangunan, asap, dan mayat memenuhi kota itu. Hanya tersisa dua tempat yang sementara masih aman untuk berlindung, yaitu pengungsian dan Katedral Winchester. John Miller, yang diperankan oleh Christian Bale, adalah seorang petugas pemakaman. Ia ditugaskan untuk mengurus pemakaman salah seorang Pendeta di Katedral Winchester. Ia berhasil sampai di Katedral dan melaksanakan tugasnya. Namun berkecamuknya perang di luar, membuat John terjebak di tempat itu bersama murid-murid biara dan para pelacur yang ikut berlindung.

Pada awalnya, hubungan antar subjek di dalam katedral sangat oportunistis. John yang tidak paham apa-apa tentang gereja dan perang menghabiskan malamnya dengan mabuk-mabukan dan menyewa salah satu pelacur. Para pelacur, yang awalnya tidak boleh menempati katedral oleh murid-murid biara, memilih tidur di tempat yang paling terlindungi, ruang bawah tanah. Murid-murid biara, karena tidak mau menodai kesucian katedral, tidak membiarkan para pelacur itu menggunakan toilet.

Keesokan harinya setelah kedatangan John dan para pelacur, tentara Jepang menyerang Katedral. Para tentara itu mengabaikan perjanjian yang telah disepakati dengan Katedral. Di sinilah mulai timbul solidaritas di antara penghuni Katedral. Murid-murid biara yang sudah ketahuan tentara Jepang memilih tidak ke ruang bawah tanah untuk menyembunyikan keberadaan para pelacur. Murid-murid pun ditangkap dan disiksa oleh tentara Jepang. John yang tidak tahan mendengar tangisan murid-murid biara di bawah moncong senapan tentara Jepang, keluar dari persembunyian dan mengibarkan bendera perdamaian. Ia mengenakan jubah pendeta dan meneriakkan, “Berhenti! Ini rumah Tuhan! Mereka adalah anak-anak! Kalian melanggar hukum manusia dan Tuhan!” tapi sayangnya teriakkan itu tak diindahkan oleh tentara Jepang. Serangan itu dapat dipatahkan oleh sisa tentara Cina yang masih hidup di wilayah itu. Tapi tentara Cina itu pun tewas setelah meledakkan geranat bersama-sama dengan tentara Jepang.

Hari berikutnya datang seorang jenderal Jepang meminta maaf atas perbuatan tentaranya tempo hari. Ia pun berjanji akan memberi perlindungan pada Katedral. Ia memberi persediaan makanan dan memberi penjagaan ketat di sekitar Katedral. Namun ia juga punya permintaan, yaitu agar murid-murid biara tampil menyanyi dalam perayaan keberhasilan Jepang menakhlukkan Nanking. John yang masih menyamar sebagai pendeta menolak undangan itu. “Mereka sedang di neraka, dengan undangan ini kau sedang meminta mereka untuk merayakan itu,” kata john. Tapi hal itu pun tak digubris oleh sang jendral. Di sini mulai terlihat motif sesungguhnya sang jenderal melindungi Katedral. Salah seorang pelacur memberitahu bahwa tidak mungkin murid-murid di sana nanti hanya akan disuruh menyanyi. Pemerkosaan dan penyiksaan sangat mungkin mereka hadapi.

Merasa tak punya pilihan, murid-murid biara, yang dipimpin oleh Shu, mencoba untuk bunuh diri. Mereka bersiap di atap Katedral untuk lompat. Untunglah aksi itu berhasil dihentikan oleh John dan yang lain. Para pelacur berjanji akan menggantikan murid-murid bernyanyi di perayaan. Yu Mo, pelacur paling cerdas dan bisa bahasa Inggris itu berhasil meyakinkan kawan-kawannya agar mau menggantikan murid-murid biara di perayaan. Ia merasa punya hutang budi begitu besar pada Shu dan kawan-kawannya. Dibantu oleh John yang terbiasa merias wajah mayat, para pelacur ini didandani menjadi layaknya gadis 13 tahun. Tidak lupa masing-masing dipersenjatai dengan peralatan apa adanya, sebagai perlawanan terakhir. “Setidaknya kita mendapatkan mata mereka,” kata salah seorang.

Hari yang ditunggu pun tiba. Truk tentara Jepang telah menunggu di depan gerbang Katedral. Dengan berbaris, satu persatu pelacur yang menyamar menjadi murid biara memasuki truk. Setelah truk dan para tentara meninggalkan Katedral, John segera memanggil para murid biara yang bersembunyi di dalam untuk segera keluar dan bersiap. John menyembunyikan murid-murid di bawah peti dalam truk milik Katedral, kemudian mengendarainya keluar. Mereka berhasil meninggalkan Nanking dengan selamat. Cerita berakhir di sini. John dan para murid tak pernah tahu apa yang terjadi kemudian dengan para pelacur.

Di awal film digambarkan betapa kekurangan peralatan tentara Cina dalam menghadapi Jepang yang sudah memiliki tank. Maka mereka pun menggunakan strategi kuno untuk melawan musuh, yaitu perisai manusia. Para tentara berbaris memanjang ke belakang dan berlari menuju tank musuh. Tentara paling belakang adalah yang membawa rentengan granat di tubuhnya. Satu-persatu tentara dari depan akan jatuh mati ditembaki tank. Sampai akhirnya tersisa tentara paling belakang dan berjarak sudah sangat dekat dengan tank. Saat itu lah tentara paling belakang ini melompat dan meledakkan rentengan granat di tubuhnya bersama tank musuh. Bunuh diri memang, tapi setidaknya mereka tetap melakukan perlawanan sampai tetes darah penghabisan. Nampaknya strategi ini pula yang diadaptasi John dan kawan-kawan.

Film ini mencoba menangkap sebuah tragedi kemanusiaan dalam perang. Tidak ada heroisme berlebihan atau propaganda ideologi dengan warna tertentu. Cerita yang disajikan menampilkan begitu dahsyatnya sebuah pengorbanan sehingga mampu mengoyak emosi penonton. Angle-angle dekat di banyak gambar semakin memperkuat human interest. Drama percintaan antara John dan Yu Mo turut mempermanis jalan cerita. Maka tak heran bila Flowers of War mendapat nominasi Best Foreign Language Film dalam Academy Award ke-84 serta Golden Globe Award. Standing applause untuk film ini. []

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of