SIA, KRS, dan Wacana Kampus Digital 2014 Silam

Oleh: Wulan Agustina Pamungkas*

Masih menyoal masalah SIA dan input KRS, melihat banyaknya komentar atau keluh kesah dari teman-teman sependeritaan rasanya bibir dan tangan saya ikut gatal. Barangkali sangat tidak etis kalau saya cuma diam sedangkan saya sudah dibuat sedikit menderita dengan beberapa konfirmasi dari SIA. Beberapa kali mencoba menginput KRS dengan jadwal yang sudah diatur (Insha Allah) dengan apik oleh kampus, hasilnya nihil.

Satu mata kuliah pun belum berhasil masuk dalam daftar KRS saya, barangkali bukan hanya saya. Bukan hanya itu, beberapa kali mencoba meng-input, saya malah kena fitnah dibaca (konfirmasi) oleh SIA. Pertama, saya dinyatakan belum melengkapi Data Pribadi Mahasiswa (DPM) padahal itu sudah saya lakukan. Kedua saya dinyatakan belum melunasi tagihan SPP begitu kata “SIA”, padahal sudah saya bayar terbukti dengan tanda bukti pembayaran dari bank dimana saya membayar. Tidak cukup sampai disitu, password yang sudah sangat saya hafal dan berkali kali saya gunakan untuk login pun dinyatakan salah.

Lengkaplah segala fitnah dan penderitaan saya, barangkali sedikit lebai tapi beginilah kondisi yang saya alami. Barangkali ini yang terburuk dan paling menguras emosi dan kesabaran selama tiga tahun saya kuliah di UIN Sunan Kalijaga tercinta ini

Mengingat 2014 silam

Jadi teringat dengan salah satu talk show yang diselenggarakan oleh SUKATV pada 28 Mei 2014 dengan tema “Dari UIN Sunan Kalijaga  Mengabdi untuk Negeri”  yang juga diangkat sebagai berita oleh www.lpmarena.com, di mana Musa Asy’arie yang kala itu menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga mengatakan bahwa UIN Suka akan dijadikan kampus digital untuk mempermudah akses tata kelola mahasiswa maupun birokrasi kampus.

Baca juga  Haruskah Berdamai Dengan Sistem?

“Kampus yang hebat di dunia adalah kampus yang digital bukan riset,“ begitu ungkapnya. Ia juga mengalokasikan dana sebesar 30 Milyar untuk meningkatkan UIN Suka sebagai kampus digital. Dan hal serupa juga diungkapkan oleh Mutma’inna selaku ketua PTIPD. “Kampus juga harus menambah komputer, internet dan konten, dari biaya 30 Milyar itu,” ungkapnya pada peserta talk show kala itu.

Well, tadi itu saya hanya mengingatkan, barangkali ingatan kita sudah lupa dengan pernyataan-pernyataan tersebut. Dari situ pula mulai timbul pertanyaan dari saya barangkali bukan hanya saya, bagaimana kelanjutan program yang katanya akan meningkatkan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai kampus digital? Yang katanya pula mendapat alokasi dana sebesar 30 Milyar tersebut? Apakah kampus sudah benar-benar menjalankan program tersebut?

Sehingga saat ini kita harus bolak balik ke PTIPD, ngantri demi mendapatkan kejelasan dengan apa yang kita alami. Sehingga saat ini kita harus nunggu berjam-jam di warung kopi demi dapat wifi buat ngisi KRS, sehingga saat ini kita harus bolak-balik ke beberapa bank karena tidak bisa melakukan pembayaran, sehingga saat ini kita harus bolak-balik kena fitnah belum bayar SPP oleh SIA? Dan bla.. bla ..bla..

Yah, beginilah UIN SunanKalijaga Yogyakarta, yang katanya “ Kampus Digital ”. Terimakasih UIN Sunan Klijaga Yogyakarta.

*Penulis mahasiswi jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of