Puisi-puisi Dhenok Kristianti

Setelah Altar

 

Tak hanya serbuk kopi mengendap di cangkir,

Juga Sabda yang tak mudah kumengerti

Khotbah-khotbah dari altar tidak menjelaskan apa-apa,

Selain kepongahan seorang rabbi,

Yang jubah putihnya menyembunyikan buah-buah terlarang

 

Ingin kujelajah khotbahnya yang menguarkan kalimat beku

Agar tak sekedar kumpulan kata bisu

Maka kubawa pulang Sabda yang mengendap dalam piala

Almariku kian penuh

Sabda-sabda dalam piala bagai kuncup bunga dari negeri tropis

Kelopaknya siap mekar oleh sentuh cinta-Mu,

Hingga keindahan Sabda menjelma di dalam aku

 

Kelak jika Sabda tak cuma hafalan di kepala,

Akan kupakai sebagai kalung,

Dengan hiasan liontin kristal biru

: pijar mata-Mu

2013

 

Ngopi Bareng Tuhan

 

Ngopi bareng Tuhan sungguh tak nikmat

Ia tolak ajakanku ngopi di cafe mahal di pinggir pantai

“malu,” katanya.

Maka beginilah, Tuhan dan aku berhadapan

Di kedai kecil di pinggir jalan

Secangkir kopi pahit untuknya,

Secangkir kopi manis untuknya

Kopi manisku serasa sampah,

Apalagi kopi pahitnya tanpa gula

Tapi kenapa ia tersenyum juga?

 

Ngopi bareng Tuhan tak  terasa bebas nikmatnya

Selalu ada gangguan untuk hanya berdua

Aku dan Tuhan,

Tuhan dan aku,

Tak bisa berdua saja

Mengapa selalu menyelinap makhluk bersayap berwajah cahaya?

Berebut menyodorkan begitu banyak keranjang pesan

Permohonan-permohonan

Umpatan-umpatan

Secuil syukur

Semua bertanda mendesak

Semua minta diperhatikan oleh Tuhan

Tuhan yang sedang ngopi denganku,

Di kedai kecil di pinggir jalan

Alangkah sibuk ia. Kopi pun dingin diminum juga pahitnya sampai ke ampas-ampasnya

Pada setiap teguk terminum getir dunia,

Getir yang tak pernah diciptanya, tapi yang harus ia telan

Karena cinta

Karena cinta

Baca juga  Puisi-Puisi Muhammad Husein Heikal: Upacara Bendera di Neraka

Ngopi bareng Tuhan!

Hei… mau mencoba?

2011

 

Perempuan yang Kalah

 

Perempuan itu menggendong anaknya,

Tak lagi bernyawa

Ingin ia meratap, atau memuntahkan amarah,

Tapi pada siapa?

 

Sepanjang malam ia bergulat melawan maut

Maut dengan jari-jari gurita yang bergerak ke arah anaknya

Terus bergerak antara tangis bulan

Yang menahan lapar dan dahaga

Ia dekap anak semta wayang berlari menembus malam,

Segera mengetuk hati dokter

Diketuknya, tapi dokter kehilangan kunci menuju cinta

Barangkali terjatuh di antara jubah putih,

Yang tak putih benar warnanya

 

Bergegas ia ke puskesmas

Napas anaknya datang dan pergi,

Berbunyi bagai gesekan biola

Mendesirkan darah ke ubun-ubun yang terasa nyeri

Dokter jaga menggelengkan kepala

Obat tak memadai, peralatan tak lengkap

Ke rumah sakit anak itu mesti dibawa

 

Di UGD nasibnya teronggok menjadi sampah

Tanpa jamkesmas mesin rumah sakit tak bisa digerakkan,

Dan jari-jari maut gurita, semakin liar menuntaskan tugas

Perempuan itu menggendong anaknya,

Tak lagi bernyawa!

Telunjuknya lurus dibidikkan ke angkasa: Engkaukah di sana?

2012

 

Sajak untuk Drupadi

(dan para perempuan yang dihinakan)

 

Sang Dewi,

Singkirkan jemari dari wajahmu,

Tak perlu kau tutupi!

Keringkan lelehan air dari matamu,

Tak perlu kau tangisi

Siapa semestinya menanggung malu?

Bukan kau, bukan!

Para lelaki suamimu,

Mestinya mengerat sendiri kemaluan mereka,

Menaruhnya di pinggan perak di meja judi

Katakan:

Batang lingga hanya pantas bagi sejatinya lelaki,

Bukan untuk pecundang yang hancurkan harkat diri

 

Jangan takut, Drupadi

Aku Sang Hyang Wenang,

Membalut tubuhmu dengan selendang pelangi

Panjanganya dari kutub bumi hingga puncak Swargaloka

Mata jalang Kurawa tak mampu tembus kulitmu yang tembaga

Baca juga  Berbagi Hati, Berbagi Puisi

Walau Dursasana melenguh dan basah oleh peluh,

Tak kan sanggup ia menggulung selendang kehormatanmu

Mencibirlah Sang Dewi, tatap dengan sinis!

Katakan pada para lelaki yang kehilangan nurani :

12×12 purnama 12×12 bulan mati,

Kalian kan dicambuk di hutan-hutan tergelap

Istana Astina merintih diinjak-injak kaki raksasa

Sementara para kawula mengaduh,

Melata dengan lapar mendera

 

Dan kau Dursasana!

Para lelakiku saat ini bukan tandingmu

Mereka bahkan bersekongkol,

Mengira perempuan sepertiku cuma pembangkit nafsu

Tunggulah Dursasana!

Tanganku sendiri yang dibalur dendam,

Akan melemparmu ke kawah kematian,

Sebab aku perempuan, pantang dihinakan!

2012

 

Dhenok Kristianti, lahir di Yogyakarta, 25 Januari 1961. Karya-karyanya banyak dipublikasikan di media massa, seperti Sinar Harapan, Berita Nasional, Minggu Pagi, Basis, dan Suara Karya. Beberapa puisinya juga menyemarakkan antologi puisi Penyair 3 Generasi, Menjaring Kaki Langit, Tugu, Tonggak 4, Akulah Musi, dan Sauk Saloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI).

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of