Islam dan Hegemoni Kapital

Oleh: Abdul Rohman*

Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Tuhan untuk mengatur kehidupan manusia demi terciptanya kehidupan yang harmonis serta memberi rahmat bagi seluruh alam. Islam sebagai agama pamungkas mempunyai tanggung jawab yang berat untuk mengarahkan pemeluknya sesuai dengan perintah Tuhan, baik kehidupan di dunia maupun kehidupan nanti di akhirat. Melihat orientasi yang terpaku dalam dua fase kehidupan inilah, Islam mempunyai dua aspek dasar yang sangat berpengaruh. Pertama, aspek teologis dan kedua, sosiologis. Dua aspek ini mempunyai implikasi yang berbeda namun mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk mencapai ridho Tuhan serta kemanfaatan sesama.

Dalam menjalani kehidupan, Al-Qur’an dan sunnah nabi menjadi landasan hidup demi terwujudnya kemaslahatan baik di dunia maupun di akhirat. Sehingga makna aspek teologis seperti diturunkannya agama Islam tidak hanya berkaitan manusia dengan Allah semata (hablumm minallah), namun juga sangat berkaitan erat dengan (hablumminannas), yaitu hubungan dengan sesama manusia.

Namun, dari kedua aspek pokok tersebut, hubungan sosiologis masih dipandang sebelah mata di kalangan umat muslim. Kesolehan beragama seseorang hanya diukur dari nilai rutinitas ubudiyah semata, tanpa adanya pemaknaan dan implementasi yang nyata dalam tataran kehidupan sosial. Hal inilah yang memicu penyakit sosial yang sampai hari masih menjadi persoalan di kalangan masyarakat muslim dunia saat ini. Keterbelakangan sosial, kemiskinan, diskriminasi menjadi tantangan bersama bagi umat muslim hari ini.

Realita sosial yang terjadi di umat muslim hari ini memang sangat ironi. Kebanyakan negara-negara yang mayoritas berpenduduk beragama Islam, masuk dalam kategori negara dunia ketiga yang identik dengan negara miskin, terbelakang, dan belum berkembang. Banyak sekali masyarakat muslim yang masih hidup dalam jeratan kemiskinan dan penindasan, baik dalam bentuk struktural maupun teraleniasi dalam selubung hegemoni kapital.

Ini mengisyarakatkan bahwa ada persoalan besar di tengah mayarakat muslim saat ini, terkait dengan basis ekonomi yang melatarbelakangi timbulnya persoalan-persoalan tersebut. Apakah kemisikinan yang terjadi di masyarakat muslim dikarenakan faktor internal, yaitu basis teologi muslim yang diturunkan Tuhan untuk mengatur jalannya hidup manusia kurang progresif dan revolusioner? Ataukah terdapat faktor eksternal, yaitu pemiskinan struktural yang dilakukan oleh sistem ekonomi global dunia yang selalu bekeinginan menumpuk kapital.

Dua asumsi ini menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi para intelektual muslim saat ini untuk membongkar selubung yang ada di tengah masyarakat muslim kita saat ini. Dalam asumsi pertama, secara basis teologis Islam mempunyai dasar yang kuat untuk membantah wacana Islam yang kurang progresif dalam membela kaum tertidas, mengencam bentuk-bentuk penindasan. Islam tidak hanya memberikan seruan moral kepada pemeluknya agar selau mengecam dan melawan segala bentuk eksploitasi kaum miskin dan orang-orang yang tertindas semata, namun juga mengancam bagi dunia muslim yang berdiam dalam melihat penindasan.

Fakta ini dapat kita lihat dalam ayat Al- Qur’an firman Allah yang berbunyi,”Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi”. (Q.S Al Qashash : 5). Dalam ayat ini secara tegas menyatakan bahwa Islam sangat memperhatikan kepada orang-orang yang tertindas dalam kehidupan di muka bumi ini. Bahkan memberi kedudukan yang cukup tinggi dalam mewarisi bumi.

Adapun juga dalam ayat yang lain juga di sebutkan, “Dan mengapa kamu tidak mau berjalan di jalan Allah dan membela orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan dan anak-anbak yang berdo’a, ‘Ya Tuhan kami, dan keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung di sisi- Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.” (Q.S. An-Nisa :75).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa memperhatikan orang-orang yang lemah dan tertindas merupakan seruan Tuhan yang harus dilakukan. Manusia harus selalu memperhatikan dan memberi pertolongan, karena memperhatikan dan ikut andil dalam upaya bersama-sama memperjuangkan nasib dalam memperoleh perubahan adalah perintah Tuhan.

