Idiosyncratic, Antara Sadar dan Tidak Sadar

Idiosyncratic, Antara Sadar dan Tidak Sadar

Lpmarena.com, Idiosyncratic menurut konsep psikoanalisa bemakna kepribadian yang unik, aneh, cenderung melenceng, dan berbeda dengan lingkungan sekitar. Mengambil judul “Idiosyncratic” sebuah pameran seni digelar. Pameran ini diformasi enam mahasiswa jurusan seni rupa ISI angkatan 2013, enam seniman itu yakni: Andi Waskito, Galih Hendra Swastika, Jaka Utama, Jessica Justine Tabah, Muhammad Yakin, dan Widi Pangestu Soegiono. Mengambil tema Consciousness Unconsciousness, penonton diajak menyelami kondisi alam sadar dan alam bawah sadarnya di Bentara Budaya Yogyakarta dari tanggal 22-31 Maret 2016.

Widi Pangestu, ketua panitia menjelaskan tema pameran berawal dari pertanyaan sederhana: apa yang membedakan alam sadar dan alam bawah sadar? Widi menjawab alam sadar berkaitan dengan rasio dan realita, sedangkan alam bawah sadar berkaitan dengan intuisi. “Maksute, pengalaman-pengalaman kita dari kita kecil sampai dewasa itu kan punya dampak ke alam sadar dan bawah sadar kita. Akhirnya, kita kayak ada campuran dalam memandang sesuatu,” tutur Widi, Minggu (27/3).

Lebih lanjut, Widi berujar di Indonesia alam bawah sadar cenderung dikesampingkan, baik dari budaya dan pola pikir yang ada di luar. Padahal sudah menjadi konsep umum jika alam bawah sadar bisa berdampak penting bagi individu juga masyarakat. “Apapun itu untuk alam bawah sadar yang bisa diartikan intuisi, pandangan-pandangan, pengalaman-pengalaman akhirnya membuat seseorang seperti sekarang,” tuturnya.

Dari tema tersebut, per seniman memiliki kebebasan menafsirkan, sehingga permasalahnan-permasalahan yang diangkat per karya pun berbeda. “Seenggaknya mengkritisi. Walaupun dengan karya visual yang bisa diartikan secara bebas. Orang bisa menganggapi dengan pengalaman-pengalaman, karena pengalaman orang berbeda,” kata Widi.

Permasalahan yang ditanggapi bermacam-macam, ada yang mengutarakan permasalahan pribadi, permasalahan saat dia kecil, hingga merespon permasalahan yang ada pada saat ini. “Kebanyakan pengalaman. Kita juga mengeksplor apa-apa saja sih batas antara alam sadar dan alam bawah sadar,” kata Andi Waskito, seniman sekaligus panitia pameran.

Baca juga  RIUH. Pesta Pora Khaos.

Proyeksi

Dalam karyanya yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta itu, Widi menyajikan karya berjudul So Much Malignance You Can’t See. Karya yang dibuat di atas media charcoal and spray paint on paper ini menampakkan seorang pemuda berdiri memakai pakaian serba hitam dan menutup kedua matanya dengan tangan. Lalu ada hiasan besi runcing ala life style punk (spike) yang menjadi simbol pemberontakan.

idyosincratic (2)Maksud yang ingin Widi sampaikan, di Indonesia banyak kebencian yang tidak pernah dilihat. Alam sadar dan alam bawah sadar Widi merespon keadaan sosial yang terjadi sekarang, di mana orang terlalu banyak phobia terhadap sesuatu hal.

Maksute, dari pengalaman-pengalaman, orang banyak phobia terhadap sesuatu. Karena itu banyak orang tertutup. Banyak orang yang tak mau melihat realitas. Apalagi kalau hal-hal itu ke society, ada yang namanya blind society,” ujar mahasiswa asal Bandung ini dengan logat Sundanya yang khas.

Blind society di sini dicontohkan Widi salah satunya ada dalam praktik-praktik sosial beragama. Banyak agama-agama yang memberikan dogma-dogma, tetapi banyak orang pula yang mengartikan dogma tersebut tidak sesuai dengan maksud awalnya (dari pemimpin).

Berbeda dengan Widi, perupa lain Andi Waskita mengabadikan pengalamannya lewat lukisan berjudul Lepas, Lepas, Lepas. Andi menjadikan pengalaman-pengalaman masa lalunya dari keluarga, lingkungan, dan pengalaman lain hingga membentuk dirinya sekarang sebagai konsep berkarya.

“Lagian dulu itu pengalaman-pengalaman yang terjadi pada masa lalu akan merasuk ke alam bawah sadar dan kita bisa seperti sekarang itu kenapa? Pasti orang banyak bertanya kan,” ujar pemuda kelahiran Bojonegoro ini.

idyosincratic (1)Di lukisan Lepas, Lepas, Lepas, Andi menggambarkan sesosok manusia berpakaian kantor yang tersedot dalam sebuah bingkai bergambar flora-flora. “Aku ingin menggambarkan mencari kenyamanan, tapi tetap masa lalu tidak bisa terlepas secara utuh. Ketika mencari kenyamanan pasti perasaan-perasaan sakit, sedih, atau apapun itu akan tetap melekat dan itu gak bisa benar-benar terlepas,” ungkapnya.

Baca juga  Hujan di Kota Tua

Kostum kerja kantoran dalam lukisan diambil Andi karena ketika manusia memiliki keinginan, manusia tidak bisa benar-benar murni berkeinginan seperti itu. Pasti ada harapan-harapan dari orang lain yang menuntut manusia menjadi seperti keinginan orang lain. Seperti yang dialami Andi, orang tuanya yang background-nya bukan dari kalangan seni menuntut Andi menjadi seorang pekerja yang di masyarakat diakui sebagai pekerjaan. “Aku sendiri punya keinginan, meskipun mereka punya harapan yang mengekang,” ujarnya. Pesan sederhananya ialah be your self.

Selain karya Widi dan Andi di atas, ada judul-judul karya lainnya, yakni: Bebas Terjun; Angin Segar; Gema; Dialog Lirih Kasih dan Cinta; History of Ancient Human; Growing Anxiety; Hot Pressured; To Serve, Been Serve; Nothing Like A Nice Dose of Self-Hate; Fuck Off!!! Bastrads; Small Like Dogmatic/Habits Believe; Come & Join; Untitled; Substitution of Love; Sweet, Lovely Sins; Abstract Composition on a Flag Form, Play for Everything, Fresh Meat With Garnish; dan I Will.

Reporter dan Redaktur: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of