Runtah: Fragmen Kedurhakaan Anak

Runtah: Fragmen Kedurhakaan Anak

Lpmarena.com, “Runtah” merupakan cerpen karya Ramadya Akmal yang berkisah tentang kedurhakaan tiga orang anak pada ibunya yang meninggal. Ketiga anak yang hidup di tempat modern yang tak mau mengurusi mayat ibunya yang hidupnya di pinggiran kali.

“Runtah mendeskripsikan dua cara berpikir manusia terhadap dua hal yang berbeda,” kata Ramadya dalam acara diskusi sastra di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM, Kamis (29/7) malam. Latar cerpen Runtah kata Ramadya terinspirasi dari Sungai Citanduy.

Dalam diskusi ini menghadirkan dua pembedah, yakni sastrawan Nissa Rengganis dan Arif Furqan, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sastra UGM.

Dari paparan Nissa, Runtah dalam bahasa Sunda berarti sampah, busuk, kotor. “Runtah bisa diisi dengan banyak tafsir,” jelas Nissa. Menurutnya apa yang diceritakan di Runtah adalah fiksi yang kita temui sehari-hari. Khususnya kritik terhadap perangi anak Nini Runtah. “Yang nyata dan fiksi nyaris tak ada celah. Kisah Danarto tahun 80-an yang absurd, sekarang bisa. Mereka (anak-anak Nini Runtah) sangat materialistis. Memeriksa leher apa ada kalungnya? Bagaimana anak rela memutilasi ibunya,” tambah penulis asal Cirebon ini.

Arif menambahkan narator dalam cerpen ini orientalis, meski tidak sepenuhnya. Ada bagian-bagian di mana penulis mengungkapkan kritiknya terhadap kolonial melalui anak-anak Nini Runtah.  “Cerpen ini ngambil konflik utama kembali ke kampung halaman. Bagaimana yang kolonial bertemu dengan yang tradisional. Anak-anak yang mewarisi kolonial yang kejam pada ibu sendiri,” kata Arif. Kolonialisme di sini memetakan dan membangun kontrol akan ruang.

Yang menjadi titik tekan Arif pada dialektika pembenturan anak yang memiliki mentalitas kolonial dengan semua komedernannya dan kampung halaman dengan tradisi dan daya magisnya.

Menurut Arif, kolonialisme yang mencoba mengubah mental orang modern tidak bisa mengubah ‘jejak’ seseorang secara total. Jejak (identitas) masa lalu selalu menghantui. Ini terlihat pada anak-anak Nini Runtah yang (meski katanya modern) masih menghadiri pemakaman, mereka juga masih percaya takhayul tentang spekulasi mayat ibu mereka yang mungkin disalahgunakan tetangga untuk hal klenik.

Baca juga  Ibu Susu: Dongeng Emansipasi Kaum Leta

“Namun segala usaha menimbulkan jejak, pemakaman ibu jatuh ke anaknya dan ketika membawa jenazah ke peradaban terjadi hal-hal yang tak diinginkan, seperti dalam tahayul, tubuhnya untuk pesugihan,” jelas Arif. Ini menunjukan usaha perubahan identitas (rewriting space / identity) selalu meninggalkan kebocoran jejak dan kepercayaan-kepercayaan masa lalu dan dalam hal ini cerpen ini bermain.

Kritik Nissa pada cerpen ini, di cerpen ini tokoh Runtah minim pendeskripsian. Ia seperti datang dari lorong yang gelap. Dan tiga anaknya sendiri mengalami kemiskinan pikiran.

“Siapa yang lebih miskin? Anak atau orang tua? Ini persoalan hari ini. Orang yang tidak menghargai kematian, tidak bisa menghargai hidup,” kutip Nissa dari film The Last Samurai.

Dari tanggapan Ramadya sendiri terhadap dua pembedah, cerpen ini tidak berbicara tentang keterpinggiran, kemiskinan, atau kekumuhan. “Keberpihakan saya jelas. Tiga anak ini saya pecundangi, menghadirkan mereka sebanyak mungkin untuk itu,” kata Ramadya.

Seperti yang Ramadya katakan di awal, penulis yang menjadi pemenang unggulan lomba penulisan novel DKJ 2010 ini mengatakan Runtah merupakan perbedaan dua sudut padang, determinan antara anak dan ibu.

“Runtah identitasnya jelas, meski tidak ada simbol. Seperti tokoh Ursula dalam novel Gabriel Garcia Marquez yang nggak mati-mati sampai tujuh turunan. Dia mewakili sesuatu yang magis meski minim pendeskripsian,” ujarnya. (Isma Swastiningrum)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of