Berkarya? Pamerkan Saja!

Berkarya? Pamerkan Saja!

Lpmarena.com, Suatu karya yang lahir selalu mempunyai dua kemungkinan, disimpan atau dipamerkan. Orang menghabiskan waktu untuk mencari, membentuk, bereksperimen dengan semua kemungkinan demi menghasilkan apa yang dinamakan karya. Proses inilah yang ditarik oleh enam seniman: Budi Kustarto, Dewa Ngakan Ardana, Iskandar Fauzy, Kokok P. Sancoko, M. Irfan, dan Wilman Syahnur dalam pameran seni rupa bertajuk “Pamerkan Saja!”.

Pameran yang digelar di Bentara Budaya Yogyakarta dari tanggal 14-22 Juni 2016 tersebut seperti yang dikatakan Sindhunata, mencoba menembus segala macam rasa takut dengan mengkomunikasikan sebuah karya kepada publik.

“Judul pameran ini menaraik; Pamerkan Saja! Kita selalu enggan berkarya. Takut ini, takut itu, kuatir. Tapi bagi saya seni itu nekat. Bagaimana pun kreatifitas sekecil apapun harus dikomunikasikan, pamerkan saja,” ujar pria yang juga kerap dipanggil Romo Sindhu dalam pembukaan pameran, Selasa (14/06/2016).

Romo Sidhu menjelaskan perupa umumnya tak punya kata-kata untuk menggambarkan karyanya. Pameran begitu kaya dan sedikit seniman yang mampu mengembangkan dalam kata-kata. “Harus mencoba merasakan apa yang di balik perupa,” ujarnya.

pamerkan-saja (2)

Seperti yang tergambar dalam lukisan Budi Kustarto berjudul “Aku, Taman Bunga, dan Kuda”, bagi Romo Sindhu lukisan tersebut Budi sulit melukiskan pada kata-kata akan kesukaan dia pada warna hijau. Di lukisan ini digambarkan ada seorang manusia yang mengunggangi kuda berwarna hijau di sebuah taman. Sebagai lambang lukisan Budi, kuda mewakili keadaan jujur akan kondisi alam yang sebenarnya, sedangkan  manusia jauh dari kehijauan.

“Yang saya rasakan juga dari lukisan Budi, dari dalam kuda begitu banyak hal-hal yang mengkhawatirkan. Suatu kerinduan akan kehijauan, sebuah bangunan yang begitu rusak,” ucapnya.

pamerkan-saja (1)

Ada pula karya di mana ada lukisan yang di depan lukisan tersebut ada patung Cut Nyak Dien yang datang seperti melompat. Seperti keluar meregang dari lukisan ke tubuh patung. Hal ini bagi Romo Sindhu menggambarkan bagaimana seni rupa bisa menciptakan dinamika. Semua sejarah ada pada dinamikanya. “Membawa suatu kesunyian yang luar biasa. Dalam kesunyian orang bisa terbang,” kata penulis senior  Kompas dan majalah Basis ini.

Baca juga  Pameran Choir of The Mischief Merespon Sejarah Secara Nakal

Reporter dan Redaktur: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of