Assasination: (Ber)kuasa Tanpa Perang

Sekitaran abad ke 19 awal, kata “perang” sering sekali terpandang oleh telinga. Waktu yang telah lampau dikarenkan zaman yang terus bergerak hanya mampu disikapi dengan mendengar. Tidak untuk menyingkirkan mata yang cocok untuk fungsi memandang itu sendiri. Akan tetapi dentuman bom, letupan senjata, bahkan harmonisasi campuran tangis, jerit, dan semangat yang termuat dalam buku hanyalah menjadi sebuah bisikan bagi telinga kita untuk lebih bisa merasakan “yang waktu itu”.

Kata “memperebutkan” (atau yang lebih pantas mungkin merebut) acap kali bersanding dengan “perang”. Seperti pasangan pengantin yang memang masa-masa kemesraan dari keduanya sedang mekar. Di mana-mana antara satu tempat dengan yang lainnya selalu kata tersebut muncul berdua. Yah terkadang membuat iri jiwa yang merasakannya dikarenakan ketaksampaian khayalan yang bersandar atas kedua kata tadi. Mungkin tak apalah untuk dijadikan hiburan murah di waktu sendiri.

Cerita mengenai kata memperebutkan (merebut tepatnya) terdapat kesan yang kurang menyenangkan bagi saya. Dia “berselingkuh” dengan kata lain selain perang. Mempersembahkan, strategi, kelicikan, kemunafikan, kedzoliman dan lainnya menjadi kata selingkuhannya. Di satu sisi terkadang saya berfikir mungkin itu terselip manfaat yang lebih besar yang nantiya didapat. Tetapi, saya berubah pikiran ketika melihat sebuah cerita yang amat menyesakkan telinga untuk terus menampung makna darinya.

Cerita itu sendiri berasal dari sebuah negara di kawasan Asia Timur, yaitu Korea. Kata “memperebutkan” tidak bersama dengan perang, tetapi bersama dengan “mempersembahkan”. Kata itu terucap dari gerak langkah, laku picik serta omongan politis para pejabat negara. Hal inilah yang membuat pemberontakan yang dilakukan pada waktu itu tidak hanya kepada musuh (yaitu Jepang), tetapi juga kepada sesama orang Korea.

Dalam cerita tersebut tidak secara porsi lebih banyak menyampaikan prosesi perselingkuhan “memperebutkan dengan mempersembahkan” akan tetapi lebih banyak ke prosesi pemberontakannya. Bukan maksud untuk mengambil hal liyan dari cerita tersebut. Akan tetapi ada awal yang bisa saya ambil serta akhir yang bisa saya peroleh. Sementara untuk tengahnya mari bersama berdialog. Soalnya agak terlalu heroik dirasa.

Ceritanya sendiri seperti ini.

***

Pada tahun 1911, di Hotel Sontaq, Gyeongseong, Korea terdapat sebuah pertemuan antara Chongdok (gubernur) Jepang dengan seorang pejabat dari Korea (Kang In Guk) yang menginginkan sebuah kekuasaan dari pemerintahan Jepang. Pada waktu itu Jepang sendiri sedang menjajah daerah Korea. Terjadi sebuah pemberontakan yang berusaha untuk membunuh Chongdok. Bom meletus, serta senjata api terus saja meraung dari mana-mana. Melihat Chongdok yang sedang terluka, Kang In Guk mencoba menolongnya. Membawa pergi dari tempat yang sedang menjerit ke tempat yang lebih aman. Pertolongan itu sendiri dimaksudkan untuk mendapat kepercayaan serta persaudaran dengan penjajah yang berkuasa.

Istri Kang In Guk yaitu Sangmu-nim menjadi aktor pemberontakan di Hotel Sontaq tersebut. Dia memerintahkan kepada seseorang untuk melakukan pembunuhan terhadap gubernur dan juga suaminya sendiri. Mempersembahkan kedaulatan Korea kepada Jepang tanpa melalui perang menjadi alasan yang melandasi.

