Pesan Revolusi Bulan Suci

Pesan Revolusi Bulan Suci

Oleh: Ajid Fuad Muzaki*

Tak sedikit dari umat Islam yang salah mengartikan bulan puasa, bulan puasa yang seharusnya menjadi sarana untuk menjadikan manusia menjadi manusia sesuai kondradnya dalam konteks sosial (hablum minannas) dan menjadi manusia yang dekat kepada tuhan (hablum minallah), bukan menjadi manusia yang malas dengan tingkat konsumsi tinggi. Alhasil puasa hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga, dalam artian membatasi waktu makan, minum hingga pada saat buka puasa menjadi ajang balas dendam setelah menahan lapar dan dahaga sehari penuh.

Pada zaman Nabi Muhammad bulan puasa dijadikan momen untuk menegakkan keadilan seadil-adilnya berjihad melawan musuh-musuh Islam. Bisa dilihat pada peristiwa-peristiwa bersejarah umat Islam pada bulan puasa, misalnya Fathul Makkah (Penaklukan Kota Makkah), Perang Badar, dan rentetan-rentetan peristiwa lainnya. Dalam hal ini jelas Nabi Muhammad sang revolusioner agung kita mengajarkan kita untuk tidak sekedar menahan lapar dan dahaga. Sebagai muslim yang revolusioner tentunya kita memaknai dengan seadil mungikin dalam artian menempatkan puasa sebagai bulan suci yang penuh berkah.

Puasa dan semangat anti kapitalisme

Kapitalisme tak pernah memandang objek maupun subjek, yang menjadi tujuan utamanya adalah profit atau keuntungan berlipat, dengan konsekuensi pihak pekerjalah yang menhjadi korban dari kapitalisme. Dalam hal ini buruhlah yang menjadi kelas tertindas. Pada bulan ramadhan kapitalisme membungkus dirinya menjadi sebuah kemasan islami, produk-produknya dipasarkan dan diiklankan seislami mungkin untuk meningkatkan minat beli konsumen. Alhasil saat bulan puasa dan menjelang lebaran banyak produk-produk yang diiklankan menggunakan dalil-dalil Islam entah itu makanan, minuman, maupun pakaian semuanya berlabel halal dan syar’i. Meminjam istilah Hebert Marcuse “kapitalisme lanjut” yang menciptakan cara berpikir masyarakat yang berdimensi tunggal (One Dimentional Man) dalam hal ini peran negara sangat kelihatan dengan kebijakan-kebijakanya. Misalnya yang menjanjikan jaminan sosial bagi pekerja di sektor PT dengan menerapkan UU No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Singkatnya solusi tersebut membuat masalah atau kesukaran disingkirkan tanpa mengubah tatanan masyarakat. Sistem tetap berlanjut dan buruh tidak akan memberontak setelah dihisap segala nilai dalam dirinya, dalam hal ini buruh terninabobokan oleh sistem dan regulasi pemerintah, dan ironisnya manusia sama sekali tidak menyadarinya.

Baca juga  PUISI-PUISI BERNANDO J. SUJIBTO: MATA NAZAR

Perubahan pola konsumsi juga menyebabkan sifat-sifat yang kontra-revolusi yang membawa manusia dalam satu dimensi. Hal ini bisa di buktikan dengan hampir sama kebutuhan baik itu borjuis, buruh maupun kelas-kelas lain, misal, TV, smartphone, bahkan mobil. Dalam hal ini media massa juga berperan penting dalam menggiring masyarakat dalam dimensi tunggal, misalnya iklan di televisi yang mengatakan bahwasanya cantik itu “putih”, sembari memberi produk pemutih kulit. Baik kaum buruh maupun borjuis, mereka terpengaruh seolah-olah membutuhkan produk tersebut.

Momentum puasa adalah paling tepat untuk menumbuhkan semangat anti kapitalisme, dengan menerapkan hakikat sebenarnya dari puasa tersebut dengan menahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa. Dalam hal ini menahan nafsu untuk tidak menjadi manusia yang konsumtif juga termasuk dalam berjihad melawan kapitalisme. Andaikata setiap umat muslim memaknai puasa sebagai semangat anti kapitalisme besar kemungkinan kapitalisme akan runtuh, dengan alasan produksinya terus berlanjut tetapi tingkat konsumsi rendah. Jika hal itu benar-benar terjadi maka islam sudah benar-benar menjadi agama rohmatallil ‘alamin, memberi manfaat bagi apa dan siapa. Subhanalloh sekali.

Puasa sebagai semangat teologis

Aliran-aliran sufi kebanyakan memaknai puasa sebagai Tazkiah An-nafsah dalam artian pengendalian diri dari nafsu sebagai manifestasi mengengendalikan pola hidup dan sebagai jalan menuju penyucian diri. Dalam hal ini jelas pesan penting dalam puasa adalah mendekatkan diri pada Tuhan entah pendekatan lewat ibadah ibadah sosial ataupun ibadah langsung seorang hamba kepada Tuhan. Dalam aspek sosial pada bulan puasa ada yang benar-benar ditekankan yakni tentang zakat fitrah, atua zakat untuk mensucikan jiwa. Manusia sebagai makhluk pendatang dari langit ke dunia, seharusnya memberikan sebagian dari yang dimilikinya untuk orang lain yang tidak punya atau telat datang ke bumi. Membersihkan unsur-unsur nilai lebih yang diambil terlebih dahulu dari manusia lain yang datangnya terlambat atau yang tidak diuntungkan oleh sistem dalam hal ini bisa dimaknai sistem kapitalisme, karena kuasa takdir sekarang ini kalah sama kuasa kapitalisme.

Baca juga  RRI Bangkitkan Jiwa Nasionalisme Mahasiswa Lewat Konser Kebangsaan

Dalam zakat juga bisa ditarik kedalam ibadah yang bersifat vertikal hubungan hamba langsung dengan Tuhan. Dengan berzakat kita sebagai umat Islam senantiasa mengingat bahwa segalanya adalah milik Tuhan dan segalanya akan kembali pada-Nya, singkatnya seperti itu,

Dan akhirnya walaupun bulan puasa semangat “Revolusi” harus tetap ada dan tetap bergemuruh.

 

SarKeM, 7 Romadhan 1437 H

 

*Penulis mahasiswa  Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga. Saat ini aktif beramar ma’ruf-nahi munkar di LPM Arena dan KMPD.

Komentar

komentar

Share:

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of