Lpmarena.com, Upaya pemberantasan korupsi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Setiap golongan memiliki cara-cara tersendiri. Salah satunya adalah melalui media film. Demikian terkemuka dalam launching dan bedah film Ir. Soemarno yang digelar di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Rabu (9/3).
Bedah film yang diselenggarakan oleh Jamaah Cinema Mahasiswa (JCM) UIN Sunan Kalijaga tersebut menghadirkan pembicara Hifdzil Alim selaku dosen Ilmu Hukum UIN SuKa dan Fathor Rohman MD, deklarator Gerakan Pemuda Melawan Korupsi (GPMK).
Menurut Alim, dalam masyarakat dengan budaya yang instan cenderung melihat lalu hanya mencerna sedikit. Dalam era kemajuan media, teknologi informasi serta media sosial yang sangat cepat seperti sekarang ini, upaya pemberantasan korupsi bisa dilakukan dengan banyak cara. Tidak melulu dilakukan dengan cara-cara konvensional, seperti melakukan penelitian dan riset kebijakan. “Itu akan sangat tertinggal,” ungkapnya.
Alim menambahkan, semakin banyaknya penggunaan media visual dalam upaya memberantas korupsi,maka semakin cepat penangkapan pesan-pesan pemberantasan korupsi. “Daripada saya memberikan laporan penelitian yang sangat panjang. Sepuluh sampai tiga puluh halaman. Teks New Roman, 12, line spacing satu. Pusing sekali membaca itu,” jelasnya.
Film yang masuk kategori pendek ini berdurasi sekitar delapan menit, menceritakan tekanan-tekanan perilaku korupsi yang kerap harus dihadapi pemuda yang bahkan sudah ditemukan sejak tingkat desa. Tokoh dihadapkan pada pilihan apakah akan mengikuti permintaan koruptor yang memanipulasi dana suatu acara HUT RI, atau melakukan pemberontakan terhadapnya. Pada akhir film tersebut, tokoh memilih melakukan pemberontakan dengan membeberkan rincian anggaran acara tersebut di depan publik.
Fathor berharap setelah menonton film tersebut, penonton memiliki kesadaran untuk memberikan kontribusi terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia. Dimulai dari dirinya sendiri, keluarga, institusi, maupun komunitas. “Forum-forum semacam ini menjadi ruang reflektif kita untuk bagaimana punya kesadaran-kesadaran tentang pemberantasan korupsi dan bagaimana diri kita menjadi agen pemberantasan korupsi itu sendiri,” ungkap mantan anggota Dema UIN Suka ini.
Melalui filmnya, Nailul Alfin Rohhmatulloh, sang sutradara, mengaku ingin menyampaikan bahwa pemuda memiliki peran yang penting daam pemberantasan korupsi. Sementara itu, saat ini pemuda tengah dihadapkan pada banyak masalah seperti serangan-serangan psikologis. Salah satunya adalah dari media. “Di sinilah bagaimana pemuda itu agar berani. Berani melawan sebuah ketidakbenaran dalam suatu permasalahan,” jelas sineas muda ini saat ditemui oleh ARENA di luar acara.
Harapan Alfin film ini mendapatkan apresiasi yang banyak dari masyarakat Indonesia, kemudian dapat menjadi sebuah inspirasi bagi pemuda-pemuda kususnya di Indonesia, untuk berani melawan ketidakbaikan yang terjadi di sekeliling hidup.
Magang: Syakirun Ni’am
Redaktur: Isma Swastiningrum