Baca juga  Festival Film Disabilitas Menggugah Kesadaran Difabel

Sangmu-nim pun pergi dari rumah menuju ke Manchuria, daerah yang menjadi markas tentara kemerdekaan Korea skuadron tiga. Dia pergi dengan membawa kedua putrinya yang belum genap setahun usianya. Akan tetapi, di tengah perjalanan dia dibunuh oleh anak buahnya sendiri atas perintah Kang In Guk. Putri satunya dibawa kembali kerumah sementara satunya lagi sampai ke Manchuria.

Sekitaran tahun 1932, terjadi konsesi Jepang di Shanghai. Penyerangan dilakukan demi menjaga keamanan di wilayah Asia Timur. Yang di mana pada waktu itu Shanghai dikendalikan oleh daerah luar (Perancis). Jepang menyebut ini sebagai perang suci. Dalam perang itu sendiri, Joseon (Korea) melalui Kang In Guk menyumbang 10 pesawat kepada Jepang. Yang menunjukkan kesetiaan Joseon dalam melayani Jepang ketimbang melayani rakyatnya.

Tahun selanjutnya, 1933, di daerah Hangjeou/Hangzhou, tempat kekuasaan pemerintahan sementara Dehan Minguk, Kim Goo, terdapat pertemuan dengan seorang tukang obat, Kim won Bong. Dalam pertemuan tersebut terdapat sebuah misi pembunuhan di Gyeongseong. Ahn Ok Yoon, Hwang Deok Sam serta Chu Sang Ok dengan julukan Sok Sa Po menjadi orang yang dipilih untuk melakukan misi tersebut. Yeom Seok Jin, seorang kapten yang berada di bawah pemerintahan sementara ditugaskan untuk menjemput mereka bertiga.

Ahn Ok Yoon adalah seorang penembak jitu anggota tentara kemerdekaan skuadron  tiga yang dipenjara di Manchuria karena menembak atasannya. Sementara Hwang Deok Sam dan Chu Sang Ok adalah seorang tahanan di Shanghai. Mereka dikumpulkan di Hotel Mirabeau, Shanghai. Untuk nantinya bertemu dengan Kim Won Bong guna menjalankan misi. Target dari misi ini sendiri adalah Momaru Kawaguchi, komandan tentara Joseon yang membunuh sekitar 3679 warga Manchuria dan yang satunya adalah Kang In Gook, seorang pengkhianat.

Misi itu sendiri akan dilaksanakan pada tanggal 7 November. Ahn Ok Yoon ditunjuk menjadi Dejang (ketua regu). Peyusunan strategi pun dilakukan. Sebelum pergi, mereka berfoto bersama dan berkata “demi kemerdekaan Korea”. Keesokan harinya mereka sudah pergi ke Gyeongseong.

Sementara itu ditempat lain, Yeom Seok Jin membocorkan misi ini kepada pihak Jepang. Guna mendapatkan kekuasaan dari Jepang menjadi landasan atas penghianatan tersebut. Akan tetapi, ketika pihak Jepang menyerbu hotel Mirabeau, mereka sudah pergi. Pertemuan yang dilakukan diajukan dari jadwal yang diketahui oleh Yeom Seok Jin.

Yeom Seok Jin merubah strateginya dengan menyewa seorang pembunuh bayaran, yaitu Hawai Pistol. Itu adalah sebutan yang sering disematkan padanya. Yeom memberikan misi kepadanya untuk membunuh tiga pemberontak tadi. Dengan imbalan uang yang lumayan untuk dihitung. Sementara tu, Hawai Pistol sendiri sebelumnya sudah bertemu dengan Ahn Ok Yoon di Mirabeau.

