Bedah Cerpen Eko Triono: Bertanya Agama Pohon

Bedah Cerpen Eko Triono: Bertanya Agama Pohon

Lpmarena.com, Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon merupakan cerpen karya Eko Triono yang dimuat di Kompas, 28 April 2013. Selasa (27/10), diskusi cerpen tersebut diadakan di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM.

“Saya tak tahu kenapa pohon mangga, rambutan, hidup berdampingan memiliki akar sendiri dan sama-sama menghasilkan buah. Mereka tidak bertengkar dan hidup berdampingan dengan damai. Saya ingin tahu agamanya apa?” kata Eko.

Menurut Moh. Atiqurrahman (mahasiswa S2 Ilmu Sastra FIB UGM), pembedah cerpen, singkatnya, cerpen ini berkisah tentang seorang wanita janda yang bercerai dengan suaminya dikarenakan perbedaan agama. Yang menjadi masalah anak sewata mayangnya diasuh oleh suami si janda yang kemudian si janda bertemu pacar lamanya dalam bus, dan terlibatlah mereka dengan percakapan-percakapan filosofis.

Jika cerpen biasanya ada pembuka dan penutup, cerpen Eko ini tidak patuh. Model seperti ini tampak pada cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan karya Umar Kayam yang lebih berfokus pada cerita.

Mengambil pisau analisa Levebre, Atiqurrahman menjelaskan dalam waktu terdapat evolusi, keunikannya sendiri. “Ada moment di tiap waktu. Pemilihan momentum adalah kerumitan yang telah atau nanti terjadi,” kata Atiqurrahman. “Untuk membangun suasana, Eko memilih kata-kata yang bersayap dan wah. Efek sampingnya banyak yang kewalahan memahami ceritanya,” tambahnya.

Menurut Ahmad juga, salah satu peserta diskusi, dalam cerpen ini Eko abai tentang kekuatan tokoh yang tidak menemukan karakternya. “Tidak semua karya yang sulit dimengerti bagus. Dalam proses alur, terlalu banyak yang diceritakan tapi poinnya gak dapat,” kritik Ahmad.

Menanggapi ini Eko Triono berkata bahwa bagi penulis kreatif, penulis tidak membuat karyanya sama dengan teori.

Ada tiga hal yang membedakan cerpen ini dengan cerpen yang lainnya bagi Edi Iyubenu sastrawan sekaligus pembedah cerpen. Pertama, ide. Eko memakai psikologi imajinasi Sartre. Kedua, gaya bercerita/bertutur yang tidak biasa. Ketiga, Gaya bahasa. “Saya ingin Eko mengembangkan karakter yang ada di cerpen Agama Pohon-pohon. Bukan nyari yang baru, tapi menulis sesuatu yang berkarakter tentang hal itu,” kata Edi. (Isma Swastiningrum)

Komentar

komentar

Baca juga  Pos Polisi UIN Dibakar, Polisi Tangkapi Massa Aksi

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of