Sastra Lokalitas dalam Puya ke Puya

Lpmarena.com, Puya ke Puya merupakan novel karya penulis muda Faisal Oddang yang mendapatkan juara IV dari Dewan Kesenian Jakarta 2014. Riset novelnya sediri satu tahun. Bercerita tentang kebudayaan di tanah Toraja umumnya. Meski dirinya bukan orang Toraja, Faisal bercerita untuk membuat novel ini ia bolak-balik Toraja-Makasar selama 9-10 jam. Menggunakan narasi empat narator, novel ini juga bercerita tentang cinta dan kematian.

“Saya bahas kenapa orang Toraja dikuburkan di tempat tinggi? Karena dekat dengan surga. Saya berkarya tak jauh dari Toraja,” kata Faisal dalam diskusi novelnya tersebut di Dongengkopi & Indiebok, Gorongan Caturtunggal, Minggu (20/12).

Kata sastrawan sekaligus pembedah Bernard Batubara ketika membaca Puya ke Puya pada sepuluh halaman pertama bersikeras memperjuangkan tanah untuk ayahnya sendiri. Titik yang mestinya digali dalam ialah perasaan tokoh utama yang dilematis dengan berbagai cara.

Kedilematisan itu dijabarkan Faisal kala mengenang masa kanak-kanaknya yang juga menjadi inspirasi dalam novelnya. “Sejak kecil ayah saya berkata: pohon punya nyawa. Coba dahannya patahkan, akan keluar darah,” kata Faisal metaforis.

Menurut Bara, ia melihat banyak tulisan Faisal yang punya kesadaran menyeluruh tentang isi-isu-teknik. “Ada usaha Faisal menyampaikan isu adat dan lokalitas. Faisal punya satu keperpihakan yang baik. Saya melihat dia punya stamina panjang menggali budaya,” kata Bara.

Meski begitu, terang Bara ketika penulis berusaha mengangkat budaya, penulis terjebak dalam sudut pandang pemaksaan. Satu etnis disorot jauh tapi tak mencoba masuk ke dalamnya. Cuma objek penelitian. Salah satu gejala satu gejala pendekatan eksotisme itu ketika berjejalan istilah lokal untuk menunjukan itu lokal.

Lokalitas memang merupakan isu seksi, tapi bagi Bara tidak seksi lagi ketika penulis tidak mencoba masuk ke dalam. “Lokalitas tak hanya tataran bahasa dan bentuk, tapi lebih dari itu,” kata Bara.

Baca juga  Tentangmu yang Kulebih-Lebihkan

Puya Ke Puya menurut Bara merupakan tulisan lokalitas yang baik, karena penulis dalam menyampaikan dalam bahasa tidak mabuk dalam lokalitasnya. “Kita berharap Faisal nyampein sisi-sisi di Sulawesi dengan cara menulis yang menyenangkan,” ucap Bara.

Reporter dan Redaktur: Isma Swastiningrum

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of

Send this to a friend