(Welcome!) Tetangga Baru

Setiap melewati kantor SEMA dan DEMA di dalam Student Center, yang terlihat hanyalah kekosongan. Ruangan yang luas itu jarang sekali-hampir tidak pernah- dipenuhi diskusi, petikan gitar, perselisihan maupun gemuruh tawa penghuninya. Tidak seperti rumah-rumah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lain yang selalu penuh gemuruh dalam menuliskan sejarahnya.

Ada banyak surat masuk diselipkan di bawah pintu yang selalu terkunci itu. Surat yang tak pernah dibuka apalagi dibaca oleh orang-orang SEMA dan DEMA. Sayang sekali, padahal mungkin surat itu mengantar kerja sama atau undangan dengan makanan mewah. Alangkah malang dua ruangan itu, hanya dipenuhi sarang laba-laba, debu yang setiap hari menebalkan diri, mungkin juga Jin dan Dedemit telah menguasai.

Kita telah merayakan pesta (tidak) demokrasi. Pemilwa usai digelar, hanya tersisa cerita. Cerita tentang Panitia Pemilihan Umum Mahasiswa (PPUM) di berbagai Fakultas yang tidak demokratis. Pelaksanaan pemilwa nampak tertutup. Kawan-kawan pers dilarang masuk ke tempat penghitungan suara. Itu jelas membunuh logika demokrasi yang seharusnya transparan.

Baiklah, saya ingin kembali ke dua ruang kosong itu. Mahasiswa telah memilih HMJ. Mereka yang terpilih nanti akan menentukan Dewan dan Senat Mahasiswa. Bisa diartikan, Pemilwa ini mencari pemimpin dan penghuni baru untuk ruangan itu. Harapannya, semoga penghuni baru bisa betah, mampu beradaptasi dengan tetangga-tetangga di Student Center, tidak misterius seperti penghuni sebelumnya.

Mahasiswa butuh pemimpin baru yang mengerti tentang semangat perubahan. Perlu adanya kehancuran total untuk suatu perbaikan, kata kaum nihilis. Perombakan mind set itu perlu agar pemimpin baru tidak selalu mengekor terhadap sistem kerja maupun pemikiran pemimpin sebelumnya. Tanpa perombakan, mereka hanya akan menjadi pemimpin yang tak lebih dari formalitas belaka tetapi miskin pencapaian dan semangat kerja. Senior-senior di belakang mereka akan selalu menghantui. Tanpa perombakan, dua ruangan itu akan tetap menikmati kekosongannya.

Nurul Ilmi

Sumber gambar www.deviantart.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of