Labyrinth of Lies: Membongkar Kesenyapan

Negara ingin “lapisan gula”, bukan kebenaran.

Pagi-pagi sekali, ribuan orang yahudi itu tiba dalam keadaan lapar dan sangat kedinginan. Mereka dikelilingi pasukan SS dan anjing-anjingnya. Mereka membentuk barisan, panik, dan sebagian dimasukkan truk, dibawa pergi. Dalam kepanikan dan ketakutan itu, datang seseorang mengenakan pakaian dokter, lengkap dengan sarung tangan putihnya. Ia tampak tenang dan bersahaja. Orang itu lalu mendatangi Ruth dan Klara, kedua putri Krisch. Ia berlutut dan membelai kepala kedua anak gadis itu sambil berkata, “kalian gadis kembar yang lucu, aku akan membawa kalian ke posku.”

Krisch yang mengira orang itu dokter merasa aman saat kedua putrinya dibawa pergi. Tapi orang itu menyiksa mereka dengan eksperimennya. Disuntik virus, tifus, TBC, dan difteri. Membedah mereka tanpa obat bius. Membuang organ-organnya. Ia memasukkan jarum-jarum di kepala mereka, dan menjahit mereka berhimpit saling membelakangi.

Krisch mulai menangis saat menceritakan peristiwa itu beberapa tahun kemudian pasca tumbangnya Hitler. Krisch adalah salah satu yahudi yang selamat dari kamp Auschwitz. Cerita ini merupakan salah satu kesaksian dalam sebuah investigasi yang dilakukan seorang jaksa dari Frankfurt, Radmann, dan seorang jurnalis, Gnielka. Keduanya tertarik untuk melakukan investigasi ini setelah menemukan banyak algojo sadistik dari Auschwitz yang tidak didakwa. Mereka bebas berkeliaran dan melakukan kerja sehari-hari layaknya orang tak berdosa di masyarakat tanpa menerima sanksi apapun.

Investigasi tersebut tentu saja mendapat kecaman dari banyak pihak, bahkan beberapa orang dalam kantor kejaksaan. Mereka beranggapan pengungkapan semacam ini hanya akan membuka luka lama yang baru saja akan sembuh. Dalih lain adalah bahwa para pelaku itu hanya menjalankan tugas, karena kalau tidak konsekuensinya adalah dibunuh. Namun hal ini tak menyurutkan niat Radmann. Generasi muda harus tahu tentang kejahatan yang dilakukan oleh orangtuanya.

Radmann sendiri adalah orang yang sangat patuh hukum. Semua langkah harus ditempuh secara konstitusional. Pernah pada suatu ketika ia menangani sidang seorang perempuan (yang nantinya akan menjadi kekasih Radmann) karena melanggar rambu lalulintas. Perempuan itu mendapat denda sebesar 50 Deutch Mark (DM), namun ia tak mampu membayar. Pimpinan sidang berinisiatif mengurangi dendanya menjadi 25 DM dan si perempuan harus berjanji agar tidak mengulangi kesalahannya. Namun Radman tidak menyetujuinya, ia tetap berpegang pada konstitusi bahwa denda tak boleh kurang dari 50 DM. Tapi karena perempuan itu tak punya uang, maka Jaksa Radmann meminjamkan uang pribadinyanya pada si perempuan.

Perburuan Radman terhadap para pelaku kejahatan perang ini mendapat tangkapan besar kala ia masuk ke pusat arsip. Dari data yang ia temukan, Radmann mendapati setidaknya 8000 anggota SS yang bertugas di Auschwitz. Dari jumlah ini, Ia mulai menyortir sekiranya mana saja nama yang masih berkeliaran dan cukup kuat untuk diadili. Usahanya yang mendapat dukungan dari pihak kementerian juga dibantu oleh polisi untuk menangkapi para pelaku. Dengan kesaksian dari 211 korban selamat, Ia berhasil mengadili 19 anggota SS, termasuk komandan terakhir Auschwitz, Richard Baer. Sidang itu dilangsungkan pada 1963 dan merupakan persidangan terbesar sepanjang sejarah Jerman.

