Mosi Tidak Percaya

Oleh: Suhairi Ahmad*

Pantas kalau kami marah, sebab dipercaya susah
jelas kalau kami resah, sebab argumenmu payah
.” Efek Rumah Kaca.

Lirik di atas merupakan sebuah judul dari lagu Mosi Tidak Percaya yang sudah sepantasnya kita berikan kepada mereka ataupun lembaga yang tak mempunyai keberpihakan yang jelas kepada rakyat tertindas, tanpa terkecuali apa yang oleh Bung Fai[1] dan Bung Ipul[2] sampaikan dalam tulisannya.

Kedua tulisan tersebut pada akhirnya hampir bertemu pada kegelisahan yang sama, yaitu kegelisahan pada struktur yang ada. Namun, keduanya bertolak dari sudut pandang yang berbeda. Tulisan pertama Gerak Kepatuhan dalam Kampus menggelisahkan subjek akademik yang terkungkung dalam berbagai peraturan kampus, yang dalam konsepsi Michel Foucault disebut dengan penjara dengan istilah panopticon. Panopticon merupakan transformasi dari sistem penjara sebelumnya yang menyembunyikan narapidana di bawah tanah dalam ruang gelap. Pada konsep penjara panopticon ini, justru menunjukan narapidana ke tempat yang terang dan membuat narapidana dapat terlihat oleh pengawas. Mungkin inilah yang dimaksud secara luas oleh tulisan pertama. Mahasiswa seolah diawasi dari berbagai sudut, mulai dari pajangan kode etik pakaian dan lain sebagainya yang tentu oleh kita sudah banyak ditemui.

Sedangkan tulisan kedua Wajah Baru Ormawa, Adakah? menggelisahkan Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) yang seharusnya menjadi alternatif dari tulisan pertama gelisahkan. Namun, pada tulisan kedua pun tak juga menemukan jawaban atas kegelisahan tersebut. Jangankan menjawab, memetakan saja tidak. Hal itu dapat dilihat dari judul tulisan kedua dengan sebuah pertanyaan meragukan. Kedua penulis di ataspun seolah memaki keadaan layaknya kaum posmo, lalu tak tahu apa yang harus dilakukan. Ya, mungkin begitulah, setidaknya kita merasa gelisah terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu.

Kampus diakui atau tidak merupakan arena ideologi dominan berkuasa, maka tak perlu ditanyakan lagi kegelisahan pada tulisan pertama terjadi begitu masif di ruang kampus. Kampus bukan ruang yang netral dari kepentingan, ia mempunyai selubung kepentingan ideologi, yang pada akhirnya mempengaruhi kesadaran subjek-subjek di dalamnya. Dalam gagasan Louis Althusser, seorang Marxis strukturalis Prancis, kampus sebagai lembaga pendidikan dalam konsepsinya merupakan representasi dari Ideological State Apparatus/ISA [3], yang sifatnya sangat halus, tanpa disadari serta hegemonik terhadap subjek melalui peraturan kampus. Maka celoteh Mahasiswa juga tak kurang kenyang memikirkan kedirian namun toh tetap konsisten di jalur kepatuhan pada hukum-hukum kampus,” dari tulisan pertama bukan suatu hal yang sangat aneh atau bahkan dianggap biasa. Namun, kala kondisi tersebut disadari lantas bingung untuk berbuat sesuatu, seperti yang dilontarkan pada tulisan kedua yang mengharapkan Ormawa sebagai ruang alternatif? Tentu, hal inipun perlu kita diskusikan.

Praktik politik di Indonesia masih didominasi oleh politik ala Machiavellian yang anti terhadap moralitas. Percaturan praktik politik inilah yang pula menyumbangkan gagasan politik dalam ranah kampus. Kondisi objektif di lapangan memiliki kecenderungan, diakui atau tidak proses politik kampus yang terjadi menggunakan politik ala Machiavellian yang menghalalkan segala cara tanpa pandang moralitas guna mewujudkan ambisi politiknya dengan menghempas lawan politik yang lain.

Tulisan kedua yang menginginkan Ormawa sebagai ruang alternatif perlu kita pertanyakan kembali. Karena Ormawa pun ikut menyumbangkan kepatuhan-kepatuhan seperti yang dijelaskan pada tulisan pertama. Kepatuhan tersebut menurut penulis berbentuk perwakilan yang menjadikan seolah Ormawa sebagai representasi dari keseluruhan mahasiswa ala filsafat idealis roh absolut Hegel. Padahal tak jarang apa yang dilakukan Ormawa tak ada sangkut pautnya dengan kepentingan mahasiswa secara normatif.

