Oleh: Rudi Santoso*
ANDAI AKU TUHAN, IBU
Andai aku Tuhan, ibu
Akan aku bangun istana-istana megah
Bertaman indah
Berkebun buah
Kau tinggal memetik semaumu
Sebab itu hadiah
Atas air mata yang selalu aku hujankan pada pipimu
Andai aku Tuhan, ibu
Umurmu tak akan ku batasi
Rupamu akan ku jadikan berseri
Hingga tua tak bermusim ditubuhmu lagi
Andai aku tuhan, ibu
Pagi-pagi tak usah kau buat kopi
Kepada bapak
Kepada anakmu
Kepada menantumu
Ibu meminum saja
Di meja kamar
Sebab, sebelum ibu menjemput pagi
Telah aku sediakan di meja kamarmu
Seluruh makanan dan minuman
Hanya andai
Bila aku menjadi Tuhan, ibu
Tapi dalam cita-citaku
Telah aku cipta mimpi
Bahwa hujan hanya kuselipkan dalam sajakku
Tidak pada pipimu
Yogyakarta, 2015
HARI IBU
Pada hari
Yang katanya Hari Ibu
Tak bisa aku mengucapkan apa-apa
Selain doa
Selain rinduku kepadamu
Rindumu kepadaku
Yang hanya kita sampaikan lewat doa
Sebab belasan tahun kita jarang bermusim bersama
Pada hari
Yang katanya Hari Ibu
Padamu ibu
Kuucapkan dalam semilir angin dan doa
Semoga tua tak lekas-lekas bermusim di tubuhmu
Dan tuhan tidak terburu-buru mendatangkan masa
Di mana engkau harus menyepi
Dengan kain putih
Dan aku tidak ingin cepat-cepat mengucapkan selamat tinggal
Sebab aku belum memenggal hujan di pipimu
Yogyakarta, 2015
*Penulis lahir di Sumenep, Madura, 30 November 1993 .Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini menjadi penikmat sastra di Balngkon Art Yogjakarta. Beberapa karyanya terbit dalam antologi cerpen den puisi (Antologi Kopi Rakyat 2014), masuk 100 puisi terbaik dalam event cipta puisi “SURAT CINTA ASAP” (Penerbit Inrilista) dan juga dimuat di berbagai media cetak. Email: rudisantoso042@gmail.com.