Nezar: Kesalahan Media Online Kita

Lpmarena.com, Di masa digital seperti sekarang, ada 300 juta smartphone di seluruh Indonesia, dengan kemampuan android yang cukup baik. 60% pengguna internet usia 17-45 tahun dan mereka dimanjakan dengan gadget yang luar biasa. Perkembangan ini selaras dengan banyaknya ribuan media online muncul.

Data tersebut disampaikan oleh Nezar Patria,  Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Online sekaligus anggota Dewan Pers saat berbicara mengenai Media Online dan Jurnalisme Naratif. Diskusi ini  diadakan oleh Pindai di Auditorium IFI – Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta, Sabtu (13/2).

Nezar bertutur siklus baru perputaran berita masuk ke dalam hiruk pikuk informasi yang berputar. Perputaran terjadi dari TV, media cetak, dan terutama terjadi di media sosial yang perkembangannya dari tahun 2015, pengguna fesbuk mencapai 79 juta, twitter 50 juta, path 5 juta. “Indonesia menjadi semacam republik media sosial,” kata Nezar.

Masalah yang dialami oleh media online sekarang di antaranya kecepatan yang mengorbankan akurasi, dangkal, pendek, kurang orisinal, bahasa kurang tertata, juga verifikasi yang lemah. Dari masalah ini data dari Dewan Pers menunjukkan angka pelanggaran kode etik jurnalistik dari tahun ke tahun meningkat. Pengaduan pelanggaran media online di tahun 2015 ada 95 kasus.

Nezar mencontohkan kasus pelanggaran misal pada peristiwa Tolikora. Sumbangan media pada konflik dirasa tinggi. Pada peristiwa Tolikora beberapa kesalahan yang diungkapkan oleh Nezar diantaranya: mengorbankan durasi demi kecepatan, beritakan dulu baru ralat, dan provokatif. “Kalau Tolikara nggak ada verifikasi lebih jernih, kejadiannya luar biasa,” ucapnya.

Kasus lainnya lagi tentang pemberitaan soal Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Bagi Andreas Harsono yang juga menjadi pembicara diskusi mengatakan karena pemberitaan yang salah banyak yang menjadi korban, seperti pengusiran. Tamparan Gafatar ini terlebih Andreas tujukan pada wartawan Jogja yang memulai lahirnya pemberitaan Gafatar. “Banyak wartawan Jogja yang harusnya kontemplasi,” kata Andreas.

Baca juga  Media Online Persma, Antara Alternatif dan Mainstream

Reporter dan Editror: Isma Swastiningrum

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of

Send this to a friend