NKK-BKK dan Neoliberalisme

Kelahiran Ormawa tak dapat dilepaskan dari politik Orde Baru melalui kebijakan NKK-BKK pada tahun 1978 yang telah mengebiri aktifitas politik mahasiswa. Kebijakan inilah yang kemudian sampai saat ini menyeret mahasiswa terpenjara dalam ruang-ruang kampus yang amat sumuk dengan beragam teori. Kampus hanya menjadi tempat ternak calon-calon sarjana dengan imbalan ijazah yang digunakan untuk melamar pekerjaan yang sering kalipun tak sesuai dengan apa yang digeluti di ruang kampus. Kampus hanya menjadi ruang reproduksi pengetahuan yang netral, bertumpuk-tumpuk penelitian, seminar berkeliaran tanpa dapat menyelesaikan persoalan. Maka, kampus dan Ormawa merupakan sebuah entitas yang pada kenyataannya sama. Sama-sama mengalienasi dan menindas.

Di saat awal NKK-BKK diberlakukan di akhir tahun 70-an, di beberapa belahan dunia mengalami perubahan kondisi, terkhusus kondisi objektif ekonomi politik kala itu. Tahun 1979 di Inggris, Margaret Thatcher dari partai konservatif mengawali kebijakan Neoliberalisme (yang selanjutnya disingkat neolib saja). Kebijakan ini menghendaki negara beserta aparatusnya agar mendukung kapitalisme melalui kebijakan pasar bebas dalam perundang-undangan atau hukum dalam berbagai sektor, tanpa terkecuali lembaga pendidikan seperti kampus.

Salah satu bentuk neolib dalam ruang kampus ialah bentuk otonomi kampus untuk mengatur kebijakan atau regulasi di internal, baik kurikulum maupun finansial. Akibat dari kebijakan ini, kampus-kampus yang awalnya dapat dijangkau oleh berbagai kalangan menjadi kampus yang amat mahal dan sulit untuk dijangkau oleh kaum yang tak berpunya. Selain itu, kampus dijadikan lahan privatisasi guna membentuk (menternakkan) mahasiswa agar menjadi sarjana yang layak pakai di dunia pasar.

Memutus mata rantai ini bukanlah pekerjaan mudah. Sebuah pekerjaan yang tak dapat dilakukan oleh intelektual borjuis kampus yang berleha-leha dengan sebagian kepentingan perutnya. Dan, tak dapat dilakukan oleh hanya sekedar perwakilan mahasiswa di Ormawa. Selama Ormawa tak mampu melibatkankan mayoritas pastisipasi mahasiwa, maka Ormawa pun hanya akan menjadi suatu hal tak amat penting sama sekali. Alih-alih membawa perubahan yang revolusioner, malah menjadi agen dari kepentingan kapitalisme yang perlahan ikut arus dalam ideologi dominan tersebut. Lantas kepada siapakah nasib ini akan diadukan?

Langkah strategis

Kondisi objektif ekonomi-politik yang begitu kompleks, sebuah proses politik tak lagi hanya berharap pada sistem perwakilan. Perwakilan selalu berpeluang terpisahnya kepentingan massa dan kepentingan elit di perwakilan. Maka, cara yang harus ditempuh ialah mengupayakan berbagai bentuk komunitas kecil dari berbagai ragam aktifitas massa dengan orientasi pada penyadaran atas kondisi yang hari ini sedang mengancam jelas di depan mata. Apalagi di kampus berdiri berbagai organisasi mahasiswa yang beragam. Inilah peluang besar guna membangun perspektif yang sama, tanpa pandang pada hirarki kekuasaan yang sifatnya administrasi maupun secara subtansial. Perubahan sosial bermula dari satu-dua orang yang kemudian ditularkan kepada banyak orang. Maka, dengan inilah setidaknya proses gerakan tak makdek dan subjek tak lagi dapat dikebiri oleh siapapun.

Atas pertanyaan kepada siapakah nasib akan diadukan? Maka tak ada jawaban lain selain kepada diri sendiri dengan melibatkan diri sebagai massa yang sadar atas kondisi hari ini. Karena kampus dan Ormawa (sekali lagi) bukan sebuah entitas yang netral. maka sudah sepantasnya kita lemparkan lirik lagu band Efek Rumah Kaca, kita hadiahkan kepada mereka. tanpa terkecuali mereka yang dalam tulisan pertama disebut kelas menengah ngehek itu.[]

Jogjakarta, 18 Maret 2016 kala di hari yang sangat pagi.

*Penulis saat ini bergiat komunitas diskusi Lingkar Bantingan.

[1] http://lpmarena.com/2016/03/10/gerak-kepatuhan-dalam-kampus

[2] http://lpmarena.com/2016/03/14/wajah-baru-ormawa-adakah

[3] Althusser, Louis. 2010. Tentang Ideologi. Yogyakarta: Jalasutra. (Hal.  20)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of