Nestapa Petani Tradisional di Tingkat Lokal: Pengalaman Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat

Oleh Khairul Amri*

Masyarakat petani cengkeh di Sulawesi hanya bisa pasrah melihat daun cengkeh mereka semakin menguning dari hari ke hari. Tidak banyak yang bisa diperbuat selain berharap agar hujan turun dan membuat cengkeh itu hijau kembali. Akhirnya, pohon-pohon cengkeh yang sudah kehabisan tenaga menahan terik matahari memilih mati. “apa boleh buat” kata seorang petani melihat pohon cengkeh yang di tanamnya  mati di tahun 2015 lalu. Petani harus menanam ulang dan menunggu paling singkat lima tahun agar cengkeh remaja bisa berbuah lagi.

Kondisi Petani tradisional

Masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (sulselbar), yang jauh dari pusat kota umumnya bekerja sebagai petani yang menanam kakao, cengkeh, padi, kelapa, merica, palawija, dan beberapa buah-buahan. Kebanyakan petani mandiri dan petani penggarap mengolah lahan dengan cara-cara tradisional. Tradisionalitas ini tidak banyak berubah selama bertahun-tahun kecuali beberapa penggunaan mesin-mesin pembabat rumput modern, dan tentu saja penggunaan pupuk kimia.

Tanaman cengkeh berbuah sekali dalam setahun. Cengkeh menempati posisi istimewa diantara tanaman-tanaman lain karena harganya terbilang mahal, kisaran 50.000 ribu hingga 200.000 ribu per kilo. Tingginya harga jual sebetulnya sebanding lurus dengan curahan kerja petani dan resiko produksi. Rata-rata proses pemetikan membutuhkan waktu kerja selama 16 jam dalam sehari, di saat-saat tertentu durasi kerja ini bisa bertambah. ini belum termasuk proses jemur.

Petani memetik cengkeh menggunakan bambu utuh, tingginya bervariasi sekitar 12-17 meter, dan sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Bambu ini ditegakkan tepat disamping pohon cengkeh yang sedang berbuah. Dengan sabar, dari pagi hingga sore, petani berdiri diatas pijakan bambu memetik gagang cengkeh yang jaraknya jauh dari atas tanah, tanpa alat pengaman.

Di tahun 90-an, tanaman cengkeh diserang hama penggerek batang.  Hama ini dengan cepat bisa mematikan batang cengkeh yang usia mencapai puluhan tahun. Hama serupa juga menjangkiti tanaman kakao.

Di saat yang hampir bersamaan, tanaman kakao terkena penyakit busuk buah. Setelah itu beragam merek pestisida muncul di pasaran. Harganya bervariasi. Penggunaan pestisida belum mampu menanggulangi serangan hama batang dan buah bila hanya sekali dilakukan. Penyemprotan harus rutin jika petani menginginkan kakao bebas hama. Konsekuensinya, ongkos produksi bertambah akibat pemakaian pestisida berkelanjutan.

Petani yang tidak memiliki dana awal sebelum panen dengan berat hati menyaksikan tanaman kakao mereka berhama. Saat tiba waktu panen sebagian  buah saja yang bisa diambil, sebagian lainnya mengeras dan tak layak jual.

Masyarakat kerap kali berusaha beralih ke tanaman lain tapi gagal karena ketidak-jelasan pemasaran dan terkendala oleh minimnya kemampuan tehnik pemeliharaan tanaman baru.

Sumber penghidupan lain adalah buah-buahan. Untuk beberapa kasus, masyarakat tidak sengaja menanam pohon durian, langsat, mangga dan rambutan. Pohon buah itu tumbuh diantara pohon yang tidak sejenis, tumbuh sejak lama tanpa asal-usul jelas atau telah ada ketika masyarakat membelinya dari petani lain.

