Renovasi Tragis di “Balada Joni dan Susi” Melancholic Bitch

Intro

Pernahkah Anda mendengar musik yang membawa Anda seperti membaca sebuah novel tebal yang kompleks antara sepasang kekasih dari kelas sosial marjinal? Jika belum, Melbi melakukannya untuk Anda. Sejak akhir 90-an, band indie asal Jogja bernama Melacholic Bitch (Melbi) hadir menjadi antitesa musik icik-icik kala itu. Melbi dimotori oleh Ugoran Prasad, yang sialnya juga seorang sastrawan dan pegiat teater.

Melancholic Bitch memang bukan grup populer yang tiap tahunnya entah genap konser sebanyak sepuluh kali atau tidak. Sepertinya juga Melbi tak pernah ingin menjadi terkenal. Bisa dilihat dari fans club-nya di twitter hingga saya menulis ini (20 Juni 2016) belum mencapai 3.700 pengikut atau fanpage fesbuk yang tidak genap 7.900 penyuka, padahal Melbi sudah bereksistensi saat Parkinsound di Jogja masih rutin digelar tahunan. Sungguh fanbase yang megap-megap. Bagi Ugo sendiri yang menganggap konsep fans club sebagai hal yang menjijikkan ini lebih ingin melakukan kesadaran publik lewat lagu, daripada sekedar pamer teknik  vokal.

Tak seperti  band cult atau grunge, grup yang lebih suka disebut Musik Kolektif daripada dipanggil band ini dalam penggarapan salah satu albumnya berjudul Balada Joni dan Susi (untuk selanjutnya disingkat BJS) dibuat dengan narasi serius yang hadir dari keadaan sosial. Tema yang diangkat, seperti  pelarian, kelaparan, pencurian, atau media massa. Ini berbeda dengan kebanyakan para produsen lirik (dari departemen cinta) yang kebanyakan mebuat lirik cinta dengan sebegitu lebainya, dengan dramatisasi yang dibuat-buat seolah langit mau runtuh, haruskah kumati tanpa cintamu, dan dunia hanya milik kita berdua. Prek!

Chorus

Diawali dengan lirik yang pekat dalam lagu pembuka berjudul Intro: “/Ketika Joni dua satu dan Susi sembilan belas, hidup sedang bergegas di reruntuhan ruang kelas. Kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas, dingin, dan cemas. Namaku Joni, namamu Susi. Namamu Joni, namaku Susi./”  Preambule ini secara intrinsik mengatakan bahwa aku dan kamu sebenarnya adalah Joni dan Susi. Balada ini merupakan kisah universal yang mungkin dialami siapa saja dalam skena kehidupan.

Usai berkenalan, lagu disusul dengan acara Bulan Madu, prosesi yang paling ditunggu-tunggu pengantin baru sejagat. Dan adakah bulan madu yang lebih konyol daripada bulan madu Joni dan Susi? Usai pelariannya, sejoli ini melakukan bulan madu imajiner. Mereka seperti kebanyakan pasangan-pasangan hedonis manapun di muka bumi melakukan perjalanan-perjalan romantis ke Venesia, juga ingin ke Oslo dan Budapest. Di kanal-kanal Venesia, Melbi mencoba membangun bayangan imajinasi Joni dan Susi seperti kisah kanonik di adegan Titanic antara Kate Winslet dan Leonardo DiCaprio ketika membentangkan tangan, berpelukan, di atas kapal sambil memejamkan mata. Namun imajinasi mereka harus disudahi seusai perlawatannya dari Nepal, karena kapal dikendarai tidak terlalu kencang, dan mereka belum sempat menikmati indahnya Rio De Janeiro, Lima, dan Capetown.

Hari Senin sampai dengan Minggu, Joni dan Susi menciptakan dunia mereka  dalam lagu Tujuh Hari Menuju Semesta. Diawali dari hari Senin yang mana Joni merayu Susi dengan sangat sarkas, “lukai aku, belah dadaku, makan jantungku, renggut hatiku…” Di hari Selasa lebih ganas lagi, “jika waktu berpihak padaku, ijinkanlah kumelukaimu. Ijinkalah kupetakan tubuhmu…” Di hari Rabu muncul paradoks-paradoks renyah:

“Segalanya adalah seluruhnya.

Jika aku Israel, kau Palestina.

Jika aku Amerika, kau seluruh dunia.

Jika aku miskin, kau negara.

Jika aku mati, kau kematian lainnya.”

