SK DO Yeni Ditolak untuk Dianulir

SK DO Yeni Ditolak untuk Dianulir

Lpmarena.com, Pengkajian ulang  SK DO Yeni Novita Sari tidak merubah keputusan rektor Nomor 182.2 yang jatuh pada 29 September 2015 lalu. Hal tersebut dikarenakan rekam jejak Yeni tidak lagi terbantahkan.

Arif Mafthuhin, kepala prodi Ilmu Kesejateraan Sosial ketika dihubungi Arena melalui WA, Selasa (12/4), menyatakan tuntutan massa Keluarga Besar Mahasiswa Universitas (KBMU) yang meminta penganuliran SK DO Yeni ditolak.

Menurut KBMU pen-DO-an  tersebut tidak sesuai dengan prosedur yang ada dalam pedoman akademik. Yeni juga menyatakan bahwa dia tidak mendapatkan surat peringatan atau bahkan telepon terlebih dahulu.  Selain itu, kebijakan tersebut juga dinilai tidak tepat karena Yeni mengalami sakit berkepanjangan yang dapat dibuktikan dengan rekam medis sehingga mengakibatkan proses kuliahnya terganggu.

Menanggapi pernyataan Yeni yang mengatakan bahwa dia tidak mendapatkan surat peringatan terlebih dahulu, Arif menyatakan itu merupakan pernyataan sepihak.  Pada 1 September 2014 lalu (semester II), Yeni menandatangani surat pernyataan bermaterai 6000 setelah sebelumnya dia mengunduh surat peringatan karena diblokir sistem dengan alasan IPK di bawah 2,0. Pemblokiran tersebut terkait evaluasi tiap akhir semester sebagaimana tertera dalam pedoman akademik.

Dengan surat itu, dia menyatakan diri akan mentaati tata tertib mahasiswa dan bersungguh-sungguh megikuti perkuliahan, serta bersedia mengundurkan diri jika IPK pada semester selanjutnya di bawah 2,0.

”Jadi kan fakta-fakta seperti ini yang sering disembunyikan, yang menyatakan bahwa dia bersedia mengundurkan diri sampai dua kali. Saya tidak tahu apakah dia menganggap ini bukan peringatan. Ini kan sudah peringatan secara alus sebenarnya. Lebih halus dari saudara di DO,” terang Arif saat ditemui Arena di ruangannya 21 Maret lalu.

Namun, pada semester III Yeni jarang masuk. Bahkan prosentase kehadiran Yeni tidak mencapai sebelas persen dan IPK 0. Pada semester IV, Yeni kembali mendapatkan IPK 0. Hal itu mengakibatkan dia tidak lulus evaluasi empat semester pertama yang mensyaratkan mahasiswa harus lulus minimal 30 SKS dan IPK minimal 2,0. Berdasarkan pedoman akademik, mahaiswa yang tidak dapat memenuhi syarat tersebut dinyatakan drop out.

Surat peringatan

Baca juga  Launching Pik-M Lingkar Seroja

Pada 16 Maret lalu, saat ditemui Arena, Yeni juga menyatakan bahwa salah satu hal yang mengganjal adalah pihak kampus menyatakan bahwa surat peringatan sama dengan pernyataan. Sementara itu, menurut Arif, surat pernyataan memang sudah mengandung peringatan.

Menanggapi ini, Wakil Rektor II Sutrisno mengatakan bahwa yang benar adalah yang telah tertera pada buku pedoman akademik. Di sana dijelaskan bahwa mahasiswa dengan IPK di bawah 2,0 diblokir oleh sistem. Kemudian dia harus mengunduh surat peringatan dan mengahadap kaprodi untuk mendapatkan bimbingan akademik. Selanjutnya mahasiswa menandatangani surat pernyataan bermaterai enam ribu sebagai respon surat peringatan dan meminta tanda tangan kaprodi dan wakil dekan I. Surat pernyataan itu di serahkan ke PTIPD agar pemblokiran pembayaran SPP dibuka.

Menurut Sutrisno, perbedaan tersebut tidak lain karena pemahaman yang berbeda-beda.  Sehingga tidak bisa saling menafikan dan tidak usah saling melemahkan. “Jadi kalau yang  dipegang universitas, sesuai hasil dari RKU, ya, yang ada di pedoman akademik ini,” terangnya menjelaskan pada 31 Maret lalu di gedung rektorat.

Rekam medis masuk setelah DO

Secara teknis bukti surat keterangan sakit Yeni dibuat pada tanggal 27 Januari 2016. Artinya, sebelum SK DO diturunkan pihak universitas tidak menerima surat tersebut.  Rekam medis itu menyatakan bawa Yeni merupakan pasien rawat inap pada tanggal 15-19 November 2013 dan 8-11 Januari 2014. Namun IPK semester I tersebut masih memenuhi standar akademik.  Rekam medis selanjutnya hanya menyatakan bahwa dia sakit pada 10-16 Juni 2015 ketika UAS semester IV dilaksanakan dan IPK Yeni 0. Arif juga menyatakan bahwa Yeni tidak dapat membuktikan surat keterangan sakit tersebut.

Sementara itu, menurut Zainudin Wakil Dekan II Fakultas Dakwah, dirinya sudah menjalankan tugas sesuai prosedur.  Pada umumnya, jika ada mahasiswa yang terkena masalah dia yang mendatangi pembimbing akademiknya untuk kemudian menceritakan apa masalahnya.  Namun Yeni tidak demikian, sementara tidak mungkin pembimbing akademik menghubungi atau mengecek mahasiswa yang dibimbingnya satu-satu.

Baca juga  Islam dan Narasi Perjuangan

“Saya nggak tahu letak miss-nya di mana. Yang jelas saya sebagai DPA, normal saja. Saya sudah menjalankan kepenasihatan sebagaimana umumnya.  Jadi mahasiswa datang, nanya, masalahnya apa, konsultasi apa, baru,” terangnya.

Ketika semester II Yeni jarang masuk, Zainudin mengaku tidak mengubungi, karena Yeni tidak mengontaknya. Bahkan teman kelasnya tidak mengetahui.  “Buktinya, dia sakit ada yang ngontak sama saya, saya datangi di kosnya,” jelasnya. Sementara itu, sampai sekarang (12/4) Yeni tidak memberi respon saat dihubungi Arena

Magang: Syakirun Ni’am

Redaktur: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Share:

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of