Stabilisasi Kelas Menengah dan Penundaan Revolusi

Oleh: Miftahur Rahman*

Dalam Das Capital pertama, Marx mungkin masih muda dan cukup gegabah dengan menuliskan forceting atau peramalan bahwa “Kapitalisme akan menghancurkan dirinya sendiri” pernyatannya ini ia landaskan dengan dasar bahwa monopoli dan ekspansi yang dilakukan kaum borjuis akan menyebabkan penambahan jumlah kaum proletar. Mereka yang terus tertindas sebagai buruh, serta persaingan yang semakin kuat antara para borjuasi akan menyebabkan bertambahnya pengangguran. Di mana mereka para borjuis yang kalah saing dan turun dari kelas borjuis menjadi proletar atau bahkan pengaguran akan melahirkan revolusi dan perlawanan terhadap sistem ini. Selain itu, sentralisasi alat-alat produksi dan sosialisasi kerja pada akhirnya dapat mencapai titik di mana mereka tidak memadai lagi dengan lapisan kulit kapitalis.

Dalam pandangan Karl Marx pertarungan hanya menjadi milik antara kelas proletar dan kelas borjuis. Apabila ada borjuis yang tumbang atau jatuh miskin mereka akan bergabung kedalam kelas proletar. Namun kenyataanya dalam pertarungan kelas yang terjadi malah melahirkan kelas massa rakyat baru yakni masyarakat kelas menengah yang jumlahnya semakin membengkak pada abad ke-20 ini. Kelas menengah tumbuh menjadi masyarakat yang makmur dan seolah-olah terlepas dari jerat kemiskinan yang menghantui.

Para ekonom yang sejak awal berangkat dari asumsi Adam Smith, sudah menyadari kelemahanya dan memperbaiki kesalahan mereka. Dengan adanya kelas menengah yang terlihat sejahtera ini, mereka ingin mempertahankannya dan konsekuensinya adalah kelas borjuis yang semakin sedikit. Akibatnya sistem kapitalisme terlihat semakin humanis daripada apa yang digambarkan Marx mengenai wajah kapitalisme awal di Inggris.

Melalui teorinya Keynes hukum besi dalam ekonomi yang menjadi dasar dari argumen Marx mulai sedikit bergeser. Meskipun Marx menginginkan negara hadir dan menghilang sendirinya dari masyarakat sosialis menjadi sistem massa rakyat yang komunis. Tetapi dengan adanya negara, imperialisme dan monopoli pasar dengan kamuflase perdagangan internasional semakin parah terjadi di abad ke-20 yang ditujukan dari negara maju menuju pasar yang sangat konsumtif di negara berkembang.

Pertanyaannya sekarang adalah kenapa revolusi belum terjadi? Dengan adanya konsep investasi, aset atau barang produksi tidak hanya dimiliki oleh perorangan melainkan milik bersama. Hal ini menjadikan sang borjuis membagi kepemilikan modalnya dan membagi keuntungan usahanya sesuai kontrak. Negara menjadi penyedia pendidikan gratis atau murah untuk mendukung sosialisasi kerja dan peningkatan mutu pekerja, yang dibiayai oleh pajak. Bahkan pengangguran yang berpotensi menjadi proletar dan melakukan revolusi diberikan penghasilan dengan asuransi pengaguran, atau mereka para buruh yang berpotensi jatuh miskin karena harus membiayai biaya kesehatan yang mahal diberikan asuransi kesehatan.

Kapitalisme menjadi sebuah sistem ekonomi yang sangat humanis dengan adanya hal-hal ini, terlebih lagi neo-marxsisme atau pun post-marxsisme tidak ada yang bergerak dalam kritik ekonomi lagi. Kapitalisme menyadari kelemahanya dan demi mempertahankan eksistensinya ia menggolongkan negara kedalam bentuk-bentuk kelas yakni kelas negara maju, berkembang, dan tertinggal, melalui standar kesejahteraan teretentu yang sudah ia tetapkan untuk menggolongkan negara tersebut.

Tingkat inflasi suatu negara merupakan salah satu standar untuk dikatakan negara itu sejahtera atau tidak. Sementara itu di negara berkembang seperti Indonesia tingkat inflasi sangat dipengaruhi oleh negara maju. Hanya dengan menaikkan 2% saja bunga perbankan di Amerika maka cadangan devisa berupa investasi asing akan langsung turun akibat dolar keluar dan kembali ke Amerika. Akhirnya mau tak mau pemerintah di negara berkembang itu harus mengutang lagi agar cadangan devisanya bertambah.

Cara pemiskinan suatu negara yang paling kejam menurut saya, bukan dengan perang ataupun bencana negara berkembang tetap menjadi berkembang tetapi dengan mencekokinya hutang. Belum lagi ketika negara tersebut ingin mengembalikan hutang yang sudah jatuh tempo maka trik yang dilakukan negara maju tersebut adalah dengan menjatuhkan nilai tukar negara berkembang itu alhasil hutang internasional yang tidak berbunga itu mengalami kenaikan pengembalian akibat melemahnya nilai tukar negara kreditur.

Satu-satunya jalan agar terbebas dari imperialisme dan pemiskinan sistematis melalui hutang ini adalah revolusi. Namun jika bagi Marx penggerak revolusi adalah mereka kaum proletar maka bagi saya, penggerak revolusi kali ini adalah seluruh rakyat Indonesia yang di mana hutang negaranya jika dibagi kepada tiap kepala jumlah penduduk negaranya saat ini adalah sekitar 15 juta atau bahkan lebih.[]
*Penulis masih bingung antara lulus 5 tahun jadi wartawan atau lulus 4 tahun jadi pegawai koperasi.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of