Paradoks seperti ini pernah saya dengar di lagu Kita Mungkin karya Sisir Tanah dengan paradoks yang juga sangat padat nan teduh-menyentuh. Coba bandingkan:

Baca juga  Menutup Mata dengan Sensor

“Jika kau mengalir sebagi dusta, aku adalah kata.

Jika kau dendam, aku sebagai damai.

Jika kau berhembus sebagai maut, aku adalah waktu.

Jika kau dosa, aku sebagai doa.”

Lagu Melbi dan Sisir Tanah ini bagi saya benar-benar menggambarkan penindasan sesungguhnya yang coba diredam dengan semacam hubungan tesa-antitesa. Kembali ke BJS, lagu Tujuh Hari Menuju Semesta ini disusul lagu yang juga paradoks dari utopia, yakni Distopia. Di single ini Ugo berduet dengan pesinden Silir Pujiwati. Lagu ini menjadi semacam janji yang begitu khusyuk yang didoakan para pecinta, janji setia dan bersama selamanya. Tapi bagi saya lagu ini menjadi lagu paling dangkal di antara lagu yang lain. Alih-alih mengajak realistis, Joni dan Susi justru terjebak dalam semesta yang sempit akan kebutaan asmara. Mungkin sama lullaby-nya dengan lagu berjudul amat kitabis, Nasihat yang Baik. Menggambarkan gambar-gambar kelelahan, usai Susi berheroik ria di kehidupan yang serba cadas. Maka jalan satu-satunya untuk berhenti sementara ialah tidur. Ya, tidurlah. Sudahi cemasmu.

Disusul lagu “Propaganda Dinding”, lagu ini menjadi lagu paling anthemic dari semua lagu yang saya dengar di album BJS. Racikan gitar, drum, dan keyboradnya yang meski tak liar berhasil membuat saya mabuk menikmati single  yang sepertinya dibuat saat penciptanya kelaparan. Ekstasinya seperti mendapat nilai 100 di ujian Fisika Statistik usai belajar semalam suntuk. Meski asyik, saya seperti gelas yang jatuh dari meja di atas lantai marmer ketika meresapi liriknya: pecah, dingin, mengkhawatirkan, membuat merinding, dan cerdas. Susi mau mati! Sebentar lagi dia koit jika tak segera diberi nasi.

Dan ini bukan kisah Robin Hood, lebih genting dari itu. Awal lagu di single ini sebenarnya memberikan energi hidup di lirik: /Minggu pertama pelarian kita, tataplah mataku dan temukan telaga. Susi demam dan terbaring gemetar. Joni gusar dan tangannya terkepal. Miskin takkan membuatnya putus asa. Lapar memaksanya merasa berdaya/”.  Namun lapar tetaplah lapar, tak mungkin bisa melakukan konsensus idealisme pada orang lapar, karena tidak ada hal lain yang diinginkan selain makan. Meski betapa romantisnya Joni berikrar pada Susi, “takkan kubiarkan kau mati.” Joni nyaris gila, dia tak kerja, hidupnya di jalanan. Solusi satu-satunya si provokator brengsek, yakni dinding-dinding  yang berbisik pelan: CURILAH ROTI.

Di sisi lain, viral kapitalisme hadir lewat supermarket-supermarket yang tak pernah sepi. Di mana supermarket dan busung lapar adu lari hingga waktu kadaluarsa dibungkus roti. Viral kapitalisme ini dilanjutkan di Apel Adam. Di mana dikatakan bahwa pecurian telah merusak keseimbangan harga dunia! Sejak kapitalisme diselamatkan si gaek Keynes, sehingga sampai sekarang melalui peran bank dan negara kapitalisme tak juga mampus-mampus, pertarungan antar dua kelas, proletar dan borjuis masih menjadi masalah abadi hingga sekarang. Wajar kalau Marx yang malas cukur brewok itu sampai sekarang sepertinya arwahnya tidak tenang-tenang. Makin gentayangan di supermarket, mall, rumah sakit, terminal, bahkan sampai sekolah dan universitas.

Pun wacana klasik semacam Musa lawan Firaun menjadi wacana yang disukai publik terkait hubungan tengik antara rakyat melawan pemerintah. Masih di lagu Apel Adam, negara melalui kekuatan militernya yakni polisi, yang harusnya memiliki sikap Rastra Sewakottama (abdi utama rakyat), malah takluk oleh kepentingan kelas berkuasa. Dalam lagu digambarkan: jangan libatkan polisi di lagu ini.