Sebelum itu juga sebenarnya sudah ada pengadilan yang dilakukan di Nuremberg, 20 November 1945. Pengadilan Militer Internasional ini diselenggarakan oleh sekutu dan berhasil mendakwa 24 orang pejabat dibawah bendera Nazi. Mereka dituntut atas dakwaan keejahatan perang, kejahatan kemanusiaan, dan konspirasi untuk melakukan kejahatan pada perdamaian. Namun pengadilan ini tak memberi pengaruh banyak bagi masyarakat Jerman. Selain karena yang mengadili adalah pihak penakhluk Jerman di Perang Dunia 2, juga karena masih kuatnya propaganda Nazisme di kepala masyarakat.

Tumbangnya Hitler tak serta-merta mengakhiri sejarah Nazi. Orang-orang partai masih ada dimana-mana, mereka bekerja seperti warga biasa, sebagai pegawai negeri, guru, tukang kayu, tukang roti, dlsb. Nazi yang sudah sangat mendarah-daging membuat rakyat Jerman enggan untuk mengetahui kebenaran sejarah. Mereka lebih suka hidup dalam lingkaran kebohongan, perdamaian semu. Padahal bagi korban yang sempat merasakan kejamnya kamp yahudi, hari-harinya dipenuhi oleh teror. Tapi karena posisi mereka adalah minoritas, mereka hanya bisa terdiam dalam senyap. Seolah tak terjadi apa-apa.

Satu-satunya harapan untuk membongkar kesenyapan ini adalah generasi muda. Generasi yang tak sempat merasakan derasnya propaganda hegemonik dari rezim militeristik itu. Generasi polos yang masih memiliki cita-cita besar. Radmann lahir di generasi ini, ia bertekad untuk membawa angin perubahan bagi negerinya. Kegaduhan yang timbul bukan alasan untuk urung menyingkap tabir kelamnya sejarah secara fair. Meski Auschwitz hanya sebagian kecil dari kejahatan Nazi, ini merupakan titik balik penting bagi Jerman.

Pengakuan dosa dan permintaan maaf dari negara baru berlangsung 7 tahun setelah persidangan. Hal itu ditandai oleh Gestik Kanselir jerman, Willy Brandt pada 1970 yang bertekuk lutut sambil meletakkan karangan bunga di monumen peringatan Getto. Sementara dari Presiden sendiri baru menegaskan pengakuan itu pada 1975, ia mengatakan seluruh peristiwa kelam itu adalah tanggung jawab Jerman. Kebenaran sejarah itu pun mulai dikabarkan pada generasi berikutnya lewat pelajaran-pelajaran di sekolah yang dengan tegas menyebut bahwa tindakan Nazi kala itu adalah sebuah kejahatan negara.

Hal serupa sayangnya tak terjadi di Indonesia. Rangkaian kasus pelanggaran HAM yang didalangi oleh rezim Soeharto tak pernah dengan serius ditangani oleh pemerintah. Korban ’65 masih terus mencari keadilan, sementara keluarga mahasiswa korban Semanggi dan Trisakti hingga kini tak henti menggelar aksi kamisan. Generasi tua yang setiap tahun dicekokki film pemberontakan PKI sampai kini masih paranoid dengan hal-hal berbau kiri. Dan beberapa diantaranya justru rindu dengan kepemimpinan Soeharto dengan menempel stiker yang bertuliskan “Pie kabare? Iseh penak jamanku to?”. Soeharto yang duduk di kursi presiden hingga 1998 nampaknya telah menanamkan propaganda yang jauh lebih hegemonik dibanding Hitler.

Judul: Labyrinth of Lies | Sutradara: Giulio Ricciarelli | Pnulis: Elisabeth Bartel | Pemain:  André Szymanski, Alexander Fehling, Friederike Becht | Rilis: 2014 | Peresnsi: Lugas subarkah | Sumber gambar: nationalpostcom.files.wordpress.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of