Sastra Pembebasan dalam Malam Sastra VI LPM Arena

Lpmarena.com, Lima buah tenda berdiri di bawah naungan pohon-pohon pinus di Puncak Becici, Dlingo, Bantul. Sekitar jam 11 malam,  di depan lima tenda yang memutar itu, panggung sederhana dengan dua obor dan lilin-lilin mewarnai pertunjukan Malam Sastra VI LPM Arena pada Sabtu (20/2).

Sastra bagi pemimpin redaksi LPM Arena Rifai Asyhari adalah membebaskan. Malam sastra tempat yang eksploratif untuk memuculkan semangat ketidakaturan. Di kehidupan yang kerap disuguhi keteraturan dan hal-hal yang bersifat material, ada yang dibunuh di situ, yakni kehendak. “Manusia unggul adalah manusia yang menguasai kehendaknya,” ucap Rifai merujuk pada ucapan filsuf Nietzsche.

Sastra juga bisa menjadi alat pembebasan dalam jurnalistik. Di mana sastra penting untuk diseriusi karena bisa menambah khazanah kata kejurnalistikan. Seperti yang diungkapkan Khairul Amri, selaku koordinator Malam Sastra. “Sastra dan jurnalistik sama-sama tulisan. Penulisan jurnalistik tak lepas dari kata dan diksi,” ujar Amri.

Bersama melawan waktu mekanik dan menikmati waktu tubuh, ada pun pentas yang ditampilkan di Malam Sastra VI Arena, antara lain stand up comedy oleh Andi; pembacaan puisi oleh Fai, Niam, Ilham, Ifa, Wulan, Amri, Afin; menyanyi oleh Riza, Lugas; Dangdut-Acapella oleh kwartet Elek Yo Ben (Anis, Unik, Nisa, Iim); dan ditutup oleh klenikisasi puisi oleh Najib.

_MG_4850 _MG_4886 _MG_4899 _MG_4930 _MG_4932_MG_4951 _MG_4963_MG_4943

Teks: Isma S.

Foto: LPM Arena

Komentar

komentar

Baca juga  Karya Puisi Tsaqif : Bulan Muncul di Dada Kami

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of