Meski begitu album ini sebenarnya juga sarat dengan hal-hal politis. Terkait dengan pemerintah yang melalui komisi penyiarannya membuat masyarakat buta. Hingga Joni meminta Susi untuk mengajarkan pemerintah bagaimana mengeja, bahwa banyak jejak luka di penyiaran kita. Ini bisa dilihat di lagu Mars Penyembah Berhala dan Akhirnya Masup TV. Karena televisi, masyarakat jadi miskin imajinasi. Imajinasi telah dipepatkan dalam kotak ukuran 14 inchi.

Baca juga  Olah Rasa dan Upaya Menertawakan Kenormalan

Outro

Sayangnya ideologi partriarki di BJS begitu kental. Joni masih menjadi aktor yang mendominasi Susi yang sepertinya hanya sekedar pelengkap. Setiap keputusan seperti dimonopoli Joni, padahal Susi sebagai perempuan berhak memberontak. Susi dibuat seperti keracunan ingatan, hanya manut-manut saja, dan seolah dibungkam mulutnya oleh Joni. Sangat telihat jelas di gaya penceritaan lirik lagu, Joni’s driver. Ah, di lain waktu saya jadi tertarik ingin membandingkan narasi mereka yang lain, seperti di album Anamnesis (2004).

Album ini menjadi album terbuka yang bisa ditransformasikan ke dalam bentuk yang lain, khususnya sastra. Pesan ini sangat terlihat di lagu-lagu akhir: Menara yang menjadi puncak optimisme kehidupan manusia. Di mana Joni dan Susi mulai membangun basic structure ekonominya lewat kebun apel, lalu mendirikan kebutuhan primer lainnya yakni rumah (menara). Kisah semakin terenovasi di lagu sebelum Outro berjudul Noktah Pada Kerumunan. Lagu ini seperti menarik kuat-kuat semangat sosialisme dan emansipatoris antara Joni dan Susi di perjalanan akhir mereka. Sungguh manis: “/Jika kita bertemu di sudut sesak itu, lihatlah di wajahku dan temukanlah wajahmu. Kutatap matamu dan kutemukan mataku/”. Tentu Marx yang gentayangan itu akan menangis terharu melihat Joni dan Susi.

Di Bandung sana salah satu band indie Tigapagi dengan albumnya Roekmana’s Repertoire juga seperti menghadiahi kita sebuah perjalanan yang berlanjut. Namun, kisah dalam album ini bagi saya seperti kisah terpisah meski iramanya begitu menyatu dan amat halus pergantian tiap lagunya. Berbicara Tigapagi, karena BJS ini tema besarnya masih di cinta, saya jadi ingat dengan apa yang dinyanyikan Sigit Agung Pramudita dalam liriknya: Let me ask you, why do we need love anyway. If in the end it was all about feeding, breeding, and protecting?

Ya, musik-musik sekawanan dan semasa Melbi, seperti Fucktory, Bangkutaman, Agriculture, Elektrofuck, Armada Racun, FSTVLST, Efek Rumah Kaca, Navicula, atau lainnya, saya pikir musik folk dan balada tak akan masuk di orang-orang yang bertelinga banal yang mendengarkan musik hanya untuk sekedar eargasm. Dan nasihat moralis yang bisa saya tulis adalah sebelum mendengar sesuatu, revolusikan dulu telinga kita dengan mendengar jerit-jerit lingkungan.

Album Balada Joni dan Susi │ Artis Melancholic Bitch │ Personil Ugoran Prasad (Voice, Lyric), Yosef Herman Susilo (Electric-Acoustic Guitar, Mix-Engineer), Teguh Hari Prasetya (Bass, Keyboard), Yennu Ariendra (Electric Guitar, Synth, Laptop), Septian Dwirima (Percussion, Laptop); Collaborating Artist for BJS: The Wiryo Pierna Haris (guitar), Richardus Ardita (bass, voice), and Andy Xeno Aji (graphic, drawing)  │ Rilis 2009 │ Produksi Dialectic Recordings │ Genre Boredome Hell Yeah │ Distribusi Jogja, Bandung, Pantura, Kediri, Banyuwangi, dan agen-agen sealiran

Peresensi: Isma Swastiningrum, imam besar di semacam grup musik imajiner bernama Pilea Eureka, dengan dirinya sendiri, Akeboshi, Chris Martin, dan Bagus Dwi Danto sebagai anggotanya. Sibuk menjaga kewarasan di kondisi yang semakin edan. Berharap bisa lonjak-lonjak di konser underground Black Sabbath.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of