Meskipun posisinya tidak terpusat, hasilnya akan berlimpah ketika panen tiba. Petani tertentu bisa mendapatkan 7 ton langsat sekali panen. Panen buah seringkali muncul serentak di berbagai kabupaten sehingga pasar tidak mampu menampung banyaknya hasil bumi tersebut. Terbatasnya akses pemasaran, di satu sisi juga di pengaruhi buruknya kondisi jalan. Petani mengangkut buah menggunakan sepeda motor melewati jalan becek  lagi curam.

Absennya Negara, nihilnya penggerak sosial

Terang dalam kondisi seperti ini negara selaku pihak yang mengklaim diri sebagai penanggung jawab sosial sama sekali tidak hadir. Masyarakat menjumpai negara hanya saat mengurus surat-surat administrasi di kantor desa atau ketika memutar program berita yang kebetulan menyorot pejabat-pejabat negara yang tengah bertikai atau sedang tersandung kasus korupsi.

Sejak kemerdekaan Indonesia, perkembangan sosial daerah-daerah dalam lingkar NKRI berjalan timpang. Daerah yang jauh dari pusat kekuasaan berjalan apa adanya, tanpa dinamika sosial yang begitu berarti.

Langkah negara memberlakukan politik otonomi daerah, desentralisasi dan pemekaran daerah guna pemerataan pembangunan ternyata tidak cukup mampu membikin daerah pelosok mengejar ketertinggalan. Kebijakan ini justru membuka kanal-kanal munculnya kekuasaan baru di tingkat lokal.

Pola kerja pemerintah daerah jamaknya berorientasi pada pembangunan fisik. Tidak ada salahnya jika itu memang menjadi kebutuhan masyarakat. Tetapi yang mesti kita pahami betul bahwa kebutuhan masyarakat tidak terbatas pada persoalan fisik. Dalam kasus Sulselbar, petani sangat membutuhkan kejelasan distribusi dan pasar hasil bumi atau penyuluhan penanggulangan hama tanaman.

Pembangunan fisik juga tidak jauh dari masalah. Penyebarannya selalu tidak merata. Masyarakat perkotaanlah yang cenderung mendapatkan dampak program pemerintah, sementara masyarakat petani di pelosok terlupakan.

Di beberapa titik di Sulawesi Selatan, masyarakat mengambil langkah swa-usaha pengadaan fasilitas listrik. Tak jarang dari mereka ada yang menempuh jalan “ilegal” hanya untuk menikmati aliran listrik penunjang produksi.

Andai saja penguasa daerah mau mengerti sulitnya gerak petani lokal-tradisional lantas menyediakan penunjang produksi dan penyuluhan pertanian tentu ini akan menjadi pertanda kebangkitan daerah.

Menguatnya kekuasaan di tingkat lokal hingga saat ini tidak diimbangi oleh kehadiran lembaga-lembaga penggerak sosial independen semisal LSM, media lokal, dan organisasi sosial. Dalam konteks Sulselbar, Anda akan kesulitan menemukan lembaga sosial yang siap terjun kelapangan mendampingi masyarakat yang sedang dirundung masalah. Akhir tahun 2015 lalu, beberapa petani cengkeh di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan kena tipu, hasil panen mereka dibawa lari oleh tengkulak. Kasus ini tidak pernah terselesaikan.

Meski sering terjadi, kasus penipuan, minimnya pengetahuan tehnik pertanian, dan ketiadaan pasar hasil bumi hampir tidak pernah diliput media lokal. Sirkulasi surat kabar benar-benar terkonsentrasi di kota-kota besar. Ini lah salah satu alasan kenapa proses penyelesaian masalah tidak berjalan baik. Masyarakat berjuang sendiri mencari jalan keluar dari kondisi yang tengah mereka hadapi meskipun usaha-usaha mereka tidak selalu menuai hasil memuaskan.

Beginilah potret singkat petani tradisional di daerah yang jauh dari pusat kekuasaan juga jauh dari perhatian.

*Penulis secara berkala tinggal di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, saat ini menempuh studi di UIN Sunan Kalijaga.

Sumber gambar: jualbibitcengkeh.files.wordpress.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of