Hujan

Oleh: Fajri Andika*

Hujan belum juga reda. Langit begitu gelap. Sepertinya hujan akan lama. Padahal rencananya hari ini aku mau ke bank, ingin mengirimkan uang ke orang tua di kampung. Mereka sedang butuh uang untuk membayar SPP kedua adikku yang sudah telat dua bulan.

“Jika kau ada uang lebih, kirimlah, untuk membayar SPP adik-adikmu,” begitulah ibu berkata di ujung telepon kemarin sambil tersedu-sedu. “Sudah dua bulan SPP adik-adikmu nunggak. Kami belum punya uang.”

“Tenang, Bu,” kataku menenangkan.

Belum selesai aku bicara, ibu memotong, “bagaimana kami bisa tenang, Leh? Kedua adikmu sudah dapat peringatan keras dari pihak sekolah. Kalau dalam Minggu ini SPP mereka tidak dilunasi, mereka akan dikeluarkan dari sekolah. Sebenarnya, kami punya rencana mau pinjam pada Pak Kades, tapi kami masih punya hutang pada beliau.”

Hening.

Nggak usah pinjam pada Pak Kades atau tetangga, Bu. Biar besok uangnya aku kirimkan,” kataku lirih. Kuhela napas panjang, kemudian kulanjutkan, “kebetulan aku baru gajian.”

Sontak, suara ibu yang sejak tadi terdengar sedih, tiba-tiba sumringah sambil beberapa kali berucap alhamdulillah. Dan sekarang aku bisa menebak, ibu pasti senang.

“Halo, Bu,” beberapa kali aku memanggil. Namun suaranya tetap tidak terdengar. Ternyata ponselku mati. Baterainya habis. Sementara listrik masih padam.

Mungkin, orang tuaku di kampung sana merasa kegirangan, sedang aku di sini pusing tujuh keliling. Dari mana aku akan mendapatkan uang sebanyak itu? Aku belum gajian. Soal omonganku pada ibu, itu hanya omong kosong. Aku terpaksa bilang sudah gajian agar beliau tenang dan tidak lagi kebingungan. Bukankah berbohong demi kebaikan tidak salah?

Setelah ponselku kembali menyala. Aku mencoba menghubungi teman-temanku. Mungkin ada yang dapat memberiku pinjaman.

“Iya, ada. Kebetulan aku baru dikirim. Silakan diambil ke kos,” kata temanku di ujung telepon. “Asal tidak lebih dari dua juta,” tambahnya sambil tertawa.

Baca juga  Garis Tepi Bermunajat

Usai telepon terputus, aku langsung berangkat ke tempatnya mengendarai motor di tengah hujan. Padahal sebenarnya kondisi badanku sedang tidak bersahabat. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada cara lain selain melawan hujan. Lebih baik aku sakit daripada melihat orangtuaku banting tulang mencari pinjaman uang untuk melunasi SPP adik-adikku. Bagiku, hanya anak durhaka yang tega melihat orang tuanya menderita.

***

Hujan belum juga reda. Kulihat jam yang menggantung di dinding sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Aku bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Kepalaku tambah pusing, dan batukku semakin parah. Ingin nekat naik motor melawan terjangan hujan. Namun, kondisi tubuhku benar-benar tidak bisa dikompromi.

“Hujan, hujan,” gumamku seraya menatap ke luar jendela. Hujan angin dengan iringan bunyi halilintar membuat jalan raya di depan kos tampak sepi. Mungkin orang-orang sedang was-was hendak ke luar rumah.

Hujan memang anugerah. Seorang petani akan tersenyum bila hujan datang karena tanaman padi tidak akan lagi kekeringan. Terkadang hujan pun dapat menumpahkan air mata kesedihan. Hujan yang mengguyur terus-menerus akan menjadi banjir.

Aku masih ingat pada bencana banjir yang menenggelamkan kampungku sekitar tujuh tahun yang lalu. Waktu itu, hujan deras mengguyur selama hampir sepekan. Sementara selokan, sungai serta waduk yang sudah dangkal dan tidak kunjung diperbaiki oleh pemerintah daerah, tidak bisa lagi menampung air hujan yang semakin menggila.

”Janji pemerintah hanyalah palsu belaka,” ujar salah satu tetanggaku yang sibuk menyelamatkan barang-barangnya dari air yang tingginya di atas lutut orang dewasa.

“Mereka pengobral janji. Buktinya, semua ucapan mereka pada saat kampanye, yang katanya mau membebaskan kampung kita ini dari banjir tidak terbukti. Ketika musim hujan kampung kita tetap saja kebanjiran,” kata tetanggaku yang lain sambil menggendong anaknya yang berseragam SD.

Sementara bapakku yang sibuk memasukkan radio, kipas angin, dan barang-barang elektronik lain ke dalam kardus, juga tidak mau ketinggalan berkomentar. “Aku, kalian, dan kita semua yang sedang dilanda bencana banjir ini adalah korban janji manis mereka. Bukannya mengatasi banjir, malah membiarkan para pengusaha itu membangun gedung-gedung yang membuat air tidak lancar mengalir.”

Baca juga  Puisi- Puisi Azhi: Anomali

Kami pun segera berangkat ke tempat pengungsian dengan membawa barang berharga kami masing-masing. Kami takut ada banjir susulan. Langit semakin gelap. Tidak lama lagi hujan yang lebih dahsyat pasti mengguyur kampung kami.

Sesampainya di pengungsian, bapak, ibu, dan pengungsi-pengungsi yang lain sibuk membereskan barang-barang bawaan seraya mencari tempat yang enak untuk tidur. Sementara aku sibuk mencari radio di dalam kardus.

RRI sedang mengudarakan berita seputar bencana banjir yang sedang melanda sebagian besar daerah di Indonesia, termasuk yang melanda kampungku. “Sampai saat ini, hujan deras masih mengguyur sebagian besar daerah di tanah air. Pemerintah sendiri melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana meminta kepada masyarakat yang masih bertahan di rumahnya yang kebanjiran untuk segera mengungsi ke tempat-tempat pengungsian yang telah disediakan oleh pemerintah.”

Saat penyiar radio itu menyampaikan bahwa air yang mengepung kampungku sudah setinggi atap rumah, tiba-tiba halilintar menggelegar mengejutkan para pengungsi. Hujan yang tadinya tenang, kini semakin lebat. Kami panik.

Sementara bapakku dan para pengungsi yang lain ke luar ruangan untuk melihat kondisi cuaca, aku memeriksa kondisi radio yang tadi tiba-tiba mati. Tak ada suara.

***

Suara halilintar membuyarkan lamunanku. Kutatap ke luar jendela. Hujan semakin deras saja. Kesabaranku telah habis. Jam sudah menunjukkan pukul 14.45 WIB. Sebentar lagi bank tutup. Meski udara sedingin es, aku tetap berangkat tanpa memakai mantel. Kulajukan sepeda motor dengan kencang, melawan guyuran hujan yang semakin menggila.

Yogyakarta, 2014

*Penulis lahir di Sumenep, 1 Juli 1989. Kuliah di Komunitas Rudal.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of