Sarinah Gadis Asal Negeri Amerika?

Spread the love

Oleh: M. Faksi Fahlevi*

“Sarinah dan Thamrin bukan pasangan kekasih yang serasi, bahkan Sarinah bukan pula karya buku Bung Karno yang menjadi simbol perempuan ideal Indonesia. Melainkan isu diplomasi politik papa minta saham.

Sarinah, bom bunuh diri yang membuat orang lupa diri. Lupa kasus Freeport, otonomi daerah, dan eksplotasi migas di Madura sana. Yang lahir kemudian, wajah baru di permukaan publik Indonesia, yaitu “terorisme”. Dari saking menakutkan dari kasus Sarinah, kalangan mahasiswa dan masyarakat secara umum, mereka harus pasang badan, hingga terus berseru dalam gerakan taggar #KamiTidakTakut, #BersamaMencegahTerorisme, entah melalui belbagai akun media sosial, dan seragam yang bisa dipakai kemana-mana.

Sebelum jauh bicara bom Sarinah yang menjadi isu seksi para jurnalis, hingga menebar berita lebay. Saya akan memulai tulisan ini dengan cara pandang Niccolo Machiavelli dalam bukunya Diskursus (The Discourses). Sebagaimana ia membingkai sejarah perlawanan di Roma. “Manusia bangkit dari satu ambisi ke ambisi lainnya; pertama-pertama mereka berusaha menghindari penderitaan yang melukai diri mereka sendiri, tetapi kemudian mereka melukai orang lain.”

Mungkin kita masih bertanya apa hubungan antara bom Sarinah dan cara pandangan di atas? Saya bermaksud untuk mencoba mengartikulasikan kembali makna “terorisme” dan kenapa pula kita harus melawanya? Jangan-jangan model kuasa pengetahuan yang membuat kita tidak sadar diri, hingga kita harus selalu berpihak pada pemerintah yang jelas bermain mata dengan para korporat.

Di sebab kasus ini di Indonesia, coba kita buka terlebih dahulu pengertian dari teror-isme, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata “teror” mempunyai arti usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Sedangkan “teroris“ adalah orang yag menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik. Dan “terorisme” artinya penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dan usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik); praktik tindakan teror.

Mungkin kita sudah bisa membuka mata dengan lebar, siapa saja yang menjadi teror dan menciptakan ketakutan dari banyak keributan sebelumnya? Seperti kasus Rembang, Salim Kancil, Freeport, dan perampasan tanah di mana-mana yang ditindak represif oleh militer dan preman bayaran. Seperti kasus yang jauh dari perhatian media, melalui pesan yang di-posting teman saya dari Jakarta sana, Syahar Banu dalam akun fesbuknya (17/01/16): Ketika, Warga perumahan Zeni Mampang Prapatan ini digusur jam 3 pagi! Bayangkan. Jam 3 pagi. Sekarang kalau kayak gini, siapa yang teroris?

Siapa yang meneror dan terteror dalam kasus yang saya sebutkan di paragraf atas? Di mana negara sama sekali tidak berpihak pada rakyatnya. Ini semua harus menjadi penyadaran bersama pada kahirnya siapa yang teroris? Ketika negara menjadi stigma yang menakutkan dalam kesadaran masyarakat Indonesia. Tanahnya dirampas, ditodong dengan senjata, dan dipaksa harus taat hukum, yang sama sekali tidak berpihak pada dirinya. Tetapi, negara selalu punyak alasan demi kepentingan dan ketertiban, sedangkan militer selaku aksi teror tetap selalu membabi buta dengan senjata, jika tanah itu milik negara bukan milik rakyat jelata.

Dari sejak paska jatuhnya rezim Soekarno sebagai presiden, ambil alih kekuasaan dikuasai oleh militer. Akhirnya mereka menjadikan negara sebagai ideologi mereka. Mereka memenangkan dari kasus agraria, politik, sampai kasus serikat pekerja, dan sejak itu kemenangan dirayakan dan berapa mayat bergelimpangan.

Lucu, sama arti menggelikan hati. Memangnya masyarakat yang mempertahankan haknya, baik tanah maupun kebebasan berpendapat tidak dianggap penduduk Indonesia? “Maaf bagi mereka yang di atas angin, negara Indonesia bukan milik militer dan aparat yang lainnya. Tapi milik warga negara,” sebagaimana statement yang dilontarkan kawan Minrahadi lubis selaku Profesor Lembaga Kajian Filsafat Sosial/LeKFiS (20/01/16).

Dalam catatan kecil ini, saya mencoba merekonstruksi makna di dalam KBBI terkait teror-is-me. Teror-is-me adalah, setiap instansi maupun perorangan yang mecoba menebar teror dengan unsur kepentingan politik terhadap keberlangsungan hidup orang banyak. Bahkan negara sekalipun yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat juga bisa dianggab “teroris”. Cuma bedanya aksi teror yang dilakukan oleh negara berlandaskan “hukum” yang merepresentasikan kebutuhan pasar (liberalisasi ekonomi), sedangkan teror yang dilakukan oleh gerakan radikal adalah murni tindakan emansipasi, karena eksistensinya terganggu.

Kita jangan lupa dan jangan takut pula, dari sejak dulu, isu terkait “terorisme” adalah kedok politik gaya lama USA-Amerika. Apalagi bersamaan dengan penetapan kontrak Freeport. Tidak ada yang tidak mungkin dari semua ini, bom Sarinah adalah bom yang sudah terencana. Mungkin yang paling penting adalah kesadaran politik masyarakat Indonesia. Jangan sampai lengah dan terus mengawal percaturan politik internasional yang sedang berlangsung, demi kedaulatan bangsa dan negara. Sikap kritis dan aksi kritis pula harus kita selalu persiapkan.

Sebagai pesan moral untuk penutup, jika Anti Tank dengan slogan “preman teriak preman“ makan hati-hati juga “teroris bisa teriak teroris”. Karena Sarinah bukan gadis dari Amerika, tapi ideologi neo-kapitalisme yang berparas manis dari negeri tua USA. []

*Penulis anggota aktif Lembaga Kajian Filsafat Sosial (LeKFiS) dan sekarang bermukim di Komunitas Senja Dirgantara MY.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of