Kemerdekaan Beragama sebagai Wujud Keadilan

Kemerdekaan Beragama sebagai Wujud Keadilan

Lpmarena.com, Beberapa upaya Gus Dur dalam memperjuangkan hak-hak warga negara, belum selesai. Termasuk di antaranya adalah mengenai hak kebebasan warga negara atas keyakinan mereka sendiri.

“Kalau kita bicara konsep keadilan, maka berarti hak yang sama diberikan kepada suatu kelompok sesama warga negara. Dia akan berlaku juga prinsip tersebut kepada warga negara yang lain,” ungkap Alissa Wahid dalam acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng dalam rangka memperingati enam tahun kepergian Gus Dur di Pondok Pesantren Nurul Ummahat, Kota Gedhe, Bantul, Yogyakarta pada Sabtu (9/1).

Menurut Alissa yang mempersulit terwujudnya kebebasan warga negara dalam memeluk keyakinan mereka sendiri adalah persoalan birokrasi. Di Indonesia untuk mendapatkan legitimasi atau pengakuan, suatu agama harus memenuhi prosedur sistem yang dinilai rumit.

“Kalau agama diakui atau tidak, ini nanti menentukan ada dirjennya atau tidak? Ada anggarannya atau tidak? Ada pembinanya atau tidak? Nah, ini lah yang membuat susah,“ tambah putri sulung Gus Dur ini menjelaskan.

Alissa juga menceritakan perjuangan Gus Dur dalam membebaskan etnis Tionghoa dari diskriminasi yang dilakuakan pemerintah terhadap mereka ketika Orde Baru.

“Persoalannya bukan persoalan kelompok apa, tetapi kalau yang tertindas, dilemahkan, mustadhngafiin (orang-orang yang dilemahkan-red), itu yang dicarikan keadilannya,” terangnya.

Harapan Alissa, pengkajian Gus Dur pada malam tersebut tidak mengkaji untuk memuja dan memuji Gus Dur, melainkan mengambil inspirasi pada Gus Dur, kemudian menyerap dan menjadikannya bagian dari diri kita. Sehingga besok bisa berjuang sesuai dengan diri masing-masing.

Dalam acara yang juga dinarasumberi oleh budayawan Cak Nun, Alissa mengaku sempat sambat ini Indonesia mau dibawa kemana? Menengok ke kanan masalah, ke kiri masalah. Sementara rakyat terus saja kalah.

Baca juga  Ketika Warna Kulit Menentukan Nasib Manusia

“Rakyat ini kok yo kalah terus. Kok selalu yang menang itu orang-orang yang punya kekuasaan, tetapi melupakan prinsip tashorruful imaam ngalaarrongiyyah manuuthun bil maslakhakh. Justru keputusan atau kebiasaan pemimpin itu harus menjadi, harus diperuntukkan bagi kemaslahatan umat. Kok ini dilupakan. Dan ini adalah kaidah yang selalu diulang-ulang oleh Gus Dur,” terangnya dengan ironi.

Magang: Syakirun Ni’am

Redaktur: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of