Dalam menjalankan misi pembunuhan terhadap Kang In Guk dan Momaru Kawaguchi, Ahn Ok Yoon dan Dongjinya (kamerad) gagal. Hal ini dikarenakan Yeom Seok Jin yang meaporkan kepada militer Jepang bahwa akan ada pembunuhan terhadap kedua orang tadi. Kegagalan itu sendirinya harus dibayar dengan terbunuhnya Hwang Deok Sam. Sementara Ahn Ok Yoon selamat. Untuk Chu Sang Ok sendiri hilang setelah ditembak oleh Pistol Hawai.

Baca juga  Konsumen Film Abal-Abal Serta Dampaknya

Yeom Seom Jin yang telah berjasa pada Jepang diberikan sebuah penghormatan. Dia diangkat menjadi anggota dari badan penyidik khusus dan mata-mata.

Misuko, putri Kang In Guk yang juga saudara kembar dari Ahn Ok Yoon mengetahui keberadaan saudaranya tersebut. Tanpa sepengetahuan Kang In Guk, Mitsuko menemui Ahn Ok Yoon.

Kang In Guk mengetahui bahwa orang yang berusaha membunuhnya adalah anak kembarnya yang dulu dibawa ke Manchuria. dia mendatangi dan membunuh anaknya. Namun naas, wanita cantik yang ditembaknya bukanlah Ahn Ok Yoon, tetapi Mitsuko yang sedang menemui saudaranya. Dia tidak mengetahui kalau itu adalah Mitsuko.

Ahn Ok Yoon pun menyamar sebagai Mitsuko, wajah yang memang sama persis membuat orang-orang mengira dirinya adalah Mitsuko. Pernikahan yang akan segera dilakukan oleh Mitsuko digantikan olehnya. Dari sini dia berencana akan membunuh Kang In Guk dan Momaru kawaguchi dalam pesta pernikahan.

Hawai Pistol yang tadinya berencana untuk membunuh Ahn Ok Yoon berganti membantunya. Dalam pesta pernikahan, Ahn Ok Yoon berhasil membunuh Momaru Kawaguchi. Sedangkan ketika hendak membunuh, Kang In Guk, yang sekaligus ayahnya dia dibantu oleh Hawai Pistol karena rasa pribadi yang tiba-tiba muncul. Dalam ini memang sering terjadi. Seperti cerita dari Hawai Pistol yang berkata tentang delapan orang yang pro Jepang. Para anaknya yang mengatasnamakan Serikat Pembunuh Ayah Kandung bersepakat melakukan pembunuhan. Tetapi tidak jadi melakukan pembunuhan dan akhirnya bernasib malang, seperti dirinya salah satunya.

Tanggal 2 September 1945, Jepang menyatakan untuk menyerah. Jepang mengembalikan kekuasaan kepada pemerintahan sementara Republik Korea. Ini sebagai penanda berakhirnya penguasan Jepang atas Korea.

September, tanggal 2 tahun 1949, digelar sidang atas tindakan anti-nasional. Yeom Seok Jin menjadi terdakwa dalam hal ini atas tindakannya pada tahun 1933. Akan tetapi, dia bisa lolos dari jerat hukum dan bebas kemudian menjadi warga Korea. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Ahn Ok Yoon yang masih dikira Mitsuko. Juga ada Dongji yang dulu setiya menemaninya, Myeong Woo. Kematian pun menjadi akhir dari cerita ini. Dengan kata “pembunuhan” tentunya.

***

Ya mungkin itulah cerita yang membuat saya berubah pikiran tadi. Perselingkuhan kata yang paling keji untuk dilihat oleh telinga. Dan memang perselingkuhan itu sendiri menjadi jalan yang mungkin teraplikasi di masa yang terus berlari ini.

Judul Film: Assasination (Korea: Amsal) │ Sutradara: Choi Dong Hun │ Tahun: 2015 │ Negara: Korea Selatan │ Pemain: Ha Jung-Woo, Gianna Jun, Lee Jung-Jae, Cho Jin-Woong, Choi Deok-Mun, Oh Dal-Su, Lee Kyoung-Young. │ Peresensi: M.A. Rouf

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of