Jurnalisme Narasi Online, Alternatif yang Berjeda

Lpmarena.com, Jurnalisme narasi menjadi  semacam antitesa dari berita pendek yang berkembang pada saat ini. Jurnalisme narasi kadang juga disebut jurnalisme sastra, di mana ia menuturkan fakta dengan teknik fiksi. Ini yang disampaikan Nezar Patria, Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Online sekaligus anggota Dewan Pers dalam Diskusi “Masa Depan Jurnalisme Naratif”.

Di tengah hiruk pikuk informasi online yang ada, bagi Nezar ia percaya pembaca butuh tulisan bergizi, di sini jurnalisme narasi menjadi semacam kerinduan orang akan jeda. Jeda untuk menganalisis secara mendalam. “Kita butuh jeda mencerna apa yang terjadi. Di sini tempat jurnalisme narasi,” kata Nezar, Sabtu (13/2) di Auditorium IFI – Lembaga Indonesia Prancis (LIP), Yogyakarta.

Di online kebangkitan jurnalisme narasi diawali dengan laporan panjang dari New York Times berjudul Snow Fall The Avalanche at Tunnel Creek karya John Branch tahun 2012 yang juga memenangkan peghargaan Pulitzer Award. Di Indonesia jurnalisme narasi di online bisa ditemukan misal dalam portal Pindai, Pantau, Panajournal, dan lain-lain.

Bagi wartawan Andreas Harsono yang juga aktif di Yayasan Pantau dan peneliti Human Right Watch jurnalisme narasi sifatnya mahal, pelan, sulit, dan makan waktu. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat jurnalisme narasi tidaklah sebentar. Andreas bercerita satu tulisan panjang membuatnya butuh waktu seminggu, bahkan ada yang setahun satu tulisan atau dua tahun satu tulisan. Panjangnya durasi peliputan dan riset inilah yang membuat jurnalisme ini menjadi jurnalisme mahal. “Meski mahal itu penting,” tuturnya.

Reporter dan Redaktur: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Baca juga  Nezar: Kesalahan Media Online Kita

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of