Kedua ayat ini sangat jelas, menyebutkan bahwa secara basis teologis keberpihakan Islam kepada orang-orang yang lemah dan tertindas sudah disyariatkan Tuhan untuk para pemeluknya, meskipun pada akhirnya syariat yang progresif ini masih berhenti dalam seruan moral dan tata nilai semata. Dan yang menjadi tugas bersama adalah bagaiman modal teologis ini mampu memberi spirit dan solusi atas persoalan-persoalan sosial yang di hadapi masyarakat muslim hari ini. Agar modal teologis yang berhenti dalam tataran wacana diskusi itu mampu berubah menjadi aksi.

Kemunduran Islam dan hegemoni kapital

Kapitalisme hingga hari ini masih menjadi sistem ekonomi yang dipercayai dunia sebagai sistem yang paling layak untuk memecahkan persoalan masyarakat. Sistem yang muncul pada awal abad ke 18 ini menjadi sistem yang dipakai hampir negara di seluruh dunia. Tak terkecuali oleh negara muslim.

Keberhasialan sistem kapitalisme yang disokong oleh negara barat menjadi kekuatan dunia yang belum tertandingi dan bahkan semakin menancapkan taringnya dengan menyebarnya Multi National Corporation (MNC) yang disebar di penjuru dunia. Neoliberalisme pasar menjadi hal yang tidak bisa dielakkan dalam sistem dunia saat ini dan seperti yang dikatakan Karl Marx bahwa dalam setiap bertumbuhnya kapitalisme, penindasan dan eksploitasi itu adalah hal yang selalu mengiringi. dengan demikian hegemoni yang dilakukan barat dalam mengeksploitasi dan menimbun kapital kepada negara-negara dunia ketiga saat ini menjadi hal yang tak bisa dipungkiri.

Dalam posisi yang seperti ini, bagaimana posisi masyarakat muslim yang berada dalam negara-negara yang telah terhegemoni kapitalisme global, peran seperti apa yang dapat diambil oleh masyarakat muslim dalam menyikapi bertumbuhnya kapitalisme saat ini.

Gerakan penyadaran terhadap realita yang ada saat ini, menjadi hal paling realistis yang dapat dilakukan, mengingat budaya kapitalisme telah menjadi budaya baru di tengah-tengah masyarakat kita.

Melihat realitas yang semakin carut marut di dunia saat ini, marwah perlawanan dalam masyarakat muslim harus selalu ditumbuhkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sosial. Tidak hanya berhenti dalam tataran wacana kesadaran pasif namun mampu menumbuhkan kesadaran aktif seperti apa yang dikatakan Hasan Hanafi seorang pemikir kiri Islam dalam bukunya Min Al Aqidah Minas Tsaurah, “kesadaran individu dan pengorganisiran massa tidak akan tercapai tanpa adanya revolusi tindakan, tidak hanya dengan diskusi dan tukar pemikiran”. Pemupukan kesadaran massa atas hal yang terjadi hari ini menjadi hal yang wajib dalam upaya mencegah atau paling tidak menghambat hegemoni kapital dunia saat ini.

Kerja-kerja sosial yang bersentuhan langsung dengan basis massa di akar rumput harus selalu digerakkan. Maka modal teologis yang secara jelas memberi seruan untuk melwan terhadap kezaliman perlu selalu disuarakan dalam mimbar-mimbar keagamaan yang masih dipercayai masyarakat sebagai sumber suci yang disakralkan. Perlu peran elit keagamaan muslim yang harus mampu mengkontekstualisasikan teks yang ada dalam semangat zaman masing-masing.

Demi mencapai kemaslahatan yang menjadi cita-cita bersama memang tidak hanya dengan mengkritisi dan berwacana untuk merubah keadaan semata. Perubahan dan gerakan penyadaran akan mampu terwujud ketika ada penggerak pertama yang paham dan bersedia berjuang dalam merubah keadaan.

Orang-orang Islam yang mengetahui dan mengerti terhadap persoalan diharapkan siap dan merelakan hidup untuk melaksanakan tugas kenabiaan demi merubah dan memperbaiki zaman, namun inilah yang harus selalu kita upayakan sebagai umat Islam. Semoga umat Islam seluruh dunia tidak hanya memfokuskan kehidupannya hanya untuk ibadah semata, namun juga dibarengi dengan kehidupan sosial bermasyarakat dan kemajuan umat Islam.[]

*Penulis mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) UIN Sunan Kalijaga. Saat ini bergiat di Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi (KMPD).

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of