Etika Palsu dalam Sirkus Politik

Indonesia, sebuah negara besar dengan ribuan pejabat pemerintahannya. Pejabat pemerintah yang seharusnya mengemban amanat rakyat dengan penuh tanggungjawab. Film ini ingin menceritakan kisah kecil potret keluarga seorang pejabat.

Yan seorang pejabat pemerintah yang mempunyai istri dan tiga anak. Istrinya bernama Ratna, seorang guru filsafat. Sedangkan ketiga anaknya bernama Firman, Satria, dan Dian. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda-beda.

Firman seorang pengangguran yang bercerai dengan istrinya. Satria adalah pengusaha muda yang penuh ambisi untuk meraih impiannya. Sedangkan Dian adalah anak terakhir dan telah bertunangan dengan Hasan seorang DPR muda.

Di awal cerita terdapat kata pembuka menarik yang diucapkan oleh Ratna saat mengajar di kelas.

“Ada marxian paham etika yang punya peraturan paham emas, lakukan kepada sesamamu apa yang ingin kau dapatkan dari mereka, tapi pada kenyataan empiris tidak berkata seperti itu”

Jika dihubungkan dengan kondisi politik sekarang, banyak sekali orang yang mempunyai etika palsu. Mereka yang menginginkan sebuah jabatan/kedudukan melakukan segala cara agar tercapai. Setelah mendapatkan posisi itu mereka melupakan sebuah etika untuk mempertanggungjawabkan perkataannya.

Sebagai seseorang pejabat, Yan berjalan lurus mengemban tugasnya. Kehidupan mereka mulai dipenuhi berbagai masalah ketika Satria dibujuk oleh Hasan. Hasan ingin Satria memaksa ayahnya untuk memberikan jatah proyek pembagunan. Akhirnya proyek tersebut dapat jatuh ke tangan Satria. Seiring berjalannya waktu, ternyata Satria termakan oleh ambisinya untuk memperoleh keuntungan yang besar. Bujukan dari Hasan untuk terus berbuat kecurangan yang ia lakukan. Firman menjadi seorang kurir untuk mengantarkan uang yang tidak jelas fungsinya.

Diam-diam Hasan menembunyikan sebuah rahasia. Hasan ternyata sudah mempunyai seorang istri dan anak. Hasan yang haus akan kekuasaan memanfaatkan hubungan tunangan dengan Dian. Masalah semakin tumbuh besar dan mengotori nama Yan sebagai pejabat yang lurus.

Baca juga  Ajakan Anti Korupsi Lewat Film Sebelum Pagi Terulang Kembali

Di akhir puncak konflik pada film ini, kita dapat melihat contoh kecil sirkus politik yang mungkin banyak terjadi di Indonesia. Sekarang sirkus bukan lagi di atas panggung untuk menghibur semua orang. Banyak bermunculan sirkus-sirkus lain yang hanya menghibur beberapa orang saja. Tidak menutup mata, bahwa di Indonesia sudah banyak bermunculan sirkus politik. Ternyata selama ini Dian telah menjadi korban sirkus politik Hasan tanpa sepengetahuannya.

Dian terpukul akibat penipuan dari Hasan. Firman dan Satria tertangkap oleh KPK karena terbukti bersalah. Keluarga Yan semakin terpuruk dan mencoba untuk bangun kembali. Meskipun tidak berakhir bahagia selakyaknya film drama lainnya, terdapat kata penutup dari Ratna saat mengajar di kelas. Perkataan ini cukup baik untuk kita renungkan.

“Mengapa kalian mengambil kelas ini? Untuk apa kalian tahu logika, epistemologi, bahasa, berpikir induktif, maupun etika? Tanpa ada di kelas ini kalian sudah tahu benar dan salah. Semua dapat dilihat di sekitar kita. Kita ini sebenarnya hanya sekumpulan nilai-nilai, seonggok tradisi, dan teori. Nilai yang ditentukan oleh nenek moyang kita, agamanya, kebudayaannya dan nilai diri kita sendiri. Barang siapa yang tidak taat pada asas, maka dia terbuka dalam berbagai macam kejahatan. Dijahati atau menjahati. Asas apa yang mau dipegang? Mau percaya kepada siapa? Lalu bagaimana dengan kejujuran, terutama jujur terhadap diri sendiri.”

Judul film        : Sebelum Pagi Terulang Kembali

Sutradara         : Lasja F. Susatyo

Produser          : M. Abduh Aziz

Studio              : Cangkir Kopi Production

Durasi              : 01:39:11

Tahun              : 2014

Lisa Masruroh, mahasiswa semester III jurusan PGMI Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga .

Beri Komentar

Send this to a friend