Overdosis Isu

Oleh: Ajid Fuad*

Tanah air kita Indonesia, baru-baru ini diselimuti berbagai macam isu, yang ternyata mampu menghangatkan semua kalangan masyarakat, meskipun tak sampai gosong. Seperti peristiwa Malapetaka 15 Januari atau biasa disebut MALARI. Dimulai dari Papa Minta Saham yang dipopulerkan oleh Setya Novanto yang akhirnya mendapat nominasi berita paling hits sepanjang 2015 oleh beberapa media mainstream. Isu ini mengalahkan alumnus-alumnus berita hits lainya, seperti pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri, gejolak rupiah, bencana asap, dan hukum mati terpidana narkoba, bahkan kasus prostitusi artis pun tak mau ketinggalan jadi berita hits.

Di awal tahun 2016 dibuka oleh berita hits tentang clekopan kontroversial hakim dari Pengadilan Negeri Sumatrera selatan yang bunyinya: “Membakar hutan itu tidak merusak lingkungan hidup, karena masih bisa ditanami lagi”. Sungguh mistis sekali ternyata clekopan tersebut mampu memenangkan PN Palembang sebagai aktor pembakaran hutan. Sontak meme-meme di medsos (media sosial) bermunculan yang kurang lebih seperti ini: “Membakar hakim tidak merusak sistem peradilan, karena masih bisa pilih hakim baru lagi”. Ah, tambah mumet mikir yang satu ini.

Nah banjir isu terus berlanjut, tepat pada tanggal 14 Januari 2016 bertepatan pada deadline penawaran divestasi saham Freeport yang katanya penawaran tersebut paling lambat selama 90 hari terhitung mulai 14 Oktober 2015. Nah tepat pada hari yang sama deadline Freeport terjadi sampai enam kali pemboman di kawasan Sarinah, Jakarta. Iya Jakarta pusat pastinya, karena Jakarta merupakan kota yang paling tersorot oleh masyarakat Indonesia baik dunia nyata maupun maya, baik makhluk kasat mata maupun makhluk tak kasat mata.

Nah, memang menjadi adat istiadat bahwa di balik peristiwa besar, biasanya ada isu yang ingin dialihkan. Karena Freeport termasuk peristiwa besar dan menyangkut hajad orang-orang elit yang besar kantongnya di dalam maupun di luar negeri. Bagaimana mungkin pihak Freeport diam saja di tengah kecaman masyarakat yang lagi gencar-gencarnya menyuarakan Nasionalisasi Freeport sampai close Freeport. Tentu saja Freeport tidak diam begitu saja, pasalnya Freeport atau tambang emas terbesar di dunia ini yang membuat Amerika semakin kokoh sebagai imperialisasi modern, yang membantu Amerika untuk tidak terpuruk akibat krisis ekonomi global yang berkembang beberapa waktu terakir.

Baca juga  FNF Tolak Perpanjangan PT Freeport

Tentunya pengalihan isu pengeboman atau bom bunuh diri yang mengakibatkan banyak korban dan kerusakan pada bangunan bukanlah berarti apa-apa baginya (Freeport dan TTM-nya) karena itu tak sebanding dengan penghasilan bersih pertahun Freeport (penghasilan sampingan dan penghasialan utama) yang mencapai Rp. 2.682 triliun bisa lebih bungkin, kalau kurang rasanya tidak mungkin. Uang sebanyak 2.682 triliun itu kalo dibagikan pada 2,8 juta Penduduk papua maka masing-masing penduduk akan menerima 5.715 juta, atau hampir 6 Miliyar/orang (terhitung mulai bayi baru lahir).

Bagaimana tidak berpengaruh terhadap psikolog masa (khususnya aktivis medsos)? Kalau persoalan demi persoalan tak mampu terselesaikan, hanya dibungkus oleh pengalihan isu saja. Menambah beban pikiran saja. Masyarakat sudah susah memikirkan hidupnya sendiri, malah dicekoki permasalahan dan isu-isu. Tentunya isu-isu atau berita tersebut berdampak pada psikologi masaa.

Pertama, tragedi kemanusiaan dan bencana alam (baik buatan maupun alami) seperti kebakaran hutan dan pengeboman di Jakarta yang sedang hangat-hangatnya, mampu menimbulkan rasa kegelisahan, kebingungan, dan ketakutan bagi banyak orang (tanpa terkecuali). Di samping itu juga dapat memicu respon emosional yang cukup kuat.

Kedua, kasus-kasus politik dan korupsi, juga mampu menimbulkan efek samping pada psikolog masa. Misal kehilangan identitas dengan diliputi perasaan gagal, dan berujung pada kutukan terhadap koruptor. Karena orang yang selama ini dipilih atau dipercaya rakyat dan menjadi harapan, bahkan bisa jadi contoh atau motivasi malah bertingkah sak karepe dewe.

Ketiga, misal kasus prostitusi, itu bisa berdampak pada psikolog masa, semakin terlalu banyak mengekspos, maka kebencian terhadap pemerintah semakin mendalam, karena beberapa faktor yang sangat klasik untuk kasus itu adalah faktor ekonomi. Hal tersebut membuat berfikir su’udzhon pada pemerintah, dan cenderung menyalahkan pemerintah. Akibatnya pemerintah belum mampu menyejahterakan masyarakat, Indonesia maka terpaksa hal tersebut dilakukan sebagai jalan pintas meysejahterakan hidupnya.

Baca juga  Aksi Tuntut Nasionalisasi Freeport

Keempat, tertib. []

*Penulis aktif di Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi (KMPD).

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of